Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Dampak Buruk Jika Buka Puasa dengan Kopi, Lebih Baik Air Putih
ilustrasi minum kopi saat buka puasa (vecteezy.com/rinrat Wuttichaikitcharoen)
  • Minum kopi saat perut kosong dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memicu keluhan saluran cerna.

  • Kafein bisa memperburuk dehidrasi ringan setelah puasa, terutama bila asupan cairan belum terpenuhi.

  • Jika tetap ingin minum kopi, waktu dan cara konsumsinya perlu diatur agar risikonya lebih kecil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jelang azan magrib, beberapa orang rasanya mau segera menyesap kopi. Harum, aromanya menenangkan, dan sensasi hangatnya (maupun dingin) bisa membantu mendongkrak energi kembali setelah seharian menahan lapar dan haus. Kamu begini juga?

Namun, kondisi tubuh saat berbuka puasa beda dengan hari biasa. Setelah sekitar 12–14 jam tanpa asupan makanan dan minuman, kadar cairan tubuh menurun, lambung kosong, dan sistem pencernaan berada dalam keadaan istirahat relatif. Apa yang pertama kali masuk ke tubuh akan memberi respons fisiologis yang cukup signifikan.

Konsumsi kafein dalam kondisi perut kosong atau saat tubuh mengalami dehidrasi ringan dapat menimbulkan beberapa dampak yang kurang baik. Yuk, terus lanjutkan bacanya!

1. Meningkatkan produksi asam lambung dan risiko nyeri ulu hati

Kopi diketahui dapat merangsang sekresi asam lambung. Menurut penelitian, baik kopi berkafein maupun tanpa kafein tetap dapat meningkatkan produksi asam lambung, meskipun mekanismenya tidak hanya bergantung pada kafein. Ini disebabkan oleh berbagai komponen bioaktif dalam kopi yang merangsang sel parietal lambung.

Saat berbuka, lambung kamu kosong. Masuknya kopi, terutama tanpa didahului makanan, dapat memicu peningkatan asam lambung yang relatif tajam. Pada individu yang sensitif, kondisi ini dapat menimbulkan rasa perih, mual, atau sensasi terbakar di dada (heartburn).

Minuman berkafein, termasuk kopi, dapat memperburuk gejala gastroesophageal reflux disease (GERD) pada sebagian orang. Dalam konteks puasa, risiko ini relevan karena lambung belum “dilapisi” makanan.

2. Memperparah gejala refluks asam

ilustrasi gejala refluks asam (pexels.com/cottonbro studio))

Kopi bisa meningkatkan asam lambung dan membuat lower esophageal sphincter/LES, yaitu katup antara kerongkongan dan lambung, menjadi lebih rileks, sehingga asam mudah naik ke kerongkongan dan menyebabkan refluks.

Beberapa orang memang merasakan gejala refluks setelah minum kopi; risiko lebih tinggi pada yang punya riwayat GERD atau dispepsia fungsional (gangguan pencernaan bagian atas yang memicu nyeri atau tidak nyaman di ulu hati, kembung, dan cepat kenyang tanpa adanya kerusakan atau kelainan struktural yang ditemukan pada pemeriksaan), terutama kalau minum kopi saat perut kosong.

Dalam praktik klinis, pasien dengan keluhan nyeri ulu hati atau rasa panas di dada sering dianjurkan membatasi kopi, terutama saat lambung kosong. Berbuka dengan kopi berpotensi memperberat keluhan tersebut.

3. Memicu dehidrasi relatif

Selama puasa, tubuh tidak mendapat asupan cairan berjam-jam. Walaupun tubuh memiliki mekanisme adaptasi yang baik, tetapi sebagian orang tetap mengalami dehidrasi ringan menjelang berbuka.

Kafein memiliki efek diuretik ringan, terutama pada individu yang tidak terbiasa mengonsumsinya. Kafein dalam dosis moderat relatif aman bagi kebanyakan orang dewasa sehat, tetapi tetap memiliki efek meningkatkan produksi urine dalam kondisi tertentu.

Jika kopi menjadi minuman pertama saat berbuka, sementara asupan air putih belum terpenuhi, ada potensi memperlambat proses rehidrasi. Dalam jangka pendek mungkin sepele, tetapi jika terjadi berulang setiap hari, bisa berdampak pada keseimbangan cairan, terutama saat cuaca panas.

4. Mengganggu kualitas tidur

ilustrasi sulit tidur (pexels.com/cottonbro studio)

Banyak orang minum kopi saat berbuka, lalu kembali mengonsumsinya setelah tarawih. Padahal, waktu berbuka relatif dekat dengan jam tidur malam.

