Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hindari Konsumsi Hati saat Hamil, Ini Bahaya yang Harus Kamu Ketahui

Hindari Konsumsi Hati saat Hamil, Ini Bahaya yang Harus Kamu Ketahui
ilustrasi olahan hati ayam (pixabay.com/Ирина Александрова)

Olahan jeroan seperti hati memang memiliki cita rasa yang khas. Di samping itu, jenis jeroan ini juga padat nutrisi yang bisa bantu penuhi kebutuhan harian.

Sayangnya, hati dan produk olahan yang mengandung hati adalah salah satu makanan yang tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Ini karena kandungan nutrisi di dalamnya yang berpotensi bahaya bagi kehamilan. Nah, biar makin paham kenapa hati tidak direkomendasikan untuk kehamilan, yuk, simak lebih lanjut penjelasan di bawah ini. 

1. Kandungan nutrisi hati

ilustrasi olahan hati (pixabay.com/Wolfram Strachwitz)
ilustrasi olahan hati (pixabay.com/Wolfram Strachwitz)

Pada dasarnya, hati adalah makanan tinggi nutrisi. Bahkan, beberapa kandungan gizinya bisa membantu memenuhi kebutuhan harian yang diperlukan oleh ibu hamil. Termasuk di antaranya adalah zat besi, vitamin A, protein, dan asam folat yang tersedia dalam jumlah melimpah.

Dalam kehamilan, protein dan asam folat berperan penting untuk mendukung pertumbuhan janin. Sedangkan zat besi, berperan untuk memastikan pembentukan hemoglobin yang cukup dalam darah sehingga dapat mencegah anemia yang cukup sering dialami bumil.

Sementara itu, vitamin A juga tersedia dalam jumlah yang sangat banyak. Ini bermanfaat untuk perkembangan mata dan tulang bayi, menjaga sistem kekebalan tubuh, serta menjaga metabolisme ibu hamil. 

2. Kenapa ibu hamil sebaiknya menghindari konsumsi hati?

ilustrasi olahan hati (pixabay.com/ran)
ilustrasi olahan hati (pixabay.com/ran)

Sayangnya, meski tinggi nutrisi, hati mengandung vitamin A yang berbentuk retinol. Kandungan ini bisa sangat berbahaya bagi janin yang sedang berkembang dalam rahim. Misalnya pada hati sapi.

Dilansir Baby Center, dalam satu porsi hati sapi mengandung lebih dari tujuh kali asupan vitamin A harian yang direkomendasikan untuk ibu hamil. Jumlah ini mungkin berbeda pada hati yang berasal dari sumber lain, seperti ayam, babi, atau angsa. Namun, walaupun sedikit, kandungan vitamin A dalam hati tetap berbahaya karena berupa bentuk "preformed", yaitu retinol.

Laman Baby Center dan Mom Junction melansir,  kandungan retinol dalam kadar tinggi dapat berpotensi menyebabkan keguguran dan cacat lahir bayi, terutama pada beberapa bulan pertama kehamilan. Cacat ini dapat berupa mutasi, atau bahkan menyebabkan perkembangan sel kanker.

Selain itu, vitamin A juga dapat larut dalam lemak. Ini artinya, ketika tak dibutuhkan oleh tubuh, vitamin A akan diserap dan disimpan dalam tubuh. Jika kadarnya terlalu tinggi, ini bisa menjadi racun.  

3. Haruskah sepenuhnya menghindari konsumsi hati selama kehamilan?

ilustrasi jeroan hati (freepik.com/azerbaijan_stockers)
ilustrasi jeroan hati (freepik.com/azerbaijan_stockers)

Sebetulnya, tidak ada rekomendasi "resmi" untuk menghindari hati sepenuhnya selama kehamilan. Mengambil sedikit porsi sekali atau dua kali sebulan mungkin tidak dianggap berbahaya, seperti yang dijelaskan Baby Center. Namun, menghindarinya akan menjadi tindakan yang terbaik, ditambahkan oleh laman Mom Junction.

Lebih lanjut, jika kamu sedang merencanakan kehamilan atau hamil pada trimester pertama, sebaiknya jauhi konsumsi hati. Sementara jika sedang hamil di trimester akhir, sebaiknya hati-hati mengonsumsinya.

Selama kehamilan, asupan vitamin A yang cukup juga diperlukan. Jika kamu direkomendasikan untuk menambah asupan makanan kaya vitamin A, makanan kaya vitamin A dalam bentuk beta-karoten bisa menjadi solusinya. Ini seperti wortel, brokoli, kubis, labu, bayam, buah mangga, atau pepaya--alih-alih yang berupa retinol seperti hati.

Selain hati, kamu mungkin juga harus menghindari produk olahan hati lainnya,  seperti suplemen minyak ikan kod, minyak hati hiu, sosis hati, atau hati pate . Selain itu, hindari juga penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung retinol.

Konsumsi hati selama kehamilan memang tidak dilarang sepenuhnya. Namun, menghindarinya bisa menjadi pilihan terbaik selama kehamilan untuk menghindari risiko yang lebih serius. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Wahyu Intani
EditorDwi Wahyu Intani
Follow Us

Related Articles

See More

Intoleransi Gula: Gejala, Diagnosis, Pengobatan

13 Mei 2026, 21:21 WIBHealth