Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Gelombang Panas Mampu Membahayakan Nyawa Manusia?
Seorang pria beristirahat di bawah tanaman rindang saat terpapar gelombang panas. (commons.wikimedia.org/Hong Kong Free Press)
  • Gelombang panas di Eropa mendorong suhu hingga 39—41°C, jauh melampaui rata-rata sebelumnya, dan dapat berlanjut akibat perubahan iklim.
  • Panas ekstrem memicu heat stress karena tubuh sulit membuang panas, berisiko menyebabkan heat stroke, dehidrasi, pingsan, kerusakan jaringan, hingga gangguan organ vital.
  • Risiko kematian meningkat pada penderita penyakit tertentu, anak kecil, lansia, dan pekerja berat; pencegahan meliputi cukup minum, pakaian ringan, mineral, serta membatasi aktivitas luar ruang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sejak akhir bulan Mei tahun ini, masyarakat di Eropa sedang mengalami peristiwa bernama heat waves alias gelombang panas. Lonjakan suhu terjadi di mana-mana, khususnya wilayah Eropa Barat. Dilansir World Meteorological Organization, negara seperti Spanyol, Prancis, Belanda, Jerman, Hungaria, dan Austria mengalami lonjakan suhu antara 39—41 derajat Celsius pada siang hari. Bahkan, negara yang ada di sebelah utara Eropa seperti Britania Raya dan Denmark, maupun negara yang ada di ketinggian seperti Swiss, juga mengalami lonjakan suhu antara 37—39 derajat Celcius selama Bulan Juni kemarin.

Hal ini jelas bukan hal yang wajar, sekalipun saat ini wilayah Eropa Barat memang sedang memasuki musim panas. Sebab, di tahun-tahun sebelumnya, rata-rata suhunya sekitar 24 derajat Celsius dengan beberapa titik terpanas “hanya” mencapai 36 derajat Celcius. Peningkatan temperatur ini diperkirakan akan terus terjadi, tak hanya pada tahun ini, melainkan pada tahun-tahun mendatang karena dampak dari perubahan iklim di Bumi.

Namun, kali ini kita tidak akan berbicara soal penyebab terjadinya gelombang panas di Eropa maupun belahan Bumi lain. Ada topik yang penting terkait fenomena ini terhadap manusia, yakni pengaruhnya terhadap kesehatan kita. Sebab, ada banyak kasus serangan panas dan beberapa penyakit lain yang menerpa masyarakat Eropa akibat gelombang panas belakangan ini. Malahan, World Health Organization (WHO) menyebut kalau gelombang panas menyebabkan kematian akibat panas dengan korban ditaksir ribuan jiwa tiap tahunnya.

Lantas, apa yang menyebabkan gelombang panas sangat berbahaya bagi manusia? Kenapa fenomena ini mampu menyebabkan kematian pada manusia? Dan pada akhirnya, bagaimana cara kita mengatasi ataupun beradaptasi pada lonjakan suhu yang ekstrem? Tanpa basa-basi lagi, yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

1. Berbagai masalah kesehatan akibat terpapar gelombang panas

Warga Kota Berlin bermain air untuk meredam panas ketika gelombang panas melanda. (commons.,wikimedia.org/Roy Zuo)

World Meteorological Organization melansir kalau serangan panas secara intensif membuat tubuh manusia mengalami heat stress, yakni sebuah kondisi dimana tubuh lebih banyak menyerap panas daripada yang bisa dikeluarkan. Dalam kasus yang terjadi di Eropa, gelombang panas tak hanya berlangsung pada siang hari, melainkan terus berlanjut hingga malam yang ditandai dengan suhu jauh lebih tinggi dari biasanya.

Akibat dari fenomena itu, tubuh kita yang seharusnya bisa melepas panas berlebih di malam hari, jadi terpaksa terus “menyimpannya”. Ketika malam berganti lagi jadi siang, tubuh yang sudah terserang panas sehari sebelumnya pun sudah masuk dalam fase stres akibat panas yang tidak “terbuang” secara maksimal.

Selain itu, kita juga sebenarnya punya mekanisme alami untuk mendinginkan tubuh dari panas berlebih, yakni lewat keringat ataupun meningkatkan aliran darah ke kulit. Namun, ketika udara di sekitar jadi terlalu panas dan lembab, mekanisme alami itu sulit mengimbangi peningkatan panas yang mengakibatkan suhu inti tubuh ikut melonjak. Kalau begitu, maka tubuh kita jadi semakin mudah terserang berbagai penyakit lain.

Dilansir US Centers for Disease Control and Prevention, penyakit yang paling berbahaya adalah heat stroke, yaitu kondisi ketika tubuh tidak lagi mampu mengendalikan suhu tubuh. Penyakit ini ditandai dengan tak adanya keringat, kondisi mental yang kurang stabil, peningkatan suhu tubuh sampai 41 derajat Celsius dalam waktu cepat, kejang-kejang, hingga kehilangan kesadaran. Kalau tidak ditangani dengan cepat dan maksimal, heat stroke diketahui mampu merenggut nyawa seseorang karena merusak fungsi organ-organ vital di tubuh.

Tak hanya heat stroke, gelombang panas juga ikut memicu penyakit lain yang tak kalah berbahaya. Misalnya, kelelahan akibat panas yang ditandai dengan hilangnya cairan tubuh dan kadar garam, Rhabdomyolysis yang terjadi ketika tubuh sedang melakukan aktivitas berat dan mengalami stres panas sehingga jaringan tubuh jadi robek atau rusak, sinkop panas yang mengakibatkan seseorang sering pusing atau pingsan saat berada di lingkungan panas, serta kram panas dan iritasi kulit akibat terpapar sinar Matahari secara intensif.

