gambar seorang perempuan sedang berkonsultasi dengan dokter (unsplash.com/Vitaly Gariev)
Umumnya, paparan ringan abu vulkanik gak akan menyebabkan dampak kesehatan yang serius dan sembuh dengan sendirinya. Namun pada orang-orang dari kelompok tertentu seperti bayi dan anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita penyakit paru kronis, asma, kardiovaskular, dan diabetes risiko yang ditimbulkan biasanya lebih serius.
Dilansir American Lung Association, paparan abu vulkanik dapat memicu gejala asma secara tiba-tiba dan memperburuk gejala pada penyakit lainnya. Jika setelah terpapar abu vulkanik kamu mengalami mengi, sesak napas, kesulitan bernapas, dada terasa berat, pusing yang gak kunjung membaik, segera kunjungi klinik atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Sebisa mungkin hindari beraktivitas di luar ruangan setelahnya hingga hujan abu berhenti dan situasi kondusif.
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, menghindari paparan abu vulkanik memang sulit. Bahkan setelah menggunakan masker dan perlengkapan lain, risiko menghirup abu vulkanik akan tetap ada. Meski begitu dampak abu vulkanik pada setiap orang bisa jadi berbeda. Semua tergantung pada kondisi kesehatan masing-masing. Namun hanya karena kamu merasa sehat, bukan berarti kamu boleh menyepelekan dampak dari abu vulkanik. Tetap jaga diri dan jangan lepaskan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Referensi
“Human and Environmental Impact of Volcanic Ash.” National Geographic Society. Diakses September 2026.
“Volcanoes: Risk Factors.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Questions About Volcanic Ash and Other Tephra from Kīlauea.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.
“Protecting Yourself During a Volcanic Eruption.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Health Impacts of Volcanic Ash.” International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN). Diakses September 2026.
“Volcanic Ash.” American Lung Association. Diakses September 2026.