"5 Ways Sugar Negatively Impacts Your Brain and Cognitive Health" Verywell Mind. Diakses pada Maret 2026.
"Sugar and the Brain" Harvard Medical School. Diakses pada Maret 2026.
"Effects of Sugar on the Brain: Cravings and Inflammation" UVA Health. Diakses pada Maret 2026.
"A High-Sugar Diet Consumption, Metabolism and Health Impacts with a Focus on the Development of Substance Use Disorder: A Narrative Review" Nutrients. Diakses pada Maret 2026.
5 Efek Kebanyakan Makan Takjil Manis pada Otak saat Buka Puasa

Takjil sering identik dengan rasa manis karena dianggap cepat mengembalikan energi setelah berpuasa seharian, padahal konsumsi gula sederhana dalam jumlah tinggi pada waktu singkat dapat memicu perubahan kimiawi di otak yang tidak selalu disadari. Lonjakan glukosa darah yang terlalu cepat membuat kerja otak menyesuaikan diri secara mendadak, sehingga fungsi penting seperti fokus, daya ingat, hingga kejernihan berpikir bisa ikut terpengaruh.
Dampaknya tidak selalu terasa saat itu juga, tetapi kerap muncul beberapa jam setelah berbuka, terutama bila takjil manis dikonsumsi tanpa jeda atau tanpa kombinasi makanan lain. Kondisi ini perlu diperhatikan karena otak sangat sensitif terhadap fluktuasi gula darah yang ekstrem. Berikut lima efek tak terduga kebanyakan takjil manis pada otak.
1. Konsumsi gula berlebih menurunkan kemampuan fokus otak

Saat takjil manis dikonsumsi dalam jumlah besar sekaligus, kadar glukosa darah meningkat cepat sehingga otak menerima pasokan energi secara mendadak. Kondisi ini memicu pelepasan insulin tinggi yang kemudian menurunkan gula darah dalam waktu singkat. Penurunan tersebut membuat pasokan energi otak menjadi tidak stabil.
Akibatnya, muncul rasa sulit berkonsentrasi, pikiran terasa berat, serta kemampuan menyerap informasi menjadi menurun meskipun tubuh sudah tidak lapar. Efek ini sering terasa ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian seperti membaca atau bekerja setelah berbuka. Bila terjadi berulang, otak menjadi terbiasa bekerja dalam kondisi energi yang tidak seimbang.
2. Lonjakan gula memicu peradangan pada sel otak

Kadar gula darah tinggi dapat meningkatkan produksi zat pemicu peradangan di dalam tubuh, termasuk pada jaringan otak. Peradangan mikro muncul ketika sel saraf terpapar glukosa berlebih yang tidak segera digunakan sebagai energi. Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala langsung.
Namun, bila terjadi berulang, komunikasi antar sel saraf dapat terganggu sehingga kecepatan berpikir menjadi lebih lambat. Otak juga lebih mudah mengalami kelelahan mental karena kerja sel saraf tidak optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan efisiensi fungsi kognitif.
3. Asupan manis tinggi memicu efek ketagihan dopamin

Makanan manis merangsang pelepasan dopamin, zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang. Ketika takjil manis dikonsumsi berlebihan, pelepasan dopamin terjadi lebih tinggi sehingga otak merekam pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan. Hal ini membuat keinginan mengonsumsi makanan manis muncul kembali dalam waktu cepat.
Jika berlangsung terus-menerus, otak terbiasa membutuhkan rangsangan gula untuk memunculkan rasa nyaman. Kondisi ini membuat seseorang cenderung mencari makanan manis meskipun kebutuhan energi sudah terpenuhi. Akibatnya, pengaturan nafsu makan menjadi tidak seimbang.
4. Lonjakan glukosa menyebabkan sugar rush dan brain fog

Setelah mengonsumsi takjil manis, sebagian orang merasakan peningkatan energi mendadak yang dikenal sebagai sugar rush. Kondisi ini terjadi karena otak menerima pasokan glukosa dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Pada fase awal, seseorang dapat merasa lebih aktif dan waspada.
Namun, fase tersebut biasanya diikuti penurunan energi yang cepat karena insulin bekerja menurunkan gula darah secara drastis. Ketika penurunan terjadi, otak kekurangan bahan bakar stabil sehingga muncul pusing, lemas, dan sulit berpikir jernih yang dikenal sebagai brain fog. Kondisi ini sering muncul satu hingga dua jam setelah berbuka.
5. Paparan gula tinggi mempercepat penurunan fungsi hipokampus

Hipokampus merupakan bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori dan proses belajar. Paparan gula berlebih secara berulang dapat mengganggu metabolisme sel saraf di area tersebut. Hal ini membuat kerja hipokampus menjadi kurang efisien.
Akibatnya, kemampuan mengingat informasi baru dapat menurun dan proses belajar menjadi lebih lambat. Selain itu, stres oksidatif akibat gula tinggi juga mempercepat kerusakan sel saraf sehingga fungsi otak menurun lebih cepat. Dampaknya sering tidak terasa langsung, tetapi muncul perlahan.
Mengonsumsi takjil manis tetap aman selama jumlahnya terkontrol dan tidak dikonsumsi sekaligus dalam porsi besar. Memberi jeda sebelum makan utama serta menyeimbangkan asupan dengan serat dan protein membantu menjaga pasokan energi otak tetap stabil. Jika kebiasaan berbuka selalu diawali lonjakan gula tinggi, sudahkah pilihan takjil selama ini benar-benar mendukung kesehatan otak?
Referensi




![[QUIZ] Tes Singkat: Siapkah Tubuhmu untuk HYROX? Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20250504/alexandre-ricart-v1przledk2m-unsplash-b55e104fb9b73f68e2f7c4bd49f5520c.jpg)


![[QUIZ] Tes Risiko Diabetes Tipe 2: Rendah, Sedang, atau Tinggi?](https://image.idntimes.com/post/20241202/ilustrasi-diabetes-a970ff60706fe274f51b797693c4c27d.png)










