Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Manfaat Jalan Kaki setelah Sahur, Jangan Langsung Tidur

5 Manfaat Jalan Kaki setelah Sahur, Jangan Langsung Tidur
ilustrasi manfaat berjalan kaki setelah sahur (pexels.com/Syed Qaarif Andrabi)
Intinya Sih
  • Jalan kaki ringan setelah makan membantu kontrol gula darah dan metabolisme.

  • Aktivitas fisik intensitas rendah mendukung pencernaan dan kesehatan jantung tanpa membebani tubuh saat puasa.

  • Paparan cahaya pagi dan gerak ringan berperan dalam regulasi mood dan ritme sirkadian.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setelah makan sahur, banyak orang memilih untuk kembali tidur, bersiap-siap ke kantor atau kuliah, atau tetap terjaga hingga subuh. Di tengah pilihan itu, ada satu kebiasaan sederhana yang sering terlewatkan, yaitu berjalan kaki ringan setelah sahur.

Secara fisiologis, tubuh baru saja menerima asupan energi. Kadar gula darah mulai naik, hormon insulin bekerja, dan sistem pencernaan aktif memproses makanan. Aktivitas ringan pada fase ini ternyata memiliki dampak yang tidak kecil terhadap metabolisme dan kesehatan secara keseluruhan.

Penelitian menunjukkan aktivitas fisik ringan setelah makan, bahkan hanya berjalan santai, dapat memberi manfaat signifikan bagi regulasi gula darah, fungsi jantung, hingga kualitas tidur. Dengan catatan aktivitas fisik ini intensitasnya ringan dan tidak berlebihan, terutama saat akan berpuasa seharian.

Kalau kamu rutin berjalan kaki setelah sahur, inilah beberapa manfaat yang bisa kamu dapat.

1. Membantu mengontrol gula darah

Setelah sahur, kadar glukosa dalam darah meningkat sebagai respons terhadap makanan yang dikonsumsi. Tubuh kemudian mengeluarkan insulin untuk membantu sel menyerap glukosa tersebut. Jalan kaki ringan setelah makan terbukti membantu proses ini bekerja lebih efisien.

Sebuah metaanalisis menemukan bahwa aktivitas fisik ringan yang dilakukan dalam waktu 30 menit setelah makan secara signifikan menurunkan lonjakan gula darah setelah makan dibandingkan dengan duduk diam. Bahkan berjalan selama 10–15 menit sudah menunjukkan efek positif.

Bagi tubuh yang akan berpuasa selama belasan jam, stabilitas gula darah di awal hari penting untuk mencegah rasa lemas atau penurunan energi yang drastis. Jalan kaki ringan membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai bahan bakar secara lebih stabil.

2. Mendukung sistem pencernaan

Ilustrasi jalan kaki setelah sahur.
ilustrasi jalan kaki setelah sahur (unsplash.com/Rinald Rolle)

Setelah makan, sistem pencernaan membutuhkan koordinasi gerak otot usus untuk mendorong makanan sepanjang saluran cerna. Aktivitas fisik ringan merangsang motilitas usus secara alami.

Penelitian menunjukkan berjalan kaki dapat mempercepat waktu pengosongan lambung dan membantu mengurangi gejala seperti kembung atau rasa penuh berlebihan. Gerakan ritmis pada tubuh merangsang refleks gastrokolik, yaitu respons alami usus setelah makan.

Saat sahur, terutama jika makan dalam porsi cukup besar atau mengandung banyak serat dan protein, rasa begah bisa muncul. Jalan kaki ringan membantu tubuh beradaptasi dengan lebih nyaman sebelum memasuki periode puasa panjang.

3. Menjaga kesehatan jantung dan sirkulasi

Aktivitas fisik rutin, termasuk berjalan kaki intensitas ringan hingga sedang, berperan dalam menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Setelah makan, terjadi peningkatan aliran darah ke sistem pencernaan. Aktivitas ringan membantu menjaga sirkulasi tetap optimal tanpa membebani sistem kardiovaskular. Berjalan santai membantu mempertahankan elastisitas pembuluh darah dan respons tekanan darah yang sehat.

