- Visual (melihat bayangan, manusia, hewan).
- Auditori (mendengar suara).
- Distorsi persepsi.
Kenapa Pelari Ultra Bisa Mengalami Halusinasi saat Race?

- Pelari ultramaraton bisa mengalami halusinasi akibat stres fisiologis ekstrem, terutama karena kurang tidur, kelelahan fisik, dehidrasi, dan suhu tubuh tinggi yang mengganggu fungsi otak.
- Halusinasi biasanya bersifat sementara dan muncul dalam bentuk visual atau auditori, seperti melihat bayangan, mendengar suara, atau salah mengenali objek di sekitar jalur lari.
- Risiko dapat diminimalkan dengan menjaga tidur cukup sebelum lomba, mengatur pacing realistis, menjaga hidrasi dan elektrolit seimbang, serta mengenali tanda bahaya saat kondisi tubuh menurun.
Di kilometer-kilometer akhir ultramaraton, tubuh manusia mulai bekerja dalam kondisi yang berat. Otot kelelahan, energi menipis, kaki terasa berat, dan otak dipaksa tetap fokus meski hampir tidak tidur selama berjam-jam. Pada fase, sebagian pelari mulai mengalami hal-hal aneh.
Ada yang merasa melihat orang berdiri di tengah hutan padahal tidak ada siapa pun. Ada yang mengira batu adalah hewan. Ada yang mendengar namanya dipanggil, bahkan ada yang berbicara dengan "seseorang" yang tidak nyata.
Kamu mungkin pernah membacanya di utas terkait pelari ultra yang berbagi pengalaman. Menariknya, ini bukan cerita mistis atau dramatisasi, tetapi memang halusinasi bisa terjadi saat tubuh dan otak mengalami stres fisiologis ekstrem.
Table of Content
Apa itu halusinasi?
Halusinasi adalah pengalaman sensorik ketika seseorang melihat, mendengar, merasakan, atau mencium sesuatu. Padahal, stimulus tersebut sebenarnya tidak ada.
Halusinasi berbeda dengan mimpi atau imajinasi biasa karena terasa sangat nyata bagi orang yang mengalaminya.
Dalam kasus pelari ultra, halusinasi paling sering berupa:
Sebagian besar bersifat sementara dan menghilang setelah istirahat atau tidur.
Kenapa ultramaraton bisa memicu halusinasi?

