Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tren Berkebun dan Makanan Rebus Makin Diminati Anak Muda

Tren Berkebun dan Makanan Rebus Makin Diminati Anak Muda
Potret jagung rebus (pixabay.com/keem1201)
Share Article

Belakangan ini, makanan rebus dan kukus semakin populer di kalangan masyarakat, tak terkecuali di kalangan anak muda. Berbagai jenis makanan rebus atau kukus kini semakin mudah ditemukan di mana pun, termasuk dijajakan pedagang kaki lima di pinggir jalan. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi yang tidak hanya berorientasi pada rasa, tetapi juga mempertimbangkan kesehatan dan gaya hidup yang lebih sederhana.

Temuan tersebut terlihat dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027. Salah satu topik yang diangkat dalam laporan ini adalah tren berkebun dan konsumsi makanan rebus atau kukus di kalangan generasi muda. Hasilnya menunjukkan bahwa makanan rebus dan kukus semakin diminati, khususnya kalangan milenial dan Gen Z.

Menariknya, tren ini tidak semata-mata didorong alasan kesehatan. Ada berbagai faktor yang mendorong meningkatnya minat terhadap makanan rebus atau kukus.

Lantas, seperti apa hasil temuan lengkapnya? Simak pemaparan lengkapnya berikut ini!

1. Makanan rebus atau kukus semakin diminati

Potret memasak telur rebus
Potret memasak telur rebus (freepik.com/valeria_aksakova)

Survei IDN Research Institute menunjukkan tren ini sudah meluas di masyarakat. Sebanyak 85,2 persen responden pernah membeli makanan rebus atau kukus sebagai pengganti camilan dalam enam bulan terakhir.

Sementara itu, sebanyak 25 persen mengonsumsinya secara rutin. Sedangkan, 47 persen lainnya mengonsumsi makanan rebus atau kukus setidaknya sekali dalam seminggu.

Data ini menunjukkan konsumsi makanan rebus atau kukus bukan lagi sekadar percobaan atau tren musiman. Kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari pola makan sehari-hari di berbagai kelompok usia.

2. Gaya hidup hemat kini punya nilai lebih

Potret clean eating
Potret clean eating (pexels.com/Jenna Hamra)

Pola hidup hemat mengalami perubahan makna. Praktik seperti clean eating, menghindari ultra process food, serta memasak dengan cara merebus dan mengukus memberikan nilai positif pada gaya hidup hemat.

Pilihan konsumsi tersebut kini dipandang sebagai keputusan yang etis dan bagian dari gaya hidup. Dengan begitu, hidup hemat tidak lagi identik dengan penurunan kemampuan ekonomi. Justru kini memiliki nilai yang dianggap menarik dan aspiratif.

3. Alasan mengonsumi makanan rebus atau kukus

Potret ubi cilembu panggang (IDN Times/Stella Azasya)
Potret ubi cilembu panggang (IDN Times/Stella Azasya)

Survei menemukan alasan utama responden memilih makanan rebus dan kukus adalah demi kesehatan. Sebanyak 56,3 persen responden memilih makanan rebus atau kukus, karena lebih sehat, sekaligus membantu menghemat pengeluaran.

Selain itu, sebanyak 34,4 persen menyukai makanan tersebut karena harga yang lebih murah. Sedangkan, 34 persen lainnya merasa makanan tersebut membuat kenyang dengan biaya lebih hemat. Temuan ini menunjukkan alasan kesehatan dan alasan ekonomi saling melengkapi. Banyak konsumen menganggap hidup sehat dan hemat memiliki nilai yang sama.

4. Konsumsi sesuai kebutuhan harian

Edamame rebus (IDN Times/Ayu Afria)
Edamame rebus (IDN Times/Ayu Afria)

Sebanyak 60 persen responden mengonsumsi makanan rebus atau kukus sesekali sebagai camilan. Angka ini menunjukkan praktik tersebut telah terintegrasi secara fleksibel dalam kehidupan sehari-hari.

Konsumen tidak menunggu kondisi tertentu untuk mengonsumsi makanan rebus atau kukus. Mereka menyesuaikannya dengan kebutuhan menjaga kesehatan sekaligus mengatur pengeluaran.

Di sisi lain, hanya 15 persen responden yang sama sekali tidak mengonsumsi makanan rebus atau kukus sebagai pengganti camilan. Hal ini menunjukkan tingkat penerimaan yang cukup tinggi di berbagai generasi.

