Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Inspiratif, Pria Jombang Olah Biji Salak Jadi Kopi

Inspiratif, Pria Jombang Olah Biji Salak Jadi Kopi
Kerupuk mentah olahan dari salak. IDN Times/Zainul Arifin

Jombang, IDN Times - Salak merupakan salah satu buah yang memiliki daging renyah dengan biji coklat di dalamnya. Buah salak bisa dimakan dengan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Sebab kaya akan protein, beta-karoten, vitamin-C, serat makanan, besi, kalsium, fosfor dan karbohidrat yang sangat bagus untuk kesehatan.

Tidak hanya itu, biji salak juga bisa diolah dalam bentuk makanan lain seperti menjadikannya makanan kerupuk dan olahan kopi. Seperti dilakukan Kuswanto (50), warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Dia mengolah biji salak menjadi berbagai jenis makanan ringan kerupuk, kopi salak, stik dan lainnya. Tentunya ide kreatif itu mendatangkan nilai ekonomis yang tinggi.

1. Inspirasi Muncul dari keprihatinan pedagang salak

Kuswartono dan dua bungkus kopi salak di sampingnya. IDN Times/Zainul Arifin
Kuswartono dan dua bungkus kopi salak di sampingnya. IDN Times/Zainul Arifin

Kus menyebut bahwa ide mengolah biji salak lokal menjadi kopi berawal dari keprihatinanannya ketika melihat potensi salak lokal di tempatnya yang cukup banyak. Tidak hanya itu, ia juga prihatin kondisi para pedagang buah salak di Jalan Raya Ploso-Jombang yang mengeluh merugi, terutama di masa pandemi ini.

“Akhirnya kami berusaha supaya mereka (pedagang) bergairah kembali. Kami coba bijinya untuk diolah menjadi sebuah produk olahan yaitu kopi. Ya biji salak mereka kita beli kisaran Rp5 - Rp7 Ribu per kilogram,” kata Kuswartono kepada IDN Times, Kamis (26/11/2020).

Lebih lanjut Kus mengungkapkan, biji salak tersebut kemudian dilebur dengan mesin manual lalu diolah dengan ramuan khusus sehingga menjadi kopi salak.

2. Kopi biji salak berkhasiat menambah stamina

Kulit salak dikeringkan untuk diolah jadi makan ringan. IDN Times/Zainul Arifin
Kulit salak dikeringkan untuk diolah jadi makan ringan. IDN Times/Zainul Arifin

Aroma serta rasa kopi salak itu sangat khas jika dibandingkan dengan kebanyakan kopi lainnya. Kus menyebut, aroma khas salak akan muncul sesaat setelah serbuk kopi tersebut diseduh dengan air mendidih. Sementara, sedikit rasa sepat muncul ketika kopinya diminum. Rasa pahitnya juga tidak sepahit rasa kopi lain pada umumnya.

Dalam literasi yang Kus dapatkan, ternyata kopi salak hasil produksinya mempunyai manfaat mampu menambah stamina, untuk pengobatan penyakit reumatik, darah tinggi dan lain-lain. Ia mengaku dalam mengolah biji salak menjadi serbuk kopi biji salak tanpa campuran biji kopi sedikitpun.

”Yang jelas, hasil produksi ini semuanya adalah alami Salak buah asli Indonesia,” tandas pria berusia 50 tahun tersebut.

3. Kembangkan ide dengan membuat olahan lain

Kus menunjukkan kemasan makan olahannya. IDN Times/Zainul Arifin
Kus menunjukkan kemasan makan olahannya. IDN Times/Zainul Arifin

Setelah berhasil memproduksi kopi berbahan baku dari biji salak lokal, Kus kemudian mengembangkan dengan membuat makanan olahan lainnya, seperti keripik salak, jenang salak, teh salak, cuka salak, stik salak, sari buah salak, dan es krim salak.

“Setelah kopi berhasil kita produksi, sampai kita uji nutrisi, izin edar, sertifikasi halal, kemudian bahan baku biji di sini mulai menurun, akhirnya kita mencoba buah dengan produk-produk turunan salak, juga bahan bakunya dari sekitar rumah sini,” tuturnya.

“Hasil turunannya ada jenang salak, keripik salak, es krim, cuka, sirup, sari buah, dan lain-lain,” Kus melanjutkan.

4. Omset capai Rp30 juta dalam satu bulan

Dua kemasan makanan ringan berbahan salak. IDN Times/Zainul Arifin
Dua kemasan makanan ringan berbahan salak. IDN Times/Zainul Arifin

Kus menyebut bahwa kini ia butuh bahan baku setidaknya satu ton salak setiap bulannya. Bahan baku itu ia beli dari warga sekitar dan beberapa pedagang lainnya.

"Pemasaran di pasar lokal hingga regional sudah dalam bentuk kemasan plastik dengan harga Rp7000 per bungkus," ungkapnya.

Kus menambahkan, saat ini omset usaha yang ia rintis sejak memasuki pandemik COVID-19 tersebut mencapai angka Rp25 Juta hingga Rp30 juta dalam satu bulan. Guna mempercepat pemasaran, ia juga memajang produknya di sebuah galeri di depan rumahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Zain Arifin
EditorZain Arifin
Follow Us

Latest in Food

See More

10 Macam Bumbu Instan untuk Masak Praktis Sehari-hari

04 Apr 2026, 23:40 WIBFood