ilustrasi lari (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
Denyut jantung setelah lari tidak hanya ditentukan oleh berapa lama kamu berlari. Kecepatan lari, jarak tempuh, kondisi cuaca, tingkat kebugaran, hingga kondisi tubuh pada hari itu dapat membuat respons jantung berbeda. Lari yang terasa ringan pada satu hari juga belum tentu terasa sama ketika kamu kurang tidur, belum cukup minum, atau berlari di tengah cuaca panas.
Kondisi tubuh juga menjadi alasan mengapa denyut jantung seseorang tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan orang lain. Orang yang sudah terbiasa melakukan latihan aerobik umumnya mengalami penurunan denyut jantung yang lebih cepat setelah olahraga dibandingkan dengan orang yang baru mulai berlatih. Meski begitu, satu kali pengukuran setelah lari belum cukup untuk menilai kebugaran seseorang.
Asupan cairan juga patut diperhatikan, terutama setelah berlari cukup lama atau mengeluarkan banyak keringat. Kekurangan cairan dapat membuat jantung bekerja lebih keras untuk mempertahankan aliran darah ke seluruh tubuh. Karena itu, jangan menunggu sampai merasa sangat haus untuk mulai memperhatikan kebutuhan cairan selama aktivitas fisik.
Kondisi denyut jantung tetap tinggi setelah berhenti lari pada dasarnya merupakan hal yang dapat terjadi karena tubuh memang membutuhkan waktu untuk beralih dari kondisi aktif ke istirahat. Selama denyutnya berangsur turun dan tidak disertai keluhan yang mengkhawatirkan, kondisi tersebut umumnya tidak perlu membuat panik.
Meski begitu, jika jantung tetap berdebar sangat cepat dalam waktu lama, terasa tidak beraturan, atau muncul bersama nyeri dada, sesak napas, pusing berat, atau sampai kehilangan kesadaran, keluhan tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai efek biasa setelah olahraga dan perlu diperiksakan.
Referensi
"How Long Does Your Heart Rate Stay Elevated After Exercise?" Health Central. Diakses pada Agustus 2026.
"Pathophysiology of Exercise Heart Rate Recovery: A Comprehensive Analysis." Annals of Noninvasive Electrocardiology. Diakses pada Agustus 2026.