2. Mengapa gelombang panas menyebabkan kematian?

pria menyemprotkan air ke tubuhnya karena tak tahan dengan panas (commons.wikimedia.org/Instant Vantage)

Sebelumnya sudah disebutkan kalau penyakit heat stroke yang timbul akibat gelombang panas mampu merenggut korban jiwa. Namun, sebenarnya bahaya dari gelombang panas yang menyebabkan kematian itu tak hanya sebatas pada heat stroke. WHO melansir kalau sebenarnya panas berlebih akibat gelombang panas sering memperparah kondisi medis yang sebelumnya sudah dimiliki seseorang.

Beberapa penyakit berbahaya yang bisa jadi semakin parah ketika seseorang mengalami sengatan panas berlebih adalah diabetes penyakit kardiovaskular (stroke, gagal jantung, dan sebagainya), masalah pada ginjal, penyakit pernafasan, sampai masalah mental. Selain itu, disebutkan pula kalau ada beberapa kelompok yang terbilang sangat rentan terhadap dampak berbahaya dari sengatan gelombang panas.

Misalnya, WHO dalam modul “Preventing harmful health effects of heat-waves”, menuliskan kelompok anak di bawah 4 tahun jadi salah satu yang paling rentan karena masih sangat sensitif pada perubahan temperatur yang ekstrem dan mekanisme pendinginan tubuh yang belum maksimal. Selain itu, kelompok usia di atas 65 tahun juga sama rentannya karena tubuh kelompok ini semakin sulit untuk merespon peningkatan suhu secara ekstrem.

Tak hanya kelompok usia, orang-orang dengan berat badan berlebih, terlalu banyak melakukan aktivitas fisik berat di bawah terik Matahari, dan orang dengan penyakit fisik bawaan turut berpotensi jadi korban dari sengatan panas berlebih ketika gelombang panas melanda.

3. Tips agar terhindar dari bahaya gelombang panas

Rutin meminum air putih jadi salah satu cara untuk mengatasi sengatan gelombang panas. (commons.wikimedia.org/CEphoto, Uwe Aranas)

Sebenarnya, tidak perlu menunggu untuk menjadi kelompok rentan terlebih dahulu untuk mulai menjaga tubuh dari sengatan panas berlebih. Gelombang panas yang terjadi di Eropa itu bukan bencana sementara yang hanya terjadi di regional tersebut saja. Secara umum, suhu permukaan Bumi terus mengalami peningkatan akibat aktivitas manusia. Maka dari itu, peningkatan temperatur sebenarnya bisa terjadi di mana saja, termasuk Indonesia.

Untuk itu, ada sejumlah tips yang direkomendasikan WHO supaya tubuh kita dapat beradaptasi dan mengatasi gelombang panas di lingkungan, yaitu:

  • Rutin minum air putih karena salah satu tanda tubuh mulai tersengat panas berlebih adalah dehidrasi. Malahan, pada hari yang benar-benar panas, disarankan untuk minum 2—4 gelas air putih tiap jam agar terhindar dari dehidrasi dan tubuh mampu meregulasi suhu dengan baik;

  • Gunakan pakaian yang sesuai dengan suhu panas, semisal pakaian berwarna cerah, ringan, tidak ketat, dan dilengkapi dengan bahan yang menolak panas. Kalau perlu, tambah pula aksesoris ataupun melapisi kulit dengan material penghalau panas lain, semisal kacamata hitam, topi, hingga krim anti sengatan Matahari;

  • Selalu ingat untuk mengganti kadar garam dan mineral dalam tubuh dengan cara mengonsumsi makanan atau minuman yang tinggi mineral dan kadar garam yang cukup. Sebab, keringat yang bercucuran ketika tubuh tersengat gelombang panas itu mengurangi kadar garam dan mineral dalam tubuh yang penting agar siklus keringat tetap terjaga untuk mendinginkan tubuh;

  • Kurangi aktivitas di luar ruangan. Jika tidak ada urgensi, lebih baik tetap berada di dalam ruangan dengan pendingin supaya tubuh tidak tersengat panas secara langsung. Kalau memang harus berolahraga, konsultasikan porsi dan intensitasnya pada ahli supaya tubuh bisa tetap bergerak, tapi tidak berlebihan sampai tersengat panas.

Itu dia beberapa fakta dari gelombang panas yang belakangan sedang menerpa Eropa. Fenomena ini jelas bisa menimpa wilayah mana pun di Bumi mengingat pemanasan global masih jadi isu yang belum terselesaikan. Untuk itu, selalu kenali potensi bahaya dan waspadai sengatan panas berlebih supaya kita bisa mengatasinya jika suatu saat wilayah Indonesia mengalami fenomena yang serupa, ya!

Referensi

“Western Europe Has Hottest June on Record.” World Meteorological Organization (WMO). Diakses Agustus 2026.

“Heatwaves.” World Health Organization (WHO) Regional Office for Europe. Diakses Agustus 2026.

“Climate Change, Heat and Health.” World Health Organization (WHO). Diakses Agustus 2026.

“Extreme Heat.” World Meteorological Organization (WMO). Diakses Agustus 2026.

“Heatwaves and Health: Guidance on Warning Systems and Preparedness.” United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). Diakses Agustus 2026.

“Heat-Related Illnesses.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article