Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tips Sahur agar Imun Tetap Prima saat Puasa Ramadan

Tips Sahur agar Imun Tetap Prima saat Puasa Ramadan
ilustrasi makan sahur (pexels.com/Thirdman)
Intinya Sih
  • Asupan protein, mikronutrien, dan hidrasi saat sahur berperan penting dalam menjaga fungsi sel imun.

  • Kualitas pola makan dan tidur saat Ramadan lebih menentukan daya tahan tubuh dibanding sekadar jumlah kalori.

  • Defisiensi vitamin dan mineral tertentu terbukti menurunkan respons imun dan meningkatkan risiko infeksi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ritme makan, tidur, dan metabolisme mengalami perubahan saat Ramadan. Selama kurang lebih 12–14 jam (bahkan lebih di beberapa wilayah), tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman. Dalam kondisi ini, sistem imun tetap bekerja tanpa henti melawan patogen, memperbaiki jaringan, dan menjaga keseimbangan inflamasi.

Sistem kekebalan tubuh sangat bergantung pada ketersediaan energi dan nutrisi. Protein membangun antibodi, vitamin dan mineral mendukung fungsi sel imun, sementara hidrasi menjaga sirkulasi sel pertahanan tubuh. Ketika asupan tidak optimal, respons imun bisa melemah. Penelitian menegaskan bahwa status gizi memiliki pengaruh langsung terhadap fungsi imun bawaan dan adaptif.

Puasa yang dilakukan dengan pola makan seimbang tidak serta-merta melemahkan imun. Bahkan, beberapa studi menunjukkan puasa intermiten dapat memiliki efek regulasi inflamasi dalam kondisi tertentu. Namun, tanpa perencanaan sahur yang tepat, tubuh bisa mengalami defisit nutrisi penting. Nah, di sini sinilah sahur bisa berperan. Berikut ini tips sahur agar sistem imun optimal saat puasa Ramadan.

Table of Content

1. Prioritaskan protein berkualitas tinggi

1. Prioritaskan protein berkualitas tinggi

Protein adalah fondasi sistem imun. Antibodi, sitokin, dan banyak komponen sel imun tersusun dari asam amino. Tanpa asupan protein yang cukup, produksi antibodi dapat terganggu. Kecukupan protein sangat penting untuk mempertahankan fungsi imun, terutama selama periode stres metabolik.

Saat sahur, pilih sumber protein berkualitas seperti telur, ikan, ayam tanpa lemak, tahu, tempe, atau yoghurt. Protein hewani menyediakan asam amino esensial lengkap, sementara kombinasi protein nabati juga dapat mencukupi kebutuhan jika dikonsumsi secara variatif.

Penelitian menunjukkan kekurangan protein dapat menyebabkan penurunan jumlah dan fungsi sel T, salah satu komponen penting sistem imun adaptif. Karena sahur adalah waktu makan terakhir sebelum puasa panjang, asupan protein yang cukup membantu menjaga stabilitas fungsi imun sepanjang hari.

2. Dapatkan asupan mikronutrien penting: vitamin C, D, zink, dan zat besi

Nasi merah, ayam panggang, dan sayuran.
Nasi merah, ayam panggang, dan sayuran (freepik.com/topntp26)

Sistem imun sangat bergantung pada mikronutrien.

  • Vitamin C berperan dalam fungsi neutrofil dan sebagai antioksidan.
  • Zink penting untuk perkembangan dan fungsi sel imun.
  • Vitamin D berperan dalam modulasi respon inflamasi.

Defisiensi zink terbukti meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Sementara itu, vitamin D dikaitkan dengan regulasi respons imun dan penurunan risiko infeksi saluran napas dalam beberapa studi.

Menu sahur sebaiknya mencakup buah segar (jeruk, kiwi), sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan berlemak, serta telur. Variasi makanan alami jauh lebih dianjurkan dibanding mengandalkan suplemen tanpa indikasi medis.

3. Pastikan asupan serat dan kesehatan mikrobiota usus

Sekitar 70 persen sistem imun terkait dengan jaringan limfoid di saluran cerna. Keseimbangan mikrobiota usus memengaruhi respons imun sistemik. Serat pangan berfungsi sebagai prebiotik, makanan bagi bakteri baik di usus.

Penelitian menunjukkan pola makan tinggi serat dapat meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek (SCFA), yang berperan dalam regulasi inflamasi dan fungsi imun. Tanpa asupan serat cukup saat sahur, keseimbangan mikrobiota dapat terganggu.

Tambahkan oat, roti gandum utuh, buah, dan sayuran dalam sahur. Kombinasi ini membantu menjaga kesehatan pencernaan sekaligus mendukung daya tahan tubuh selama puasa.

4. Hidrasi yang cukup

Seorang laki-laki minum air mineral dari botol.
ilustrasi minum air mineral (pexels.com/Gustavo Fring)

Air bukan sekadar penghilang haus. Hidrasi memengaruhi sirkulasi darah dan limfa, media transportasi sel imun ke seluruh tubuh. Dehidrasi ringan sekalipun dapat memengaruhi performa fisik dan kognitif.

Selama puasa, risiko dehidrasi meningkat, terutama jika kamu tinggal di wilayah dengan iklim panas. Oleh karena itu, sahur menjadi waktu krusial untuk memenuhi kebutuhan cairan.

Minumlah air putih secara bertahap saat sahur. Hindari minuman berkafein berlebihan karena bersifat diuretik ringan yang dapat meningkatkan kehilangan cairan.

