Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dulu Dianggap Rendah, 5 Makanan Mewah Ini Punya Asal-usul Gak Terduga

4 min read
Dulu Dianggap Rendah, 5 Makanan Mewah Ini Punya Asal-usul Gak Terduga
ilustrasi sushi (unsplash.com/Luc Bercoth)
  • Lobster, tiram, dan caviar awalnya murah atau melimpah, dikonsumsi kalangan bawah; kelangkaan, kenaikan permintaan, serta adopsi bangsawan mengubahnya menjadi simbol kemewahan.
  • Sushi bermula sebagai metode pengawetan ikan dengan nasi fermentasi yang terjangkau bagi pekerja, lalu naik kelas setelah populer di Barat dan memakai bahan berkualitas tinggi.
  • Escargot yang dulu identik dengan makanan warga pedesaan menjadi hidangan bangsawan setelah sajian siput mentega karya Marie-Antoine Carême disukai Tsar Rusia dan diplomat Prancis pada 1814.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makanan kerap menjadi salah satu pemisah kelas sosial. Meski gak selalu terlihat, kadang ada perbedaan besar antara makanan yang dikonsumsi orang kaya dan mereka yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah. Biasanya, satu makanan dikategorikan sebagai makanan mewah karena bahannya yang langka atau proses pengolahan yang rumit, sehingga penyajiannya pun menjadi lebih eksklusif. 

Namun, percaya atau tidak, definisi makanan mewah tidak selalu sama setiap waktu. Beberapa makanan mewah yang sekarang kita temukan di restoran papan atas dulunya dianggap kurang berharga, lho. Berikut beberapa makanan mewah yang dulunya diperuntukkan bagi rakyat jelata!

  1. 1. Lobster

    ilustrasi hidangan berbahan lobster
    ilustrasi hidangan berbahan lobster (unsplash.com/Katie Musial)

    Di pertengahan abad ke-19, orang-orang kerap menyebut lobster sebagai "kecoa laut" karena penampilannya yang dianggap menyeramkan. Belum lagi, populasinya yang melimpah di lepas pantai Amerika membuat lobster disamakan dengan hama, bahkan dijadikan makanan harian bagi para narapidana. Namun, semua berubah setelah kereta api ditemukan.

    Saat itu, kebanyakan penumpang kereta berasal dari wilayah pesisir yang belum pernah melihat lobster, sehingga makanan ini tampak menarik bagi mereka. Lambat laun, banyak orang mulai tertarik untuk mencoba. Naiknya permintaan pada akhirnya membuat harga lobster di pasaran jadi semakin mahal dan hanya sanggup dibeli oleh orang-orang kaya.

  2. 2. Sushi

    ilustrasi sepiring sushi
    ilustrasi sepiring sushi (unsplash.com/Vinicius Benedit)

    Di awal kemunculannya, sushi bukanlah nama makanan melainkan metode yang digunakan oleh para nelayan untuk mengawetkan daging ikan. Untuk menjaga agar ikan tetap segar saat dimakan, para nelayan ini membungkusnya dengan nasi fermentasi. Ketersediaan beras dan prosesnya yang mudah membuat harga sushi sangat terjangkau sehingga bisa dibeli oleh para pekerja.

    Namun, semuanya berubah setelah Perang Dunia II. Orang-orang Barat menemukan sushi dan menyukainya. Para koki kemudian mulai bereksperimen menciptakan banyak menu baru dengan menggunakan ikan berkualitas terbaik. Hasilnya? Harga sushi melambung tinggi, menjadikannya salah satu makanan mewah yang hanya disajikan di restoran kelas atas.

  3. 3. Escargot

    ilustrasi escargot
    ilustrasi escargot (magnific.com/fabrikasimf)

    Di Prancis, escargot dianggap sebagai hidangan mewah. Namun, siapa sangka bahwa banyak orang Eropa dulu justru menganggap hewan ini menjijikkan. Biasanya hidangan berbahan siput hanya tersedia di wilayah pedesaan. Itu pun karena warga di sana gak memiliki makanan lain untuk dikonsumsi. Lantas, bagaimana ceritanya siput atau escargot bisa disajikan di restoran kelas atas?

    Konon, semua bermula pada 1814. Saat itu, seorang koki terkenal Prancis, Marie-Antoine Carême, ditugaskan untuk membuat hidangan perjamuan bagi Tsar Rusia. Marie yang berasal dari Burgundy kemudian menyajikan siput saus mentega yang dimasak dengan bawang putih dan peterseli. Hidangan siput saus mentega ini ternyata disukai oleh Tsar Rusia dan para diplomat Prancis. Berita itu pada akhirnya viral dan membuat escargot naik kelas jadi hidangan kaum bangsawan.

  4. 4. Tiram

    ilustrasi seporsi tiram dengan irisan jeruk lemon
    ilustrasi seporsi tiram dengan irisan jeruk lemon (unsplash.com/JUN VERBEET)

    Dulu, tiram adalah makanan jalanan dengan harga murah meriah. Orang-orang dari kalangan bawah mengonsumsinya untuk mencukupi kebutuhan protein mereka. Sayangnya, penangkapan berlebihan pada akhirnya membuat tiram menjadi semakin sulit ditemukan di laut.

    Lambat laun, harganya pun menjadi semakin mahal. Lucunya, harga tiram yang mahal inilah yang membuat orang kaya penasaran. Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa ada makanan mahal yang belum pernah mereka coba? Perlahan, status tiram sebagai makanan jalanan pun berubah menjadi hidangan mewah.

  5. 5. Caviar

    ilustrasi hidangan dengan caviar di atasnya
    ilustrasi hidangan dengan caviar di atasnya (unsplash.com/alexanderafam)

    Caviar merupakan salah satu makanan termahal saat ini. Mengingat ketersediaannya yang sangat terbatas dan jumlah konsumsinya yang sedikit, setiap gram caviar menjadi sangat berharga. Awalnya, caviar adalah makanan yang umum di kalangan petani di Rusia dan negara-negara Eropa Timur lainnya.

    Keberadaan ikan sturgeon yang melimpah membuat harga caviar jadi murah. Nah, harga yang murah ini bertahan sampai Tsar pertama Rusia, Ivan the Terrible, mencicipi caviar dan mulai memakannya. Sejak itu, caviar menjadi populer di kalangan bangsawan dan menjadi makanan resmi mereka. 

    Makanan mewah gak selalu tercipta di dapur istana. Sebaliknya kebanyakan makanan mewah justru awalnya merupakan hidangan sederhana yang dinikmati oleh rakyat jelata. Seiring waktu, perubahan zaman membuat pandangan orang berubah, termasuk cara mereka memandang makanan. Apa yang dianggap mewah sekarang bisa saja jadi sesuatu yang biasa di masa depan, begitu juga sebaliknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More