ilustrasi memanaskan gulai (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)
Satu kebiasaan yang sering terjadi setelah Idul Adha ialah memanaskan gulai atau semur berulang kali selama beberapa hari supaya tidak cepat basi. Semakin sering dipanaskan, lapisan minyak biasanya makin terlihat menggenang di permukaan karena lemak terus terpisah dari kuah. Kondisi ini membuat masakan terasa lebih berat meski porsinya sedikit. Selain memengaruhi rasa, proses pemanasan berulang juga dapat menurunkan kualitas beberapa kandungan gizi dalam makanan.
Cara yang lebih aman ialah membagi masakan ke beberapa wadah kecil sebelum disimpan di kulkas. Dengan begitu, makanan cukup dipanaskan sesuai kebutuhan tanpa memanaskan seluruh panci berkali-kali. Jika kuah terlihat terlalu berminyak setelah didinginkan, ambil lapisan lemak yang membeku di bagian atas sebelum dipanaskan kembali. Langkah sederhana seperti ini sering dianggap sepele, padahal cukup membantu mengurangi asupan lemak tambahan yang tidak disadari.
Mengolah daging sapi dengan cara yang lebih tepat bukan berarti harus menghilangkan cita rasa khas masakan Idul Adha. Perubahan kecil sejak memilih potongan daging hingga teknik memasak justru membuat tubuh terasa lebih nyaman setelah makan. Jadi, dari berbagai cara tadi, kebiasaan mana yang paling sering terlewat saat memasak daging sapi di rumah?
Referensi
"How Should Sacrificial Meat Be Cooked? Healthy Tips from Dietitian Cemile Gül." EGEKENT Hospital. Diakses pada Mei 2026
"How to consume sacrificial meat."NP Istanbul. Diakses pada Mei 2026
"Eating Qurbani Meat Without Worrying About Cholesterol, IPB University Nutrition Professor Shares Tips." IPB. Diakses pada Mei 2026