Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Mikroplastik Ditemukan dalam Garam Makan Indonesia

Studi: Mikroplastik Ditemukan dalam Garam Makan Indonesia
ilustrasi menuangkan garam (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)
  • Studi 2026 menemukan mikroplastik pada seluruh 45 merek garam konsumsi yang diperiksa dari Indonesia barat, tengah, dan timur.

  • Rata-rata ditemukan sekitar 222 partikel mikroplastik per kilogram garam, dengan kontaminasi tertinggi pada sampel dari Indonesia barat.

  • Adanya mikroplastik dalam makanan menunjukkan adanya paparan manusia, tetapi belum diketahui apakah jumlah yang ditemukan dalam garam tersebut dapat mengganggu kesehatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Garam yang kamu taburkan ke telur, sup, atau tumisan sebagian besar kandungannya adalah natrium klorida, ditambah yodium jika menggunakan garam beryodium.

Namun, penelitian terbaru menemukan kandungan lainnya yang tidak diinginkan, yaitu partikel plastik berukuran sangat kecil.

Studi dalam Science of the Total Environment pada 2026 memeriksa garam konsumsi yang digunakan masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia. Hasilnya, tidak satu pun dari 45 merek yang diperiksa bebas dari mikroplastik. Secara keseluruhan, para peneliti mengidentifikasi 1.498 partikel mikroplastik dari sampel yang dianalisis.

  1. Rata-rata 222 partikel dalam setiap kilogram garam

    Para peneliti memilih 15 merek yang paling banyak dikonsumsi pada masing-masing wilayah Indonesia barat, tengah, dan timur berdasarkan survei konsumen.

    Secara total terdapat 45 merek dengan tiga pengulangan analisis pada setiap merek.

    Sampel berasal dari tujuh provinsi di Indonesia barat, lima provinsi di wilayah tengah, dan tiga provinsi di timur.

    Rata-rata ditemukan 221,9 ± 184,0 partikel mikroplastik per kilogram garam.

    Jumlahnya berbeda antarwilayah:

    • Indonesia barat: 292,0 partikel/kg.
    • Indonesia tengah: 212,9 partikel/kg.
    • Indonesia timur: 160,9 partikel/kg.

    Angka di atas merupakan rata-rata sampel penelitian, bukan kandungan tetap dalam setiap produk garam yang dijual di pasaran.

  2. Sebagian besar berupa serat plastik berukuran kecil

    Sebagian besar berupa serat plastik berukuran kecil
    ilustrasi air laut yang tercemar sampah plastik (pexels.com/Maryann Kariuki)

    Mikroplastik didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Dalam penelitian ini, bentuk yang paling banyak ditemukan adalah serat atau fiber, sekitar 79,4 persen, disusul fragmen sekitar 19,3 persen.

    Lebih dari separuh partikel—sekitar 59 persen—berukuran kurang dari 1 milimeter.

    Para peneliti mengidentifikasi 15 jenis polimer. Tiga yang paling banyak ditemukan secara keseluruhan adalah chlorobutyl, polyester fiber, dan polyisobutylene.

    Dominasi serat dan fragmen mengindikasikan banyak partikel kemungkinan merupakan mikroplastik sekunder, yaitu serpihan yang terbentuk ketika benda plastik yang lebih besar secara perlahan rusak menjadi bagian-bagian kecil akibat sinar matahari, gesekan, cuaca, atau proses lainnya.

  3. Kok bisa plastik masuk ke dalam garam?

    Salah satu jalurnya dapat dimulai jauh sebelum garam masuk ke kemasan.

    Sebagian garam dibuat dengan menguapkan air laut hingga garam mengkristal. Jika air laut sudah mengandung mikroplastik, partikel tersebut dapat ikut tertinggal selama proses kristalisasi.

    Para penulis studi menduga tingginya kontaminasi pada sampel Indonesia barat dapat berhubungan dengan besarnya aktivitas industri, kepadatan penduduk, dan pencemaran lingkungan di wilayah tersebut.

    Akan tetapi, penelitian ini tidak dapat menentukan secara pasti sumber setiap partikel yang ditemukan. Kontaminasi dapat terjadi dari lingkungan asal bahan baku maupun selama produksi, pengolahan, transportasi, dan penanganan produk.

    Temuan mikroplastik dalam garam cuma terjadi di Indonesia. Tinjauan terhadap produk garam dari berbagai negara sebelumnya menemukan mikroplastik pada sekitar 94 persen produk yang diperiksa, meski jumlahnya sangat bervariasi karena metode laboratorium yang digunakan antarpenelitian berbeda.

  4. Berapa banyak mikroplastik yang bisa tertelan dari garam?

    Berdasarkan kadar yang ditemukan dan perkiraan konsumsi garam, studi Indonesia menghitung bahwa seseorang dapat menelan sekitar 1,11–1,56 partikel mikroplastik per hari hanya melalui garam.

    Jumlah tahunannya diperkirakan sekitar 405–569 partikel, dengan skenario konsumsi tertentu dapat mendekati 700 partikel per tahun.

    Angka itu mungkin terdengar besar, tetapi perlu ditekankan bahwa garam bukan satu-satunya sumber paparan mikroplastik.

