Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Gula Darah Turun saat Puasa? Ini Penjelasan Detailnya
ilustrasi gula darah (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)
  • Gula darah turun saat puasa karena cadangan glikogen tubuh terbatas dan habis setelah beberapa jam.

  • Respons hormon seperti insulin dapat mempercepat penurunan gula darah, terutama jika sahur tinggi gula.

  • Pola makan dan kondisi kesehatan sangat menentukan stabilitas gula darah selama puasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa membuat tubuh mengalami perubahan ritme energi karena tidak ada asupan makanan selama berjam-jam. Sementara, aktivitas harian tetap berjalan seperti biasa. Kondisi tersebut sering memunculkan rasa lemas, pusing ringan, hingga sulit berkonsentrasi yang berkaitan erat dengan penurunan kadar glukosa dalam darah.

Fenomena itu sebenarnya merupakan proses biologis normal yang dipengaruhi oleh cadangan energi, kerja hormon, hingga pola makan sebelum puasa dimulai. Banyak orang belum memahami mekanisme tersebut secara spesifik sehingga muncul pertanyaan mendasar, termasuk soal kenapa gula darah turun saat puasa? Mari, pahami penjelasannya secara sistematis berikut ini.

1. Tubuh menghabiskan cadangan energi sejak awal puasa

ilustrasi gula darah (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)

Tubuh manusia memiliki sistem penyimpanan energi yang berfungsi sebagai tabungan darurat ketika makanan tidak masuk dalam waktu tertentu. Cadangan utama tersebut berupa glikogen, bentuk simpanan glukosa yang tersimpan di hati dan otot setelah seseorang mengonsumsi makanan berkarbohidrat. Proses penyimpanan ini sebenarnya merupakan strategi agar tubuh tetap memiliki sumber energi ketika terjadi jeda makan yang panjang, termasuk saat menjalani puasa.

Setelah puasa dimulai, tubuh langsung berhenti menerima pasokan glukosa baru dari makanan. Kondisi tersebut membuat sistem metabolisme secara otomatis beralih menggunakan cadangan glikogen sebagai sumber energi utama. Hati memecah glikogen melalui proses yang disebut glikogenolisis, kemudian melepaskan glukosa ke aliran darah agar kadar gula tetap berada dalam batas normal untuk menjaga fungsi otak, otot, dan organ vital lainnya.

Cadangan glikogen memiliki kapasitas yang terbatas sehingga tidak dapat digunakan dalam waktu lama. Umumnya, simpanan energi tersebut hanya mampu mencukupi kebutuhan tubuh selama sekitar 8 hingga 12 jam pertama puasa, tergantung aktivitas fisik dan kondisi metabolisme masing-masing individu. Ketika cadangan tersebut mulai menipis, hati tidak lagi mampu mempertahankan pelepasan glukosa secara optimal sehingga kadar gula darah mulai menurun secara bertahap.

Perubahan ini memicu adaptasi metabolisme lanjutan berupa peralihan sumber energi dari glukosa ke lemak. Proses tersebut dikenal sebagai lipolisis, yang berarti pemecahan jaringan lemak menjadi asam lemak, dan keton sebagai bahan bakar alternatif. Adaptasi tersebut tidak berlangsung secepat penggunaan glukosa sehingga tubuh mengalami fase transisi energi, yang sering dirasakan dalam bentuk lemas, mengantuk, atau sulit berkonsentrasi pada jam-jam tertentu selama puasa.

2. Respons hormon insulin tetap berlangsung

ilustrasi insulin (vecteezy.com/Srinrat Wuttichaikitcharoen)

Insulin merupakan hormon yang berfungsi mengatur kadar gula darah dengan membantu sel tubuh menyerap glukosa dari aliran darah. Produksi hormon ini tidak berhenti secara mendadak saat puasa dimulai karena sistem endokrin masih merespons kondisi metabolisme sebelumnya. Situasi tersebut terutama terjadi jika seseorang mengonsumsi makanan tinggi gula pada malam hari atau saat sahur.

Lonjakan insulin yang masih aktif pada awal puasa dapat menyebabkan penyerapan glukosa berlangsung secara intens dalam beberapa jam pertama. Sel tubuh terus mengambil glukosa dari aliran darah, sementara tidak ada asupan baru yang masuk sebagai pengganti. Kondisi tersebut membuat kadar gula darah turun lebih cepat dibandingkan keadaan normal sehingga muncul gejala, seperti lemas, pusing ringan, atau penurunan fokus.

Fenomena tersebut sering terjadi pada individu yang mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti minuman manis, roti putih, atau makanan olahan tinggi gula. Makanan jenis ini meningkatkan kadar gula darah secara cepat, lalu tubuh merespons dengan memproduksi insulin dalam jumlah besar. Respons insulin yang berlebihan tersebut justru menyebabkan penurunan gula secara drastis beberapa jam kemudian.

