Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Dampak Berbahaya Tidak Sahur saat Berpuasa, Jangan Dilakukan ya!

7 Dampak Berbahaya Tidak Sahur saat Berpuasa, Jangan Dilakukan ya!
ilustrasi bangun kesiangan, akhirnya puasa tanpa sahur (Freepik.com/stockking)
Intinya Sih
  • Puasa tanpa sahur dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik, termasuk gula darah tidak stabil dan resistensi insulin.

  • Melewatkan makan sahur juga dapat memperburuk suasana hati, sistem imun, dan daya konsentrasi, terutama pada anak-anak dan remaja.

  • Dalam kondisi tertentu, puasa tanpa sahur dapat berbahaya dan menjadi alasan kuat untuk membatalkan puasa demi kesehatan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Secara medis, sahur berfungsi sebagai "sarapan" saat puasa Ramadhan, makanan terakhir sebelum tubuh mengalami periode puasa panjang. Jika terlewat dan tubuh langsung berpuasa dari malam sebelumnya hingga waktu berbuka, rentang tanpa asupan energi menjadi sangat panjang. Bagi sebagian orang, tubuh bereaksi secara fisiologis ketika tidak ada nutrisi yang masuk dalam waktu yang lama.

Beragam penelitian tentang meal skipping, khususnya melewatkan sarapan, menunjukkan bahwa meninggalkan makanan utama pagi hari dapat berpengaruh pada metabolisme, gula darah, respons hormonal, dan bahkan keseimbangan energi tubuh. Ini memiliki kesesuaian konsep dengan situasi puasa tanpa sahur, karena tubuh berada dalam keadaan berpuasa berkepanjangan yang serupa dengan breakfast skipping dalam penelitian nutrisi.

Puasa membawa banyak manfaat jika dilakukan dengan benar dan tubuh menerima energi cukup saat waktu makan dan minum. Namun, ketika kamu tidak sahur, tubuh menghadapi sejumlah tantangan fisiologis yang penting dipahami, terutama bagi anak-anak, orang dengan kondisi kesehatan tertentu, atau mereka yang menjalankan aktivitas berat sepanjang hari.

1. Gula darah tidak stabil dan risiko hipoglikemia

Konsensus penelitian menunjukkan bahwa melewatkan makanan pagi dapat membuat tubuh mengalami periode puasa yang terlalu panjang, yang sering berujung pada fluktuasi gula darah dan lonjakan insulin setelah makan besar berikutnya.^turn0search0 Dalam konteks puasa tanpa sahur, risiko hipoglikemia (gula darah rendah) bisa meningkat, terutama pada anak-anak dan individu yang sensitif terhadap perubahan glukosa.

Gula darah rendah dapat menyebabkan pusing, gemetar, lemas, dan sulit berkonsentrasi pada siang hari. Jika kamu bekerja atau sekolah saat puasa Ramadan, ini bisa mengganggu performa baik secara fisik maupun mental. Studi tentang breakfast skipping menunjukkan bahwa tubuh menyesuaikan metabolisme saat tidak ada asupan energi pagi hari, yang berpotensi memperburuk regulasi gula darah.

Beberapa studi juga menunjukkan bahwa periode puasa panjang tanpa sahur dapat memperlambat respon insulin, hormon yang membantu tubuh memproses glukosa, sehingga tubuh harus bekerja lebih keras setelah buka puasa.

2. Penurunan energi dan konsentrasi

Seorang perempuan kesulitan berkonsentrasi.
ilustrasi sulit berkonsentrasi (pexels.com/MART PRODUCTION)

Energi untuk berpikir dan bergerak berasal dari glukosa yang diperoleh dari makanan. Kalau kamu tidak sahur, tubuh tidak memiliki cukup sumber bahan bakar di awal hari. Efeknya mirip dengan yang ditemukan pada orang yang melewatkan sarapan dalam studi metabolik, yaitu penurunan energi, mudah merasa lemas, dan lebih cepat lelah seiring berjalannya hari.

Apabila tubuh kekurangan nutrisi penting sejak pagi, fungsi otak juga dapat terpengaruh. Penelitian telah menghubungkan waktu makan dengan fungsi kognitif, mood, dan fokus, terutama pada anak-anak dan remaja.

3. Kelebihan konsumsi kalori pada waktu makan berikutnya

Studi menunjukkan bahwa melewatkan satu kali makanan utama sering membuat orang makan lebih banyak pada waktu makan berikutnya, karena tubuh berusaha “mengejar” energi yang hilang.

Dalam konteks puasa tanpa sahur, ini bisa menyebabkan pola makan yang tidak seimbang saat berbuka: kamu makan dalam porsi besar/banyak sekaligus, yang bisa menimbulkan tekanan pada sistem pencernaan dan metabolisme. Meskipun total kalori harian mungkin lebih rendah, tetapi kualitas dan ritme makan yang tidak konsisten berpotensi memengaruhi kesehatan jangka panjang.

4. Gangguan mood dan naiknya tingkat stres

Ilustrasi seorang perempuan mengalami gangguan mood karena puasa tanpa sahur.
ilustrasi seorang perempuan mengalami gangguan mood karena puasa tanpa sahur (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Puasa tanpa sahur berarti tubuh berada di bawah periode puasa yang lebih lama, yang dapat memicu respons hormonal stres, termasuk peningkatan hormon kortisol. Penelitian telah mengaitkan pola makan seperti ini dengan perubahan mood, mudah marah, dan peningkatan tingkat kecemasan.