5. Gen Z lebih tertarik mengonsumsi makanan rebus atau kukus

Potret pisang kukus
Potret pisang kukus (vecteezy.com/tyasindayanti)

Data survei menunjukkan generasi muda memiliki ketertarikan yang lebih tinggi terhadap makanan rebus atau kukus. Sebanyak 62 persen Gen Z memilih makanan rebus atau kukus sebagai camilan. Sedangkan, 58 persen milenial melakukan hal yang sama. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tren tersebut tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi, tetapi mulai menjadi bagian dari identitas dan preferensi gaya hidup generasi muda.

6. Metode memasak sehat semakin diminati

Potret brokoli kukus
Potret brokoli kukus (pexels.com/Cats Coming)

Tren ini juga didukung meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap metode memasak yang lebih sehat. Dalam artikel yang diterbitkan oleh IPB (Institut Pertanian Bogor), dosen Program Studi Pengawas Jaminan Mutu Pangan, Ai Imas Faidoh Fatimah, menjelaskan metode mengukus dan merebus mampu menjaga kandungan gizi lebih baik sekaligus mengurangi penggunaan minyak. Karena alasan tersebut, metode memasak sehat semakin banyak dipilih sebagai bagian dari pola makan harian.

7. Berkebun di rumah bikin hemat dan menjaga kualitas pangan

Potret berkebun di rumah
Potret berkebun di rumah (unsplash.com/Zoe Schaeffer)

Selain mengonsumsi makanan rebus atau kukus, berkebun skala rumah tangga menjadi bentuk nyata dari perubahan ini. Salah satunya dilakukan oleh Lia, seorang ibu milenial berusia 31 tahun yang tinggal di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Ia memanfaatkan sekitar tiga meter persegi area rooftop rumahnya untuk menanam kangkung, cabai, dan singkong menggunakan pot serta wadah bekas. Dari lahan terbatas tersebut, Lia mampu menghemat sekitar Rp20.000-Rp30.000 per bulan, terutama stok cabai di rumah.

Hasil panen cabai bahkan dapat memenuhi kebutuhan dapur selama satu bulan. Motivasi Lia bukan hanya soal penghematan. Ia ingin memahami betul asal makanan yang dikonsumsi keluarganya dan memastikan tanaman bebas dari kontaminasi seperti pestisida atau logam berat.

Kegiatan berkebun juga menjadi sarana edukasi bagi anaknya. Melalui aktivitas tersebut, anak dapat memahami bahwa kebutuhan pangan rumah tangga bisa diproduksi sendiri dalam skala kecil.

8. Urban farming menjadi respon atas ketidakpastian

Fasilitas urban farming yang dibangun di atas anak sungai di Kota Bandung.
Fasilitas urban farming yang dibangun di atas anak sungai di Kota Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Fenomena ini sejalan dengan berbagai temuan akademik mengenai perkembangan urban farming di Indonesia. Berbagai studi menunjukkan bahwa pertanian perkotaan berkembang bukan hanya sebagai hobi. Praktik ini muncul sebagai respon terhadap isu ketahanan pangan dan ketidakpastian ekonomi.

Penelitian mengenai urban farming menunjukkan aktivitas ini dapat meningkatkan ketahanan masyarakat perkotaan. Urban farming juga menjadi sumber alternatif pangan rumah tangga, terutama saat terjadi krisis seperti pandemik.

9. Dampak bagi industri makanan dan minuman

Potret belanja sayuran
Potret belanja sayuran (pexels.com/Alesia Kozik)

Perubahan perilaku konsumen ini memberi dampak jangka panjang bagi industri makanan dan minuman. Konsumen kini tidak hanya mencari produk yang bernilai gizi.

Mereka juga menginginkan transparansi, kontrol, dan kedekatan dengan proses produksi makanan. Produk yang memiliki asal-usul bahan baku, rantai pasok yang jelas, serta pengalaman yang lebih melibatkan konsumen berpotensi memiliki keunggulan dibanding kompetitor.

10. Kesederhanaan menjadi simbol gaya hidup modern

Potret singkong kukus
Potret singkong kukus (commons.m.wikimedia.org/Indonesiagood)

Tren ini menunjukkan munculnya kembali nilai kesederhanaan dan kedekatan dengan alam sebagai identitas yang positif. Dalam lanskap konsumsi saat ini, memilih makanan sederhana tidak lagi dianggap sebagai simbol keterbatasan. Sebaliknya, pilihan tersebut mencerminkan gaya hidup yang lebih sadar, terkontrol, dan memiliki tujuan yang jelas.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age, IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin, serta tokoh nasional dari seluruh nusantara.

Indonesia Summit 2026 digelar di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dilaksanakan IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu

Related Articles

See More

Tren Berkebun dan Makanan Rebus Makin Diminati Anak Muda

17 Jun 2026, 08:32 WIBFood