    Mikroplastik juga telah ditemukan pada air minum, seafood, buah dan sayuran, minuman, serta udara yang kita hirup. Tinjauan sistematis terhadap 76 penelitian makanan menemukan estimasi paparan sangat berbeda antarproduk dan penelitian—sebagian karena belum ada metode pengukuran mikroplastik yang sepenuhnya seragam.

    Tinjauan lain bahkan memperkirakan paparan melalui inhalasi, khususnya udara dalam ruangan, bisa jauh lebih besar daripada paparan dari garam.

    Jadi, 500 partikel dari garam per tahun tidak sama dengan total mikroplastik yang masuk ke tubuh seseorang.

  5. Apakah mikroplastik dalam garam berbahaya?

    Apakah mikroplastik dalam garam berbahaya?
    ilustrasi mikroplastik (commons.wikimedia.org/European Commission/Lukasz Kobus)

    Penelitian laboratorium dan hewan menunjukkan mikro- dan nanoplastik dapat berinteraksi dengan jaringan biologis dan berpotensi memicu mekanisme seperti stres oksidatif, inflamasi, serta gangguan fungsi sel. Selain partikelnya sendiri, ada perhatian terhadap zat kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik atau polutan yang menempel pada permukaannya.

    Mikroplastik juga telah terdeteksi dalam tubuh manusia. Penelitian telah menemukan berbagai jenis polimer dalam darah manusia.

    Apakah jumlah mikroplastik yang biasa didapatkan dari makanan menyebabkan penyakit pada manusia?

    European Food Safety Authority (EFSA) pada April 2026 menyatakan bukti mengenai besarnya paparan melalui makanan dan dampaknya terhadap kesehatan manusia masih terbatas. EFSA belum dapat menyimpulkan risiko kesehatan dari mikro- dan nanoplastik dalam makanan, dan saat ini sedang melakukan penilaian risiko yang lebih komprehensif.

  6. Partikel kecil menjadi perhatian khusus

    Makin kecil suatu partikel, makin berbeda kemungkinan perilakunya di dalam tubuh. Nanoplastik bahkan jauh lebih kecil daripada mikroplastik dan menjadi salah satu area dengan ketidakpastian terbesar.

    Data mengenai nanoplastik masih sangat sedikit. Metode laboratorium yang digunakan saat ini juga mempunyai batas ukuran deteksi, sehingga partikel yang sangat kecil dapat tidak terhitung dalam penelitian.

    Jadi, angka 222 partikel/kg dalam studi garam tidak boleh dianggap sebagai hitungan absolut seluruh partikel plastik dari semua ukuran yang mungkin terdapat dalam produk.

  7. Perlukah berhenti menggunakan garam?

    Belum ada bukti bahwa berpindah ke jenis atau merek garam tertentu dapat menghilangkan paparan mikroplastik, dan studi baru ini justru menemukan kontaminasi pada seluruh sampel yang diteliti.

    Untuk kesehatan secara umum, langkah disarankan adalah membatasi konsumsi garam. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 5 gram garam per hari atau kurang dari 2 gram natrium. Garam yang dikonsumsi sebaiknya tetap beryodium karena yodium penting bagi perkembangan otak janin dan anak, di antara manfaat lainnya.

    Pada level yang lebih besar, para peneliti menilai solusi utamanya ada pada pengurangan pencemaran plastik, perbaikan proses produksi garam, metode pemantauan yang terstandardisasi, dan pengembangan regulasi mikroplastik pada pangan.

    Jangan sampai temuan studi ini membuat kamu langsung membuang garam yang ada di rumah. Pesan pentingnya, plastik yang dibuang ke lingkungan dapat terfragmentasi begitu kecil hingga akhirnya kembali ke meja makan kita.

    Referensi

    Yulianto Suteja et al., “Microplastics Footprint in Indonesian Edible Salt: A Comparative Study across Western, Central, and Eastern Regions,” Science of the Total Environment 1030 (2026): 181783, https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2026.181783.

    Chia-Ming Lee et al., “Microplastic Contamination of Table Salts from Taiwan, Including a Global Review,” Scientific Reports 9 (2019): 10145.

    A. K. Jin et al., “A Systematic Review and Quality Assessment of Estimated Daily Intake of Microplastics through Food,” Reviews on Environmental Health (2024), https://doi.org/10.1515/reveh-2024-0111.

    K. Zhang et al., “A Review of Microplastics in Table Salt, Drinking Water, and Air: Direct Human Exposure,” Environmental Science & Technology 54, no. 7 (2020): 3740–51.

    Food and Agriculture Organization of the United Nations, "Microplastics in Food Commodities: A Food Safety Review on Human Exposure through Dietary Sources," diakses Agustus 2026.

    Sophie V. L. Leonard et al., “Microplastics in Human Blood: Polymer Types, Concentrations and Characterisation Using μFTIR,” Environment International 188 (2024): 108751, https://doi.org/10.1016/j.envint.2024.108751. PubMed—Leonard et al.

    European Food Safety Authority, “Microplastics and Nanoplastics in Food,” diakses Agustus 2026.

    World Health Organization, “Sodium Reduction,” diakses Agustus 2026.

    World Health Organization, “Iodization of Salt for the Prevention and Control of Iodine Deficiency Disorders,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More