Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Terjadi pada Paru-Paru saat Menghirup Abu Vulkanik?

Apa yang Terjadi pada Paru-Paru saat Menghirup Abu Vulkanik?
gambar pasien yang mengalami gangguan pernapasan (unsplash.com/engin akyurt)
  • Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan, mineral, dan kaca berukuran sangat kecil yang mudah terbawa angin, terhirup, lalu masuk ke sistem pernapasan.
  • Partikel besar cenderung tertahan di hidung atau tenggorokan, sedangkan partikel di bawah 4 mikrometer dapat mencapai alveolus di bagian terdalam paru-paru.
  • Paparan intens dapat memicu batuk, iritasi, mengi, dan sesak; paparan silika kristalin jangka panjang berisiko menyebabkan silikosis dengan kerusakan paru permanen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi, yang harus kita khawatirkan bukan hanya aliran lahar panas atau gempa. Lebih dari itu, erupsi gunung berapi juga menghasilkan abu vulkanik. Berbeda dengan lahar panas yang terlihat jelas, abu vulkanik berukuran sangat kecil hingga sulit terlihat. Namun justru karena ukurannya yang kecil inilah yang membuatnya berbahaya. 

Dilansir National Geographic, sekilas abu vulkanik tampak seperti abu biasa. Namun sebenarnya abu ini terdiri dari campuran partikel batuan, mineral, dan kaca yang dikeluarkan oleh gunung berapi selama letusan. Partikel tersebut berukuran kurang dari dua milimeter sehingga mudah terbawa angin, menyebar ke mana-mana, bahkan terhirup oleh manusia dan memasuki paru-paru. Lantas apa yang terjadi pada paru-paru saat menghirup abu vulkanik? Berikut jawabannya!

  1. 1. Abu vulkanik akan memasuki sistem pernapasan

    Seorang pria memakai masker untuk menghindari paparan hujan abu
    gambar seorang pria memakai masker untuk menghindari paparan abu vulkanik (unsplash.com/Zahra Wijayanti)

    Berbeda dengan partikel PM 2.5 yang berasal dari asap kebakaran hutan, abu vulkanis memiliki ukuran partikel yang beragam. Sebagian besar berukuran kurang dari 4 mikrometer, sedangkan yang berukuran besar biasanya memiliki diameter antara 10-100 mikrometer. Dilansir USGS, saat partikel-partikel ini terhirup oleh organ pernapasan seperti hidung, partikel yang lebih besar umumnya akan tersangkut di hidung atau saluran udara bagian atas seperti tenggorokan.

    Sedangkan partikel yang berukuran sedang akan mengendap di trakea atau saluran bronkial. Nah yang bahaya, kalau partikel yang masuk berukuran kurang dari 4 mikrometer. Ukurannya yang kecil, membuat partikel ini dapat menembus lebih dalam ke paru-paru hingga ke daerah alveolus.

  2. 2. Abu vulkanik menyebabkan iritasi pada paru-paru

    Paru-paru yang terpapar abu vulkanik
    ilustrasi paru-paru yang terpapar abu vulkanik (magnific.com/kjpargeter)

    Pada orang yang sehat, paparan abu vulkanik dengan intensitas yang tinggi dapat menyebabkan ketidaknyamanan di dada, batuk, serta iritasi. Sedangkan pada mereka yang memang memiliki keluhan di dada sebelumnya, paparan abu vulkanik dapat mengembangkan gejala bronkitis parah yang ditandai dengan batuk kering, produksi dahak berlebih, mengi, dan sesak napas. Pada penderita asma, situasinya lebih berbahaya lagi karena dapat memicu kambuhnya gejala secara tiba-tiba. Dilansir Cleveland Clinic, ketika abu vulkanik memasuki paru-paru penderita asma, saluran yang membawa udara ke paru-paru akan membengkak dan meradang. Otot paru-paru kemudian akan memproduksi lendir secara berlebihan yang mempersempit saluran udara hingga memicu terjadinya sejumlah gejala seperti sesak napas, mengi, dan batuk. 

  3. 3. Dalam jangka panjang, paparan abu vulkanik dapat merusak paru-paru

    Pasien yang menderita penyakit pernapasan
    gambar pasien yang menderita penyakit pernapasan (unsplash.com/Alexander Grey)

    Semakin kecil ukuran partikel abu vulkanik yang terhirup, semakin berbahaya juga partikel tersebut bagi tubuh. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, partikel abu vulkanik yang berukuran di bawah 4 mikrometer dapat melewati sistem pernapasan bagian atas dan memasuki bagian terdalam paru-paru, termasuk alveolus dan menyebabkan peradangan. Alveolus sendiri merupakan kantung-kantung udara tempat tubuh melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida.

    Paparan jangka panjang, abu yang mengandung silika kristalin dapat menyebabkan silikosis. Dilansir Cleveland Clinic, silikosis adalah penyakit paru-paru yang dapat berkembang akibat menghirup debu silika. Gejalanya meliputi batuk berkepanjangan, kesulitan bernapas, peradangan pada saluran pernapasan, dan jaringan parut pada paru-paru secara permanen. Sayangnya silikosis gak bisa disembuhkan, tetapi dengan pengobatan rutin setidaknya dapat membantu mengelola gejalanya.

    Sekilas abu vulkanik memang terlihat seperti abu biasa. Padahal jika terhirup dan masuk ke sistem pernapasan, abu vulkanik bisa menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Pada kelompok berisiko seperti penderita asma, anak-anak dan bayi, serta orang dengan kondisi pernapasan atau jantung kronis, dampaknya bisa sangat serius hingga membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

    Referensi

    “Asma Attack.” Cleveland Clinic. Diakses September 2026.

    “Volcanoes: Risk Factors.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.

    “Respiratory Effects of Volcanic Ash.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.

    “Health Impacts of Volcanic Ash.” International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN). Diakses September 2026.

    “Volcanic Ash.” American Lung Association. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More