Sejak akhir bulan Mei tahun ini, masyarakat di Eropa sedang mengalami peristiwa bernama heat waves alias gelombang panas. Lonjakan suhu terjadi di mana-mana, khususnya wilayah Eropa Barat. Dilansir World Meteorological Organization, negara seperti Spanyol, Prancis, Belanda, Jerman, Hungaria, dan Austria mengalami lonjakan suhu antara 39—41 derajat Celsius pada siang hari. Bahkan, negara yang ada di sebelah utara Eropa seperti Britania Raya dan Denmark, maupun negara yang ada di ketinggian seperti Swiss, juga mengalami lonjakan suhu antara 37—39 derajat Celcius selama Bulan Juni kemarin.
Hal ini jelas bukan hal yang wajar, sekalipun saat ini wilayah Eropa Barat memang sedang memasuki musim panas. Sebab, di tahun-tahun sebelumnya, rata-rata suhunya sekitar 24 derajat Celsius dengan beberapa titik terpanas “hanya” mencapai 36 derajat Celcius. Peningkatan temperatur ini diperkirakan akan terus terjadi, tak hanya pada tahun ini, melainkan pada tahun-tahun mendatang karena dampak dari perubahan iklim di Bumi.
Namun, kali ini kita tidak akan berbicara soal penyebab terjadinya gelombang panas di Eropa maupun belahan Bumi lain. Ada topik yang penting terkait fenomena ini terhadap manusia, yakni pengaruhnya terhadap kesehatan kita. Sebab, ada banyak kasus serangan panas dan beberapa penyakit lain yang menerpa masyarakat Eropa akibat gelombang panas belakangan ini. Malahan, World Health Organization (WHO) menyebut kalau gelombang panas menyebabkan kematian akibat panas dengan korban ditaksir ribuan jiwa tiap tahunnya.
Lantas, apa yang menyebabkan gelombang panas sangat berbahaya bagi manusia? Kenapa fenomena ini mampu menyebabkan kematian pada manusia? Dan pada akhirnya, bagaimana cara kita mengatasi ataupun beradaptasi pada lonjakan suhu yang ekstrem? Tanpa basa-basi lagi, yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