5. Pilih karbohidrat kompleks untuk stabilitas energi

Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau roti gandum memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding karbohidrat sederhana. Ini membantu menjaga stabilitas gula darah lebih lama.

Lonjakan dan penurunan gula darah yang drastis dapat memicu stres metabolik. Penelitian menunjukkan kontrol glukosa yang baik mendukung fungsi imun lebih optimal dibanding kondisi hiperglikemia atau hipoglikemia.

Dengan energi yang stabil, tubuh tidak perlu mengaktifkan respons stres berlebihan yang dapat memengaruhi sistem imun.

6. Batasi gula berlebih dan makanan ultraproses

Memotong-motong dada ayam rebus.
ilustrasi dada ayam rebus (freepik.com/freepik)

Asupan gula berlebihan dikaitkan dengan peningkatan inflamasi sistemik. Diet tinggi gula dan lemak jenuh dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi imun bawaan (garis pertahanan pertama tubuh yang langsung merespons penyusup seperti bakteri, virus, dan jamur).

Makanan ultraproses sering rendah serat dan mikronutrien, tetapi tinggi kalori kosong. Saat sahur, ini bisa membuat kenyang cepat tanpa memberi nutrisi yang cukup untuk mendukung sistem imun sepanjang hari.

Memilih makanan alami dan yang prosesnya minimal membantu memastikan tubuh mendapat nutrisi esensial yang dibutuhkan.

7. Perhatikan waktu dan kualitas tidur

Sahur sering membuat waktu tidur terfragmentasi (terpotong-potong). Padahal, tidur adalah regulator utama sistem imun. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan produksi sitokin protektif dan meningkatkan risiko infeksi.

Orang yang tidur kurang dari enam jam per malam dilaporkan lebih rentan mengalami infeksi virus dibanding mereka yang tidur cukup.

Atur waktu tidur lebih awal dan usahakan total tidur 7–9 jam per hari (termasuk tidur siang singkat jika memungkinkan) agar sistem imun tetap optimal.

Tips lain untuk menjaga sistem imun optimal

Latihan beban.
ilustrasi latihan beban (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Tetap aktif secara fisik dengan intensitas ringan hingga sedang.
  • Kelola stres melalui ibadah, relaksasi, atau teknik pernapasan.
  • Hindari merokok dan paparan asap rokok.
  • Konsultasi dengan dokter jika memiliki penyakit kronis.

Kombinasi nutrisi seimbang, aktivitas fisik, tidur cukup, dan manajemen stres adalah pilar utama daya tahan tubuh.

Momen sahur memberi kesempatan untuk mengisi ulang energi dan nutrisi sebelum tubuh memasuki periode puasa panjang. Dengan komposisi makanan yang tepat, sistem kekebalan dapat bekerja optimal. Kuncinya bukan makan berlebihan, melainkan makan cerdas dan terencana.

Referensi

Philip Calder et al., “Optimal Nutritional Status for a Well-Functioning Immune System Is an Important Factor to Protect Against Viral Infections,” Nutrients 12, no. 4 (April 23, 2020): 1181, https://doi.org/10.3390/nu12041181.

Rafael De Cabo and Mark P. Mattson, “Effects of Intermittent Fasting on Health, Aging, and Disease,” New England Journal of Medicine 381, no. 26 (December 25, 2019): 2541–51, https://doi.org/10.1056/nejmra1905136.

"Protein and Amino Acid Requirements in Human Nutrition (2007)." FAO/WHO/UNU. Diakses Februari 2026.

Rk Chandra, “Nutrition and the Immune System From Birth to Old Age,” European Journal of Clinical Nutrition 56, no. S3 (July 30, 2002): S73–76, https://doi.org/10.1038/sj.ejcn.1601492.

Ananda S. Prasad, “Zinc in Human Health: Effect of Zinc on Immune Cells,” Molecular Medicine 14, no. 5–6 (April 3, 2008): 353–57, https://doi.org/10.2119/2008-00033.prasad.

Adrian R Martineau et al., “Vitamin D Supplementation to Prevent Acute Respiratory Tract Infections: Systematic Review and Meta-analysis of Individual Participant Data,” BMJ 356 (February 15, 2017): i6583, https://doi.org/10.1136/bmj.i6583.

“The Human Microbiome and Immunity.” National Institutes of Health. Diakses Februari 2026.

Carina Venter et al., “Role of Dietary Fiber in Promoting Immune health—An EAACI Position Paper,” Allergy 77, no. 11 (July 8, 2022): 3185–98, https://doi.org/10.1111/all.15430.

Lawrence E. Armstrong et al., “Mild Dehydration Affects Mood in Healthy Young Women,” Journal of Nutrition 142, no. 2 (December 22, 2011): 382–88, https://doi.org/10.3945/jn.111.142000.

“Healthy Diet Fact Sheet.” World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.

“Standards of Medical Care in Diabetes.” American Diabetes Association. Diakses Februari 2026.

Philip C. Calder et al., “Dietary Factors and Low-grade Inflammation in Relation to Overweight and Obesity,” British Journal of Nutrition 106, no. S3 (December 1, 2011): S1–78, https://doi.org/10.1017/s0007114511005460.

Michael R. Irwin, “Sleep and Inflammation: Partners in Sickness and in Health,” Nature Reviews. Immunology 19, no. 11 (July 9, 2019): 702–15, https://doi.org/10.1038/s41577-019-0190-z.

Sheldon Cohen et al., “Sleep Habits and Susceptibility to the Common Cold,” Archives of Internal Medicine 169, no. 1 (January 12, 2009): 62, https://doi.org/10.1001/archinternmed.2008.505.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More