Saat membahas makanan untuk diet, banyak orang langsung terpikir dada ayam, oatmeal, atau Greek yogurt yang identik dengan pola makan sehat. Padahal, Indonesia memiliki bahan pangan yang jauh lebih terjangkau, mudah ditemukan, dan tidak kalah menarik dari segi kandungan gizi untuk mendukung program penurunan berat badan, yaitu tempe.
Kenapa Tempe Layak Disebut Superfood Lokal untuk Diet?

- Tempe mengandung sekitar 19–20 gram protein dan 5 gram serat per 100 gram, yang membantu rasa kenyang lebih lama serta menjaga massa otot saat berat badan turun.
- Proses fermentasi dengan jamur Rhizopus membuat zat gizi tempe lebih mudah dicerna, menurunkan asam fitat, dan membantu penyerapan mineral seperti zat besi, seng, serta kalsium.
- Dengan sekitar 190–200 kalori per 100 gram, lemak dominan tak jenuh, harga terjangkau, dan olahan beragam, tempe mendukung menu diet bila porsi serta cara masaknya diperhatikan.
Tempe juga mengandung protein, serat, vitamin, mineral, hingga senyawa hasil fermentasi yang memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan tubuh. Lalu, kenapa tempe layak disebut superfood lokal untuk diet? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
1. Kandungan proteinnya tinggi sehingga membantu rasa kenyang bertahan lebih lama

Tempe merupakan salah satu sumber protein nabati terbaik yang dimiliki Indonesia. Dalam 100 gram tempe matang terkandung sekitar 19–20 gram protein, jumlah yang bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan tahu yang rata-rata hanya mengandung sekitar 8 gram protein per 100 gram. Protein menjadi zat gizi penting saat diet karena membutuhkan waktu cerna lebih lama dibandingkan dengan karbohidrat sederhana, sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama.
Selain membantu mengurangi rasa lapar, konsumsi protein yang cukup juga berperan dalam menjaga massa otot ketika berat badan sedang turun. Hal ini penting karena penurunan berat badan yang ideal bukan hanya mengurangi angka di timbangan, tetapi juga mempertahankan otot agar metabolisme tubuh tetap optimal. Itulah sebabnya banyak ahli gizi menyarankan asupan protein sekitar 20–30 gram setiap kali makan utama untuk membantu mengendalikan nafsu makan selama diet.
2. Fermentasi membuat gizinya lebih mudah diserap tubuh

Keunggulan tempe dibandingkan produk kedelai lain bukan hanya terletak pada kandungan proteinnya, melainkan juga pada proses fermentasinya. Tempe difermentasi menggunakan jamur Rhizopus, proses yang membantu memecah senyawa kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna tubuh. Fermentasi juga menurunkan kadar asam fitat, yaitu senyawa alami pada kedelai yang dapat menghambat penyerapan mineral seperti zat besi, seng, dan kalsium.
Karena kandungan asam fitatnya berkurang, tubuh dapat memanfaatkan berbagai mineral tersebut dengan lebih efisien. Proses fermentasi juga menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung kesehatan usus dan metabolisme tubuh. Tidak heran jika tempe sering dianggap memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai yang belum difermentasi, meskipun berasal dari bahan baku yang sama.
3. Mengandung serat yang membantu mengontrol nafsu makan

Selain kaya protein, tempe juga menjadi sumber serat yang cukup baik untuk menu diet harian. Dalam 100 gram tempe terdapat sekitar 5 gram serat pangan yang berkontribusi terhadap kebutuhan serat harian orang dewasa. Serat bekerja dengan memperlambat pengosongan lambung sehingga rasa kenyang berlangsung lebih lama setelah makan.
Konsumsi serat yang cukup juga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, sehingga keinginan mengonsumsi camilan manis dapat berkurang. Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi serat berkaitan dengan risiko obesitas yang lebih rendah dibandingkan dengan pola makan rendah serat. Jika dipadukan dengan sayuran dan sumber karbohidrat kompleks, tempe dapat menjadi menu diet yang lebih mengenyangkan tanpa harus menambah banyak kalori lain.
4. Kalorinya relatif terkendali dengan kandungan lemak yang didominasi lemak tak jenuh

Banyak orang menghindari tempe karena menganggap kandungan lemaknya tinggi. Padahal, sebagian besar lemak pada tempe merupakan lemak tak jenuh yang lebih baik bagi kesehatan jantung dibandingkan dengan lemak jenuh. Dalam 100 gram tempe terdapat sekitar 190–200 kalori dengan kandungan lemak sekitar 10–11 gram, angka yang masih tergolong wajar untuk satu porsi lauk.
Meski begitu, yang perlu diperhatikan justru cara mengolahnya. Tempe yang digoreng menggunakan banyak minyak tentu akan menyerap tambahan kalori yang cukup besar dibandingkan dengan tempe kukus, rebus, dipanggang, atau dimasak menggunakan air fryer. Dengan metode memasak yang lebih sehat, tempe tetap bisa menjadi lauk bergizi tanpa membuat asupan energi harian berlebihan.
5. Murah, mudah didapat, dan mudah dipadukan dengan menu diet sehari-hari

Salah satu alasan tempe layak disebut superfood lokal untuk diet adalah karena manfaat gizinya dapat dinikmati oleh hampir semua kalangan. Berbeda dengan beberapa makanan sehat impor yang harganya relatif mahal, tempe tersedia di hampir seluruh daerah Indonesia dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Kondisi ini membuat pola makan sehat menjadi lebih realistis untuk dijalankan dalam jangka panjang.
Tempe juga mudah dikreasikan menjadi berbagai menu, mulai dari tumisan, salad hangat, grain bowl, hingga pengganti daging pada berbagai hidangan. Fleksibilitas tersebut membantu mengurangi rasa bosan selama menjalani diet, sehingga peluang mempertahankan pola makan sehat menjadi lebih besar. Ketika dikombinasikan dengan sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan aktivitas fisik yang rutin, tempe dapat menjadi salah satu komponen penting dalam pola makan yang mendukung penurunan berat badan.
Mengandalkan makanan sehat tidak selalu harus mahal atau berasal dari luar negeri karena bahan pangan lokal pun mampu menawarkan manfaat gizi yang tidak kalah baik. Kuncinya bukan sekadar memilih tempe sebagai lauk, tetapi juga memperhatikan porsi makan serta cara mengolahnya agar kandungan gizinya tetap terjaga. Kalau selama ini sedang menjalani diet, sudahkah tempe menjadi menu rutinmu?
Referensi
"Why Tempeh Is Very Healthy and Nutritious." Healthline. Diakses pada Agustus 2026.
"A review on health benefits and processing of tempeh with outlines on its functional microbes." Future Foods. Diakses pada Agustus 2026.
"Soy-Based Tempeh as a Functional Food: Evidence for Human Health and Future Perspective." Front Biosci. Diakses pada Agustus 2026.




