Ultramaraton memberi tekanan luar biasa pada tubuh manusia. Berbeda dari lari biasa, race ultra bisa berlangsung selama belasan jam, semalaman, bahkan lebih dari 24 jam hingga beberapa hari. Tubuh akhirnya memasuki kondisi fisiologis yang sangat berat.
1. Kurang tidur dan deprivasi tidur
Ini salah satu penyebab terbesar. Otak manusia sangat bergantung pada tidur untuk menjaga perhatian, persepsi, emosi, dan kemampuan membedakan realitas. Saat seseorang terus terjaga terlalu lama, fungsi otak mulai terganggu.
Penelitian menunjukkan kurang tidur dapat menyebabkan :
- Gangguan persepsi.
- Ilusi visual.
- Paranoia ringan.
- Halusinasi.
Dalam ultramaraton, banyak pelari tidur sangat sedikit atau bahkan tidak tidur sama sekali selama race. Deprivasi tidur berat dapat mengganggu fungsi area otak yang bertanggung jawab terhadap integrasi sensorik dan realitas.
2. Kelelahan fisik ekstrem
Tubuh pelari ultra bekerja terus-menerus selama berjam-jam. Pada kondisi ini:
- Glikogen menurun.
- Stres hormon meningkat.
- Inflamasi meningkat.
- Sistem saraf mengalami tekanan berat.
Otak membutuhkan energi sangat besar untuk mempertahankan fungsi normal. Ketika cadangan energi menurun, kemampuan otak memproses informasi juga ikut terganggu. Beberapa ahli menyebut kondisi ini sebagai bentuk brain fatigue atau kelelahan otak.
3. Jalur gelap dan sunyi bisa memicu halusinasi
Banyak race ultra berlangsung pada malam hari, di jalur trail, minim cahaya, dan dengan suasana sangat repetitif.
Otak manusia sebenarnya membutuhkan variasi rangsangan sensorik. Dalam kondisi gelap, sunyi, kelelahan, dan kurang tidur, otak dapat mulai “mengisi kekosongan” sendiri. Inilah sebabnya pelari kadang seperti melihat bayangan bergerak, mengira pohon sebagai manusia, atau merasa ada seseorang mengikuti mereka.
Fenomena serupa juga pernah dilaporkan pada pendaki gunung, pelaut solo, penjelajah kutub, dan personel militer dalam kondisi ekstrem.
4. Dehidrasi dan gangguan elektrolit
Dehidrasi berat dapat memengaruhi fungsi otak secara signifikan.
Ketika cairan tubuh berkurang:
- Aliran darah ke otak bisa terganggu,
- Suhu tubuh meningkat,
- Keseimbangan elektrolit berubah.
Kondisi seperti hiponatremia (kadar natrium terlalu rendah) juga dapat menyebabkan:
- Kebingungan.
- Perubahan perilaku.
- Gangguan kesadaran.
- Halusinasi.
Gangguan elektrolit berat dapat memengaruhi fungsi neurologis dan mental.
5. Stres panas dan overheating
Lari jarak jauh saat cuaca panas memberi tekanan tambahan pada otak. Peningkatan suhu inti tubuh dapat mengganggu konsentrasi, koordinasi, pengambilan keputusan, dan fungsi kognitif.
Dalam kondisi berat, heat illness dapat menyebabkan delirium dan perubahan kesadaran.
Halusinasi pada pelari ultra bisa seperti apa?
Pengalaman setiap pelari berbeda. Beberapa laporan yang sering muncul dalam studi lari ultra antara lain:
- Melihat hewan di jalur.
- Merasa ada orang berbicara.
- Melihat benda bergerak.
- Salah mengenali objek.
- Merasa ditemani seseorang.
- Mendengar suara musik.
Menariknya, banyak pelari sadar bahwa pengalaman tersebut aneh, tetapi tetap terasa nyata saat itu terjadi.
Apakah halusinasi ini sama dengan gangguan mental?
Jawabannya, tidak.
Pada pelari ultra, halusinasi biasanya muncul akibat stres fisiologis ekstrem sementara, bukan gangguan psikiatri kronis. Kondisi ini lebih mirip gangguan persepsi sementara akibat kurang tidur, kelelahan, dehidrasi, dan tekanan neurologis.
Namun, jika halusinasi terjadi di luar kondisi ekstrem, sering berulang, atau menetap, evaluasi medis diperlukan.
Penelitian tentang halusinasi pada atlet endurance
Fenomena ini cukup dikenal dalam olahraga endurance ekstrem. Sebuah studi menemukan bahwa deprivasi tidur berkepanjangan dapat memicu gangguan persepsi dan pengalaman mirip psikosis sementara pada individu sehat.
Penelitian lain pada ultramaraton menunjukkan gangguan kognitif dan penurunan fungsi mental dapat muncul setelah aktivitas endurance berkepanjangan, terutama jika disertai kurang tidur dan stres panas.
Apakah halusinasi pada pelari ultra berbahaya?

