ilustrasi penderita demensia (pexels.com/Yaroslav Shuraev)
Beberapa riset klinis dan meta-analisis menunjukkan bahwa kemampuan berbicara dua bahasa atau lebih dikaitkan dengan penundaan munculnya gejala demensia, termasuk Alzheimer, jika dibandingkan dengan individu yang hanya berbicara satu bahasa.
Bahkan, sebuah studi besar yang sering dikutip dalam literatur neurologi menemukan bahwa dari 648 pasien dengan demensia, pasien bilingual mengalami gejala demensia sekitar 4,5 tahun lebih lambat dibandingkan pasien monolingual. Penelitian ini juga memperhitungkan faktor lain seperti tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan status sosial, serta menunjukkan bahwa efek tersebut konsisten pada berbagai tipe demensia, termasuk Alzheimer, demensia frontotemporal, dan demensia vaskular.
Temuan lain dari Bilingualism Is Associated with a Delayed Onset of Dementia but Not with a Lower Risk of Developing it: a Systematic Review with Meta-Analyses (2020) menunjukkan orang bilingual mengalami gejala Alzheimer rata-rata 4 sampai 5 tahun lebih lambat dibandingkan monolingual. Meski demikian, risiko untuk mendapatkan diagnosis demensia secara keseluruhan tetap serupa pada kedua kelompok tersebut.