Selain insulin, hormon lain seperti glukagon dan kortisol juga berperan menjaga keseimbangan gula darah selama puasa. Glukagon membantu meningkatkan kadar gula dengan memicu pemecahan glikogen di hati, sedangkan kortisol berperan mempertahankan ketersediaan energi melalui regulasi metabolisme lemak dan protein. Interaksi kompleks antarhormon tersebut menentukan stabilitas kadar gula sepanjang hari.

3. Pola makan sahur menentukan kestabilan metabolisme

ilustrasi makan sahur (vecteezy.com/Patlivia Nuswantito)

Komposisi makanan sahur sangat memengaruhi kestabilan energi selama puasa. Itu karena jenis nutrisi menentukan kecepatan pelepasan glukosa ke dalam aliran darah. Karbohidrat sederhana cenderung mudah dicerna sehingga menghasilkan lonjakan gula darah dalam waktu singkat, kemudian diikuti penurunan drastis akibat respons insulin yang kuat.

Karbohidrat kompleks, seperti beras merah, gandum utuh, atau sumber pati alami, memiliki struktur molekul yang lebih panjang sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Proses pencernaan yang bertahap tersebut membuat glukosa dilepaskan secara perlahan ke dalam darah. Karena itu, energi dapat bertahan lebih stabil sepanjang hari puasa.

Kandungan serat dalam makanan juga berperan penting dalam menjaga kestabilan gula darah. Serat membentuk gel di dalam sistem pencernaan yang memperlambat penyerapan glukosa sekaligus menunda pengosongan lambung. Kondisi tersebut membantu mencegah lonjakan gula yang terlalu tinggi maupun penurunan yang terlalu cepat.

Protein dan lemak sehat turut membantu mempertahankan energi karena membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibandingkan karbohidrat sederhana. Kombinasi nutrisi seimbang antara karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat membuat metabolisme bekerja lebih stabil. Dengan begitu, tubuh mampu mempertahankan kadar gula darah dalam rentang aman selama puasa.

4. Kondisi kesehatan mempercepat penurunan gula darah

ilustrasi diabetes (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)

Beberapa kondisi medis dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami penurunan gula darah selama puasa. Diabetes merupakan salah satu faktor utama. Itu karena penderita sering menggunakan obat penurun gula atau insulin yang meningkatkan risiko hipoglikemia jika dosisnya tidak disesuaikan dengan pola makan puasa.

Penggunaan insulin atau obat tertentu dapat menyebabkan penurunan gula darah secara berlebihan. Itu karena hormon tetap bekerja menurunkan kadar glukosa meski asupan makanan berkurang. Kondisi tersebut berpotensi memicu gejala serius, seperti gemetar, keringat dingin, pusing, hingga kehilangan kesadaran jika tidak segera ditangani.

Hipoglikemia reaktif juga dapat terjadi setelah berbuka ketika seseorang mengonsumsi makanan sangat manis dalam jumlah besar. Lonjakan gula darah yang cepat memicu produksi insulin tinggi sehingga kadar gula justru turun drastis dalam beberapa jam setelah makan. Situasi tersebut sering membuat tubuh terasa sangat lemas pada malam hari.

Gangguan fungsi hati turut memengaruhi kestabilan gula darah karena organ ini berperan menyimpan dan melepaskan glikogen sebagai sumber energi. Ketika fungsi hati terganggu, kemampuan tubuh mempertahankan kadar gula menjadi berkurang sehingga penurunan terjadi lebih cepat selama puasa. Kondisi malnutrisi, gangguan hormon, dan aktivitas fisik berlebihan tanpa asupan nutrisi memadai juga dapat mempercepat penurunan gula darah.

Penurunan energi saat berpuasa sebenarnya merupakan bagian dari adaptasi tubuh yang terjadi secara alami. Itu sebabnya, pemahaman yang tepat dapat membantu kamu menyikapinya secara lebih rasional tanpa rasa khawatir berlebihan. Pengetahuan tersebut juga membuat kamu mampu mengatur pola makan secara lebih terarah agar kadar gula tetap stabil sepanjang hari. Menurut kamu, kebiasaan makan selama sahur selama ini sudah benar-benar mendukung ketahanan energi atau justru masih sering membuat tubuh terasa cepat lemas?

Referensi
"Avoid Hypoglycemia When Fasting in the Following Ways!". EMC Healthcare. Diakses Februari 2026.
"Intermittent fasting for type 2 diabetes". Medical News Today. Diakses Februari 2026.
"Low Blood Sugar (Hypoglycemia)". CDC. Diakses Februari 2026.
"Physiology, Fasting". StatPearls. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