ilustrasi penggunaan plastik wrap (pexels.com/Yusuf Çelik)
Dalam pembuatan plastik, digunakan berbagai macam campuran bahan kimia. Setidaknya, ada 16 ribu bahan kimia yang diidentifikasi. Beberapa yang paling utama antara lain ftalat, PFAS, dan bisfenol (BPA). Bahan-bahan kimia ini dikenal sebagai pengganggu hormon dan metabolisme di dalam tubuh sehingga bisa menyebabkan gangguan perilaku, reproduksi, hingga kanker.
Meski dalam beberapa tahun terakhir produksi plastik wrap telah bebas ftalat, plastik pembungkus ini masih menggunakan bahan yang secara kimiawi mirip dengan ftalat. Dilansir National Center for Health Research, plastik wrap telah dinyatakan “bebas ftalat” sejak 2006, tetapi plastik ini terbuat dari polivinil klorida (PVC) dan mengandung pemlastis (plasticizer) bernama di(2-etilheksil) adipat atau DEHA. Bahan inilah yang disebut mirip dengan ftalat.
WHO melansir bahwa paparan DEHA pada konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan tumor hati pada tikus. Pada studi yang dimuat dalam jurnal Ecotoxicology and Environmental Safety pada 2021, DEHA juga dilaporkan dapat memicu cedera otak dan jantung pada tikus. Meski penelitian masih tersedia dalam skala laboratorium, ini bisa menjadi peringatan buat kita dan menghindari dampak risikonya.
Lebih lanjut, dalam industri modern saat ini, produk plastik wrap memang banyak yang beralih ke low-density polyethylene (LDPE). Ini merupakan upaya yang lebih aman untuk tubuh dan lingkungan. Namun, bahan ini juga masih memiliki risiko kesehatan bagi manusia, seperti yang dijelaskan National Center for Health Research.