Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Asap Karhutla Berbahaya untuk Jantung? Begini Faktanya!
ilustrasi karhutla (pexels.com/Andreas Berget)
  • Karhutla di sejumlah wilayah Indonesia pada musim kemarau 2026 menghasilkan asap tebal berisi polutan berbahaya, terutama partikulat, serta gas dan bahan kimia lain yang komposisinya bergantung pada material terbakar.
  • Partikulat PM10 dan PM2.5 dapat menembus paru-paru hingga aliran darah, memicu peradangan, stres oksidatif, trombosis, dan aritmia; paparannya terkait risiko serangan jantung, gagal jantung, hingga kematian.
  • Risiko dapat ditekan dengan membatasi aktivitas luar ruangan, memakai respirator N95, serta menggunakan pembersih udara berfilter HEPA atau pengendap elektrostatik, terutama bagi kelompok rentan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perubahan cuaca dan iklim yang meningkatkan suhu permukaan bumi, tak jarang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang begitu luas hingga menimbulkan asap tebal yang berisiko bagi kesehatan. Di Indonesia, pada musim kemarau tahun ini (2026) saja, dilaporkan banyak terjadi karhutla di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga Papua. Tak tanggung-tanggung, jumlah titik panas yang dilaporkan juga sangat tinggi yang membakar hingga ratusan hektar hutan dan lahan.

Kebakaran hutan yang masif ini menimbulkan asap tebal yang membumbung tinggi di udara. Asap ini mencemari kualitas udara dan berisiko tinggi terhadap kesehatan, bahkan mengancam jiwa. Lantas, benarkah asap karhutla berbahaya bagi jantung? Inilah fakta-fakta menarik yang harus kamu ketahui dan waspadai.

1. Kandungan polutan dalam asap karhutla

ilustrasi asap karhutla (pexels.com/Soly Moses)

Asap karhutla mengandung banyak sekali polutan berbahaya. Polutan ini berukuran sangat halus yang bisa masuk dan menembus jauh ke dalam paru-paru saat kita menghirupnya. Dilansir laman World Health Organization (WHO) asap kebakaran hutan merupakan campuran polutan udara berbahaya, seperti materi partikulat (PM), nitrogen dioksida (NO2), ozon, hidrogen aromatik, atau timbal. Laman CDC menambahkan, di dalam asap karhutla juga mengandung karbon monoksida, karbon dioksida, benzena, akrolein, dan aldehida.

Namun, profil asap kebakaran hutan bisa berbeda-beda. Hal ini bergantung pada material apa saja yang terbakar. Laman Environmental Protection Agency (EPA) menambahkan, semua jenis kebakaran menghasilkan bahan kimia tertentu, seperti magnesium, aluminium, dan kalsium. Namun, kebakaran di area hutan yang berbatasan dengan pemukiman bisa menghasilkan profil kimia asap yang berbeda, yaitu adanya peningkatan logam berat beracun, termasuk tembaga, timbal, dan seng.

Perbedaan profil kimia asap karhutla ini juga memberikan dampak yang berbeda-beda terhadap kesehatan. Namun, di antara banyaknya kandungan bahan kimia dalam asap, polutan partikulat adalah partikel yang sering kali mendominasi. Di mana partikel inilah yang juga menyebabkan asap karhutla mengepul menyebabkan langit berwarna oranye atau kuning yang menutup pandangan.

2. Benarkah asap karhutla berbahaya untuk jantung?

ilustrasi korban karhutla (pexels.com/Recep Tayyip Çelik)

Masih dari laman WHO, materi partikulat (PM) adalah ancaman utama bagi kesehatan ketika terjadi kebakaran hutan atau karhutla. Materi partikulat ini didefinisikan seperti campuran padatan kecil atau tetesan cairan yang meliputi asap, jelaga, kotoran, dan debu yang ditemukan di udara. Di mana ini mencakup dua rentang ukuran spesifik yaitu PM10 (berukuran 10 mikron atau lebih kecil) dan PM2.5 (berukuran 2,5 mikron atau lebih kecil).

Materi partikulat inilah yang dikaitkan sebagai dampak buruk asap kebakaran. WHO juga menyebutkan, bahwa materi partikulat telah lama dikaitkan dengan risiko kematian dini akibat kebakaran. Selain itu, partikel asap ini juga bisa menyebabkan dan memperburuk penyakit paru-paru, jantung, otak (sistem saraf), kulit, usus, ginjal, mata, hidung, dan hati.

