"Kunci utama penanggulangan kanker adalah deteksi cepat dan pengobatan cepat. Jika diketahui pada stadium satu, peluang kesembuhan dengan teknologi yang ada saat ini sangat tinggi," imbuhnya, yang dikutip dari keterangan resmi.
80 Persen Terlambat Dideteksi, Kemenkes Distribusi Alat Deteksi Dini Kanker

- Kemenkes memperluas distribusi alat deteksi dini kanker ke 10.000 puskesmas dan mempercepat pemenuhan dokter onkologi untuk menekan angka kematian akibat keterlambatan diagnosis.
- Fasilitas kesehatan diperkuat dengan layanan CT scan di 514 kabupaten/kota, pengadaan PET scan hingga 2028, serta pembangunan fasilitas terapi proton pertama di RS Kanker Dharmais.
- Melalui Rencana Aksi Nasional Kanker 2024–2034, Kemenkes menyiapkan era kedokteran genomik dan integrasi data registri kanker nasional guna meningkatkan deteksi risiko serta efektivitas penanganan kanker di Indonesia.
Tingginya angka kematian akibat kanker di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan diagnosis. Untuk menekan angka kematian tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) melakukan transformasi besar melalui distribusi alat deteksi dini hingga tingkat puskesmas serta percepatan pemenuhan dokter spesialis onkologi.
Komitmen strategis tersebut ditegaskan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, menurutnya lebih dari 80 persen pasien kanker di Indonesia baru terdiagnosis ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut—stadium tiga atau empat.
Aksi yang akan dilakukan Kemenkes
Kondisi keterlambatan deteksi kanker ini tercermin dari data GLOBOCAN yang mencatat terdapat 408.661 kasus baru kanker di Indonesia dengan 242.988 kematian setiap tahun.
Kanker menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga secara nasional. Kanker payudara dan kanker serviks adalah ancaman utama bagi perempuan, sedangkan pada laki-laki didominasi kanker paru dan kanker kolorektal.
Untuk mengatasi tingginya beban penyakit kanker, Kemenkes mulai mengurangi sentralisasi layanan agar tidak lagi bertumpu di kota-kota besar. Sebanyak 10.000 Puskesmas kini dilengkapi mesin X-ray digital dan alat ultrasonografi (USG) berbasis akal imitasi (AI) untuk membantu mendeteksi kanker paru dan benjolan pada payudara.
Selain itu, layanan tes human papillomavirus (HPV) DNA akan dimanfaatkan untuk mendeteksi virus penyebab kanker serviks yang juga disiapkan di fasilitas layanan kesehatan primer.
Di tingkat rujukan, sebanyak 514 kabupaten/kota akan dilengkapi dengan layanan CT scan untuk penegakan diagnosis lanjutan. Kemenkes juga menargetkan pengadaan 60 alat Positron Emission Tomography (PET)scan pada 2028, memperluas layanan kemoterapi di 500 kabupaten/kota, serta membangun fasilitas terapi proton pertama di RS Kanker Dharmais.
Dibarengi kesiapan SDM

Penguatan infrastruktur juga harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Menjawab tantangan tersebut, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Arianti Anaya, menyatakan siap mempercepat ketersediaan dokter spesialis onkologi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada jalur pendidikan konvensional yang membutuhkan waktu panjang.
"Langkah ini kami lakukan melalui jalur program Fellowship dan Advanced Clinical Training. Dengan demikian, kebutuhan SDM kesehatan khusus penanganan kanker dapat segera terpenuhi untuk melayani masyarakat," ujarnya.
Kemenkes tetapkan rencana hingga 2034
Kemenkes telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker 2024–2034 dan tengah mengintegrasikan data registri kanker nasional ke dalam laporan global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Ke depan, pelayanan kanker di Indonesia akan memasuki era kedokteran genomik (pengobatan presisi), yang memungkinkan layanan primer melakukan tes genetik untuk mendeteksi risiko kanker sebelum penyakit berkembang.
"Melalui pemerataan teknologi, pembenahan SDM, serta penguatan registri nasional, kita optimistis angka kematian akibat kanker di Indonesia dapat ditekan secara drastis," tambah Menkes Budi.
ICCF 2026 mengusung tema "Next-Generation Oncology: Management, Technology and Holistic Care" dan diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI) bekerja sama dengan China Anti-Cancer Association (CACA).
Forum yang dihadiri sekitar 350 peserta dari kalangan dokter hingga mahasiswa kedokteran tersebut menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kerja sama dalam layanan, pendidikan, dan penelitian kanker antara Indonesia dan China. Topik yang dibahas meliputi pencegahan, skrining, pengobatan mutakhir seperti radioterapi presisi, imunoterapi, genomic profiling hingga terapi suportif.





![[QUIZ] Kamu Butuh Fisioterapi atau Sports Massage? Cek Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_0bdce4901725d94b6b6f10a30dec8b93_0592cd02-9894-477c-bc4d-ee5633d01051.png)









![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kamu Lari karena FOMO atau Beneran Suka](https://image.idntimes.com/post/20260508/1000023808_ede40a8d-fa4b-4901-ba71-809fd59ebf2e.jpg)


![[QUIZ] Dari Olahan Daging Favoritmu, Ini Penyakit yang Mengintai](https://image.idntimes.com/post/20260505/resep-daging-panggang-ala-maroko_57a5c686-b9fa-44df-856c-249f30b1b27a.jpg)