Penelitian juga menunjukkan bahwa memecah waktu duduk panjang dengan aktivitas ringan dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah. Dalam konteks sahur, daripada langsung berbaring atau tidur, berjalan santai memberikan stimulus kardiovaskular yang bermanfaat.

4. Membantu regulasi ritme sirkadian dan mood

Ilustrasi jantung.
Ilustrasi jantung (unsplash.com/jesse orrico)

Paparan cahaya pagi setelah Subuh memiliki dampak besar pada ritme sirkadian tubuh—jam biologis yang mengatur tidur, hormon, dan metabolisme. Cahaya pagi membantu menekan hormon melatonin dan meningkatkan kewaspadaan.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan cahaya alami pagi hari membantu memperkuat ritme sirkadian dan meningkatkan kualitas tidur pada malam hari. Jalan kaki setelah sahur, terutama di luar ruangan, memberi kombinasi manfaat gerak fisik dan cahaya alami.

Selain itu, aktivitas fisik ringan merangsang pelepasan endorfin dan neurotransmiter seperti serotonin yang berkontribusi pada stabilitas mood. Selama puasa, keseimbangan mood penting untuk menjaga produktivitas dan kualitas ibadah.

5. Membantu manajemen berat badan secara sehat

Puasa sering dikaitkan dengan perubahan berat badan. Namun, faktor penentunya bukan sesimpel tidak makan, melainkan keseimbangan energi dan kualitas metabolisme.

Aktivitas ringan setelah makan terbukti membantu meningkatkan pembakaran energi dan memperbaiki sensitivitas insulin. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini mendukung pengelolaan berat badan yang lebih stabil dibanding gaya hidup sedenter.

Menariknya, penelitian menunjukkan aktivitas fisik ringan yang konsisten dapat meningkatkan fleksibilitas metabolik, yaitu kemampuan tubuh beralih antara menggunakan glukosa dan lemak sebagai sumber energi. Ini relevan saat tubuh memasuki fase puasa beberapa waktu kemudian.

Jalan kaki setelah sahur bisa kamu lakukan di sekitar rumah selama 10–20 menit. Ini tampak sederhana, tetapi dampaknya terhadap metabolisme, gula darah, pencernaan, dan kesehatan jantung cukup signifikan jika kamu lakukan secara rutin. Kuncinya adalah intensitas ringan, yang artinya cukup untuk menggerakkan tubuh tanpa menyebabkan dehidrasi atau kelelahan sebelum puasa dimulai.

Referensi

Roland Loh et al., “Effects of Interrupting Prolonged Sitting With Physical Activity Breaks on Blood Glucose, Insulin and Triacylglycerol Measures: A Systematic Review and Meta-analysis,” Sports Medicine 50, no. 2 (September 24, 2019): 295–330, https://doi.org/10.1007/s40279-019-01183-w.

Raffaella Dainese et al., “Effects of Physical Activity on Intestinal Gas Transit and Evacuation in Healthy Subjects,” The American Journal of Medicine 116, no. 8 (April 1, 2004): 536–39, https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2003.12.018.

“Physical Activity Fact Sheet." World Health Organization. Diakses Februari 2026.

Andrea T. Duran et al., “Breaking up Prolonged Sitting to Improve Cardiometabolic Risk: Dose–Response Analysis of a Randomized Crossover Trial,” Medicine & Science in Sports & Exercise 55, no. 5 (January 12, 2023): 847–55, https://doi.org/10.1249/mss.0000000000003109.

Debra J. Skene et al., “Effects of Light on Human Circadian Rhythms,” Annales De Biologie Animale Biochimie Biophysique 39, no. 3 (January 1, 1999): 295–304, https://doi.org/10.1051/rnd:19990302.

Aditya Mahindru, Pradeep Patil, and Varun Agrawal, “Role of Physical Activity on Mental Health and Well-Being: A Review,” Cureus 15, no. 1 (January 7, 2023): e33475, https://doi.org/10.7759/cureus.33475.

Mark P. Mattson, “The Cyclic Metabolic Switching Theory of Intermittent Fasting,” Nature Metabolism 7, no. 4 (March 14, 2025): 665–78, https://doi.org/10.1038/s42255-025-01254-5.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More