Jawabannya, bisa.
Masalah utamanya bukan halusinasinya, tetapi risiko yang menyertainya. Pelari yang mengalami halusinasi dapat tersesat, jatuh, salah mengambil jalur, membuat keputusan buruk, atau terlambat menyadari kondisi medis serius.
Dalam kasus berat, gejala bisa menjadi tanda:
- Heat stroke.
- Hiponatremia.
- Gangguan neurologis.
- Kelelahan ekstrem yang berbahaya.
Karena itu, halusinasi tidak boleh dianggap sebagai cerita mistis atau cerita lucu dari lari ultra.
Cara mengurangi risiko halusinasi saat ultramaraton
- Prioritaskan tidur sebelum race. Sleep banking atau menambah waktu tidur beberapa hari sebelum lomba dapat membantu mengurangi dampak kurang tidur.
- Atur pacing dengan realistis. Pacing yang terlalu agresif mempercepat kelelahan fisik dan mental.
- Jaga hidrasi dan elektrolit. Minum terlalu sedikit maupun terlalu banyak sama-sama bisa berbahaya. Strategi hidrasi perlu disesuaikan dengan suhu, durasi race, tingkat keringat, dan kebutuhan individu.
- Konsumsi energi cukup. Otak membutuhkan glukosa untuk bekerja optimal. Asupan karbohidrat yang terlalu rendah dapat memperburuk kelelahan otak.
- Kenali tanda bahaya. Segera berhenti atau cari bantuan medis jika muncul kebingungan berat, bicara kacau, kehilangan orientasi, sempoyongan, atau perubahan perilaku drastis.
Saat tubuh mencapai batasnya, otak ikut terdampak
Ultramaraton sering dipandang sebagai ujian fisik, tetapi dalam banyak kasus tantangan terbesar justru terjadi di otak. Kenapa?
Tubuh manusia sebenarnya tidak dirancang untuk tetap terjaga, terus bergerak, dan mempertahankan fokus selama puluhan jam tanpa henti. Ketika batas itu mulai terlampaui, otak mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Kadang bentuknya sederhana, seperti fokus, mudah lupa, dan lambat mengambil keputusan. Namun, dalam kondisi ekstrem, persepsi realitas pun bisa mulai berubah.
Fenomena halusinasi pada pelari ultra menegaskan bahwa daya tahan bukan sekadar urusan otot dan paru-paru, tetapi juga tentang kemampuan otak bertahan menghadapi tekanan ekstrem.
Referensi
Flavie Waters et al., “Severe Sleep Deprivation Causes Hallucinations and a Gradual Progression Toward Psychosis With Increasing Time Awake,” Frontiers in Psychiatry 9 (July 10, 2018), https://doi.org/10.3389/fpsyt.2018.00303.
Harris R. Lieberman et al., “Cognitive Function, Stress Hormones, Heart Rate and Nutritional Status During Simulated Captivity in Military Survival Training,” Physiology & Behavior 165 (July 2, 2016): 86–97, https://doi.org/10.1016/j.physbeh.2016.06.037.
Guillaume Y. Millet, “Can Neuromuscular Fatigue Explain Running Strategies and Performance in Ultra-Marathons?,” Sports Medicine 41, no. 6 (May 27, 2011): 489–506, https://doi.org/10.2165/11588760-000000000-00000.
Bianchi, Matt T. "Sleep Deprivation and Disease." New York: Springer, 2014.
Cleveland Clinic. “Electrolyte Imbalance.” Diakses Mei 2026.
Lawrence E. Armstrong et al., “Exertional Heat Illness During Training and Competition,” Medicine & Science in Sports & Exercise 39, no. 3 (March 1, 2007): 556–72, https://doi.org/10.1249/mss.0b013e31802fa199.
Jonas Saugy et al., “Alterations of Neuromuscular Function After the World’s Most Challenging Mountain Ultra-Marathon,” PLoS ONE 8, no. 6 (June 26, 2013): e65596, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0065596.
Sarah Reeve et al., “Disrupting Sleep: The Effects of Sleep Loss on Psychotic Experiences Tested in an Experimental Study With Mediation Analysis,” Schizophrenia Bulletin 44, no. 3 (July 13, 2017): 662–71, https://doi.org/10.1093/schbul/sbx103.


![[QUIZ] Seberapa Kompetitif Kamu saat Olahraga?](https://image.idntimes.com/post/20260126/pexels-cottonbro-6777170_168af38b-3fde-4a52-ac56-c407148af78e.jpg)
![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin, Kamu Sekadar Capek atau Mulai Stres?](https://image.idntimes.com/post/20250602/img-20250602-232248-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-10d0d970fe707292815711bf6b95b641.jpg)




![[QUIZ] Warna Tumbler Kamu Bisa Ungkap Tipe Self-Care Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260503/pexels-cottonbro-3737803_749b93ce-12fb-4e36-a427-a18f836f46ef.jpg)

![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Kamu People Pleaser atau Bukan](https://image.idntimes.com/post/20250528/cover-quiz-10-497ec7ed7fc94e6ef9b9654a1b85ba9a.png)






![[QUIZ] Warna Outfit Favoritmu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20250507/1000344956-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-fff34f8ff180b130eb70c4bcc95165ea.jpg)