Jadi, benarkah asap karhutla berbahaya bagi jantung? Jawabannya ada iya benar. Laman Plastic Pollution Coallition menjelaskan, partikel debu tak hanya bisa masuk ke paru-paru saat terhirup, akan tetapi juga bisa masuk ke aliran darah yang berpotensi memicu penyakit jantung, stroke, serta kesehatan mental. Seperti yang disinggung sebelumnya, partikel asap memiliki ukuran yang sangat halus —jauh kebih kecil daripada lebar rambut manusia, setitik debu, atau pun pasir pantai yang halus. Partikel-partikel ini bisa masuk ke dalam tubuh ketika terhirup, yang kemudian memengaruhi kesehatan jantung.

Dalam jurnal Frontiers in Cardiovascular Medicine tahun 2023 dijelaskan, paparan jangka pendek asap karhutla pada saluran paru-paru menyebabkan peradangan sistemik, stres oksidatif, dan perubahan keseimbangan sistem saraf otonom. Di mana kesemuanya ini dapat secara bersamaan mengakibatkan trombosis vaskular dan aritmia ventrikel. Jalur utama mekanisme ini terjadi ketika proses migrasinya partikulat asap dari paru-paru ke sistem sirkulasi darah.

Secara umum, dampak asap karhutla terhadap jantung adalah menyebabkan beberapa penyakit seperti infark miokard akut, henti jantung, gagal jantung, rawat inap akibat penyakit jantung lainnya, bahkan kematian.

3. Pencegahan risiko penyakit kardiovaskular selama paparan asap karhutla

ilustrasi masker dan asap (pexels.com/Michelangelo Buonarroti)

Salah satu cara yang bisa untuk mencegah risiko penyakit jantung dari paparan asap karhutla adalah dengan meminimalkan paparannya.  Adapun langkah-langkah ketat untuk mengurangi paparan asap karhutla adalah sebagai berikut:

  • Menggunakan pembersih udara yang dilengkapi dengan filter udara partikulat efisiensi tingga (HEPA) atau pengendap elektrostatik di dalam ruangan.

  • Mengurangi aktivitas di luar ruangan dan lebih mempertimbangkan aktivitas di dalam ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, bayi, atau memiliki masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

  • Menggunakan alat pelindung diri seperti masker respirator N95.

Namun, jika paparan asap terlalu masif dan tidak bisa dihindarkan, mengonsumsi suplemen makanan yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi sering kali direkomendasikan. Menurut keterangan dari jurnal Neurology tahun 2025, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi vitamin B, vitamin C, dan asam lemak tak jenuh ganda omega-3 telah terbukti mengurangi efek buruk pada pernapasan dan kardiovaskular akibat paparan asap karhutla. Selain itu, kamu juga bisa menerapkan diet Mediterania, yang menekankan konsumsi banyak sayur, buah-buahan, dan biji-bijian dalam diet sehari-hari.

Asap karhutla dapat menyebabkan dampak yang buruk dan meluas seiring tingkat paparannya. Penyakit jantung adalah salah satu risiko yang harus diwaspadai akibat paparan asap tersebut. Jadi, jika kamu mendapati paparan asap karhutla, ada baiknya melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menjaga tubuh tetap sehat.

Referensi

“What to know about wildfire smoke”. Oregon State University. Diakses Agustus 2026.

“Wildland Fire Smoke”. CDC. Diakses Agustus 2026.

“Why Does Wildfire Smoke Smell Like Burning Plastic and Chemicals? And How to Protect Yourself”. Plastic Pollution Coalition. Diakses Agustus 2026.

“Wildfires”. WHO. Diakses Agustus 2026.

“Wildland Fire Research: What’s in Smoke?”. EPA. Diakses Agustus 2026.

“Wildfire smoke and its neurological impact”. National Library of Medicine. Diakses Agustus 2026.

“Wildfire smoke exposure and cardiovascular disease—should statins be recommended to prevent cardiovascular events?”. National Library of Medicine. Diakses Agustus 2026.

“Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 24 Agustus 2026, Penanganan Karhutla di Sejumlah Wilayah Terus Diperkuat”. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Diakses Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article