Kondisi ini paling terasa saat seseorang menjalankan aktivitas sehari penuh tanpa sumber energi yang memadai, seperti saat kerja, sekolah, atau beribadah, sehingga puasa jadi terasa lebih berat secara psikologis ketimbang jika sebelumnya sahur.

5. Metabolisme lemah dan potensi perubahan berat badan

Menurut penelitian, melewatkan makan pagi mengacaukan ritme metabolisme dan dapat menciptakan apa yang disebut metabolic inflexibility, kondisi ketika tubuh menjadi kurang efisien dalam menggunakan energi selama periode puasa dan makan.

Akibatnya, tubuh cenderung menyimpan lebih banyak energi sebagai lemak atau menurunkan tingkat metabolisme untuk menghemat energi, yang ironisnya bisa membuat pengaturan berat badan menjadi lebih sulit dalam jangka panjang.

6. Dampak pada sistem imun

Berdoa sebelum makan sahur.
ilustrasi makan sahur (pexels.com/Sami Abdullah)

Beberapa penelitian awal dan studi pada hewan menunjukkan puasa sangat lama tanpa asupan nutrisi bisa mengubah cara kerja sistem kekebalan.

Saat tubuh kekurangan makanan dalam waktu panjang, sel‑sel imun bisa berpindah tempat dan fungsi—sebagian sumber daya dialihkan untuk membuat sel darah baru (hematopoiesis) daripada mempertahankan respons imun aktif. Artinya, dalam kondisi ekstrem seperti itu, tubuh menata ulang prioritasnya: mempertahankan fungsi dasar hidup dulu, sementara kemampuan melawan infeksi menurun sementara. Meski begitu, pada manusia efeknya tergantung lama dan jenis puasa serta kondisi kesehatan masing‑masing.

Walaupun bukti langsung pada manusia masih berkembang, tetapi konsep ini relevan dalam puasa tanpa sahur karena keterbatasan nutrisi dapat membuat tubuh berada dalam keadaan “stres metabolik” lebih lama, yang mungkin berdampak pada kemampuan tubuh menghadapi infeksi atau inflamasi ringan.

7. Keseimbangan nutrisi yang tidak optimal

Tidak sahur berarti tubuh tidak punya kesempatan untuk mengisi nutrisi harian yang diperlukan, seperti serat, vitamin, mineral, protein, dan lemak sehat.

Studi menunjukkan bahwa kualitas diet cenderung menurun saat sebagian besar asupan energi dikompensasi pada satu waktu makan besar, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan jangka panjang.

Kekurangan nutrisi penting dapat memengaruhi kulit, rambut, tulang, fungsi otot, dan keseimbangan hormon, walau efek ini biasanya baru terasa dalam jangka waktu lebih panjang jika pola makan tidak seimbang berlanjut.

Kapan sebaiknya membatalkan puasa?

Seorang perempuan minum air putih.
ilustrasi perempuan minum air putih (freepik.com/freepik)

Ada kondisi medis serius yang menurut para ahli disarankan untuk tidak melanjutkan puasa atau berkonsultasi dengan dokter, antara lain:

  • Hipoglikemia berat yang menyebabkan pingsan, gemetar hebat, atau kebingungan.
  • Dehidrasi parah yang menyebabkan detak jantung cepat, pusing hebat, atau kulit sangat kering.
  • Riwayat penyakit kronis yang menjadi lebih buruk saat puasa, misalnya diabetes dengan pengaturan gula darah buruk.
  • Gangguan ritme jantung, tekanan darah yang sangat tinggi atau sangat rendah, atau tanda-tanda serangan kardiovaskular.

Jika gejala ringan seperti lemas atau pusing ringan, istirahat dan konsumsi cairan saat berbuka biasanya cukup. Namun, gejala berat harus dipandang serius dan membatalkan puasa mungkin perlu demi keselamatan.

Secara fisiologis, puasa tanpa sahur berarti tubuh menghadapi periode puasa yang sangat panjang, yang dapat memengaruhi gula darah, energi, metabolisme, mood, sistem imun, dan keseimbangan nutrisi secara komprehensif jika dilakukan berulang tanpa strategi nutrisi yang tepat.

Melewatkan sahur bukanlah pilihan yang dianjurkan bagi kebanyakan orang, terutama bagi mereka dengan aktivitas berat, kondisi medis tertentu, atau anak-anak.

Referensi

Tatiana Palotta Minari and Luciana Pellegrini Pisani, “Skipping Breakfast and Its Wide-ranging Health Consequences: A Systematic Review From Multiple Metabolic Disruptions to Socioeconomic Factors,” Nutrition Research 141 (July 28, 2025): 34–45, https://doi.org/10.1016/j.nutres.2025.07.006.

Alessa Nas et al., “Impact of Breakfast Skipping Compared With Dinner Skipping on Regulation of Energy Balance and Metabolic Risk ,” American Journal of Clinical Nutrition 105, no. 6 (May 16, 2017): 1351–61, https://doi.org/10.3945/ajcn.116.151332.

Eliana Zeballos and Jessica E Todd, “The Effects of Skipping a Meal on Daily Energy Intake and Diet Quality,” Public Health Nutrition 23, no. 18 (May 13, 2020): 3346–55, https://doi.org/10.1017/s1368980020000683.

“Skipping breakfast and fasting may compromise the immune system." Medical News Today. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More