Kafein bekerja dengan cara memblokir reseptor adenosin di otak, sehingga menurunkan rasa kantuk. Efeknya bisa bertahan 3–7 jam, tergantung sensitivitas individu dan metabolisme tubuh.

Konsumsi kafein pada sore atau malam hari dapat mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur selama Ramadan dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, hingga regulasi hormon lapar dan kenyang. Siklus ini dapat memperburuk pola makan dan kesehatan metabolik secara keseluruhan.

5. Meningkatkan detak jantung dan rasa cemas

Kafein adalah stimulan sistem saraf pusat. Pada sebagian orang, terutama yang sensitif, konsumsi kafein dapat meningkatkan detak jantung, tekanan darah sementara, serta memicu rasa gelisah.

Setelah seharian berpuasa, kadar gula darah relatif lebih rendah dibanding kondisi setelah makan. Masuknya kafein dalam kondisi ini dapat memicu sensasi berdebar yang terasa lebih kuat.

Bagi individu dengan gangguan kecemasan atau riwayat palpitasi (jantung berdebar), berbuka dengan kopi bisa menjadi pemicu ketidaknyamanan yang tidak perlu. Respons tubuh terhadap kafein sangat individual, sehingga penting mengenali batas toleransi diri.

Minuman yang lebih disarankan saat berbuka

ilustrasi minum air putih (pexels.com/cottonbro studio)

Untuk mengembalikan keseimbangan cairan dan energi secara bertahap, air putih tetap menjadi pilihan utama.

Selain air putih, pilihan yang lebih ramah lambung antara lain:

  • Air hangat dengan kurma (untuk sumber glukosa alami).

  • Sup bening.

  • Jus buah tanpa tambahan gula.

Jika tetap ingin minum kopi, pertimbangkan beberapa hal ini:

  • Jangan menjadikannya minuman pertama. Minumlah setelah air putih dan makanan ringan.

  • Hindari konsumsi berlebihan (≤400 mg kafein per hari untuk dewasa sehat).

  • Pilih kopi dengan kadar asam lebih rendah atau cold brew yang relatif lebih ringan di lambung.

  • Hindari menambahkan gula berlebihan.

Kopi bukan musuh. Dalam banyak penelitian, konsumsi kopi dalam jumlah moderat dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan. Namun, konteks dan waktu konsumsi menentukan dampaknya terhadap tubuh.

Saat berbuka puasa, tubuh memerlukan rehidrasi dan adaptasi bertahap. Asupan kafein dalam kondisi lambung kosong dan cairan tubuh rendah bisa menimbulkan keluhan yang tidak perlu. Mendahulukan air putih dan makanan ringan, lalu menikmati kopi dengan bijak setelahnya, dianggap lebih aman bagi kesehatan.

Referensi

P. J. Boekema M. Samsom Van Be G. P., “Coffee and Gastrointestinal Function: Facts and Fiction: A Review,” Scandinavian Journal of Gastroenterology 34, no. 230 (January 1, 1999): 35–39, https://doi.org/10.1080/003655299750025525.

“GERD Guideline." American College of Gastroenterology. Diakses Maret 2026.

B. Wendl et al., “Effect of Decaffeination of Coffee or Tea on Gastro‐oesophageal Reflux,” Alimentary Pharmacology & Therapeutics 8, no. 3 (June 1, 1994): 283–87, https://doi.org/10.1111/j.1365-2036.1994.tb00289.x.

R. J. Maughan and J. Griffin, “Caffeine Ingestion and Fluid Balance: A Review,” Journal of Human Nutrition and Dietetics 16, no. 6 (November 18, 2003): 411–20, https://doi.org/10.1046/j.1365-277x.2003.00477.x.

Efsa Panel on Dietetic Products Nutrition And Allergies, “Scientific Opinion on the Safety of Caffeine,” EFSA Journal 13, no. 5 (May 1, 2015), https://doi.org/10.2903/j.efsa.2015.4102.

Bertil B. Fredholm et al., “Actions of Caffeine in the Brain With Special Reference to Factors That Contribute to Its Widespread Use,” Pharmacological Reviews 51, no. 1 (March 1, 1999): 83–133, https://doi.org/10.1016/s0031-6997(24)01396-6.

“Caffeine and Sleep." National Sleep Foundation. Diakses Maret 2026.

“Healthy Diet Fact Sheet." World Health Organization. Diakses Maret 2026.

Editorial Team