ilustrasi nyeri perut (pexels.com/cottonbro studio)
Penurunan berat badan yang drastis dapat memengaruhi keseimbangan kolesterol, bilirubin, atau asam empedu. Ini memicu kondisi prolitogenik, yaitu kondisi yang mendukung pembentukan batu empedu. Dalam jurnal Nature tahun 2024 dijelaskan, selama diet penurunan berat badan, indeks saturasi kolesterol empedu meningkat dan terjadi stasis kantung empedu. Inilah yang kemudian menyebabkan terbentuknya batu empedu.
Saat kita makan, lemak yang masuk ke dalam tubuh akan dipecah oleh cairan empedu. Di mana proses ini memicu kontraksi kantung empedu untuk mengeluarkan cairan empedu. Akan tetapi, ketika kita sedang melakukan diet rendah kalori atau rendah lemak, kontraksi pada kantung empedu ini menurun karena jumlah asupan makanan yang lebih rendah.
Nah, di saat yang bersamaan, hati melepaskan lebih banyak kolesterol ke dalam empedu (lebih banyak daripada yang bisa diproses). Di mana kondisi ini menyebabkan peningkatan indeks saturasi kolesterol empedu. Ketika nilai indeks kolesterol empedu naik, ini menyebabkan cairan empedu terlalu jenuh dengan kolesterol. Akibatnya, kolesterol empedu tidak mampu lagi dilarutkan, yang akhirnya mengendap dan membentuk kristal, yang lama kelamaan menjadi batu empedu.
Dalam laman UPMC, dokter bedah bariatrik Bestoun H. Ahmed, MD, menjelaskan batu empedu terbentuk ketika empedu mengandung terlalu banyak kolesterol atau bilirubin dan tidak cukup asam empedu atau lesitin, yaitu zat yang memungkinkan cairan berbasis air dan minyak bercampur. Hal ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan kolesterol, lesitin, dan asam empedu.
Selain itu, selama penurunan berat badan yang cepat, hipotonia pada kantung empedu juga dapat terjadi dan menyebabkan fungsinya memburuk. Ketika fungsi kantung empedu memburuk, cairan empedu tidak bisa dikeluarkan. Cairan empedu ini menjadi stagnan, mengkristal, dan membentuk batu empedu.