Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Kardio Saat Puasa agar Tetap Aman dan Tidak Mudah Lemas

5 Tips Kardio Saat Puasa agar Tetap Aman dan Tidak Mudah Lemas
ilustrasi wanita yang sedang jogging (pexels.com/Tirachard Kumtanom)
Intinya Sih
  • Artikel menekankan pentingnya tetap berolahraga saat puasa dengan menyesuaikan waktu, intensitas, dan durasi agar tubuh tidak kehilangan energi berlebihan.
  • Asupan nutrisi seimbang saat sahur dan berbuka, serta menjaga hidrasi di luar jam puasa, menjadi kunci menjaga performa kardio tetap optimal.
  • Mendengarkan sinyal tubuh dan tidak memaksakan diri membantu mencegah risiko cedera serta memastikan kebugaran tetap terjaga selama Ramadan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bulan puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak sepenuhnya. Aktivitas fisik justru membantu menjaga kebugaran, memperbaiki suasana hati, serta mempertahankan metabolisme tetap aktif sepanjang bulan Ramadan. Kuncinya terletak pada penyesuaian intensitas, waktu latihan, dan istirahat agar tubuh tidak kehilangan terlalu banyak energi.

Kardio seperti jalan cepat, bersepeda santai, atau jogging ringan tetap bisa menjadi pilihan yang bijak. Tubuh memang berada dalam kondisi tanpa asupan selama beberapa jam, sehingga penting untuk berlatih dengan perhitungan. Berikut lima tips penting agar kardio tetap efektif dan nyaman saat berpuasa.

1. Pilih waktu yang paling aman untuk berolahraga

ilustrasi gym di malam hari
ilustrasi gym di malam hari (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Penentuan waktu latihan sangat berpengaruh terhadap respons tubuh selama puasa. Kardio ringan baiknya dilakukan sekitar tiga puluh hingga enam puluh menit menjelang berbuka agar cairan dan energi segera tergantikan setelah selesai. Alternatif lain adalah satu hingga dua jam setelah berbuka ketika tubuh sudah mendapatkan asupan nutrisi dan sistem pencernaan mulai stabil.

Berolahraga di tengah hari cenderung meningkatkan risiko dehidrasi karena suhu tubuh naik sementara cairan tidak dapat diganti. Menjelang berbuka, durasi latihan sebaiknya dibatasi sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit dengan intensitas ringan sampai sedang. Setelah berbuka, beri jeda cukup agar tidak terjadi gangguan lambung, terutama jika mengonsumsi makanan dalam porsi besar.

2. Turunkan intensitas dan durasi latihan

ilustrasi berjalan kaki
ilustrasi berjalan kaki (unsplash.com/Emma Simpson)

Kondisi energi selama puasa berbeda dibanding hari biasa sehingga target latihan perlu disesuaikan. Latihan kardio berintensitas tinggi seperti high intensity interval training berisiko mempercepat kelelahan dan menurunkan tekanan darah secara tiba-tiba. Penting untuk mengurangi tempo, jarak tempuh, serta frekuensi latihan selama bulan puasa.

Fokuskan latihan pada zona intensitas ringan hingga sedang yang masih memungkinkan berbicara tanpa terengah. Jalan cepat, sepeda statis, atau jogging pelan dapat membantu menjaga detak jantung tetap aktif tanpa stres berlebihan. Prinsipnya adalah mempertahankan kebiasaan bergerak dan sirkulasi darah, bukan mengejar pembakaran kalori maksimal.

3. Perhatikan asupan sahur dan berbuka

ilustrasi pria yang sedang makan
ilustrasi pria yang sedang makan (pexels.com/cottonbro studio)

Asupan nutrisi sangat menentukan performa kardio di bulan puasa. Sahur sebaiknya mengandung karbohidrat seperti nasi merah atau oat, protein berkualitas, serta sedikit lemak sehat agar pelepasan energi berlangsung bertahap. Kombinasi ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil selama beberapa jam pertama aktivitas.

Setelah latihan menjelang berbuka, tubuh memerlukan cairan, elektrolit, dan sumber karbohidrat untuk pemulihan awal. Konsumsi air disertai makanan seimbang membantu mengembalikan cadangan glikogen otot yang menurun selama aktivitas. Asupan protein setelah berbuka juga mendukung proses perbaikan jaringan dan mengurangi risiko nyeri otot keesokan hari.

4. Jaga hidrasi di luar jam puasa

ilustrasi meminum air putih
ilustrasi meminum air putih (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Keseimbangan cairan menjadi faktor krusial ketika tetap aktif berolahraga selama Ramadan. Kebutuhan air perlu dipenuhi secara bertahap antara waktu berbuka hingga sahur dengan pola minum teratur, bukan sekaligus dalam jumlah besar. Cara ini membantu tubuh menyerap cairan lebih optimal dan menjaga volume darah tetap stabil.

Buah dengan kandungan air tinggi seperti semangka atau jeruk dapat membantu tambahan hidrasi alami. Batasi konsumsi minuman berkafein berlebihan pada malam hari karena sifat diuretiknya dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil. Hidrasi yang terjaga mendukung fungsi jantung dan mencegah pusing saat melakukan aktivitas kardio ringan.

5. Dengarkan sinyal tubuh dan jangan memaksakan diri

ilustrasi sakit di bagian dada
ilustrasi sakit di bagian dada (pexels.com/freestocks.org)

Respons tubuh terhadap puasa dan olahraga tidak selalu sama pada setiap individu. Tanda seperti pusing berat, mual, keringat dingin, atau detak jantung tidak teratur merupakan sinyal bahwa intensitas perlu segera diturunkan. Mengabaikan gejala tersebut dapat meningkatkan risiko cedera atau gangguan kesehatan lainnya.

Istirahat yang cukup pada malam hari juga berperan dalam menjaga toleransi tubuh terhadap latihan. Adaptasi tubuh selama puasa membutuhkan waktu sehingga penting untuk dalam mengatur jadwal olahraga dengan lebih fleksibel. Pendekatan yang bijak membantu menjaga kebugaran tanpa harus mengorbankan kesehatan selama bulan puasa.

Kardio tetap bisa menjadi bagian dari rutinitas sehat selama Ramadan asalkan dengan strategi yang tepat. Penyesuaian waktu, intensitas, nutrisi, serta hidrasi akan membantu tubuh beradaptasi lebih baik. Dengan perencanaan matang dan sadar terhadap batas kemampuan diri sendiri, aktivitas fisik tetap aman dan mendukung kebugaran tubuh sepanjang puasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in Health

See More