Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Pemain Bola Sering Mengalami Cedera ACL?

Kenapa Pemain Bola Sering Mengalami Cedera ACL?
ilustrasi cedera ACL pada pemain sepak bola (pexels.com/Israel Torres)
Intinya Sih
  • Sepak bola menggabungkan hampir semua gerakan yang paling berisiko menyebabkan cedera ACL, seperti berlari cepat, berhenti mendadak, berputar, melompat, dan mendarat dengan satu kaki.

  • Sekitar 70 persen cedera ACL terjadi tanpa kontak langsung dengan lawan, melainkan akibat mekanika gerakan yang membebani lutut secara berlebihan.

  • Program pencegahan yang berfokus pada kekuatan, keseimbangan, dan teknik gerakan terbukti dapat menurunkan risiko cedera ACL secara signifikan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pemain sepak bola dituntut berlari dalam kecepatan tinggi, berbelok dalam sepersekian detik, melompat lalu mendarat, dan kembali berakselerasi. Dengan tuntutan fisik tersebut, ada satu cedera yang ditakuti oleh pemain, pelatih, maupun klub, yaitu cedera ACL.

Bagi sebagian atlet, robekan ACL berarti harus beristirahat selama 6–12 bulan. Dalam beberapa kasus, performa mereka bahkan tidak pernah benar-benar kembali seperti sebelumnya.

Apa yang membuat cedera ACL sering dialami pemain sepak bola?

Table of Content

Apa itu ACL?

Apa itu ACL?

Anterior cruciate ligament (ACL) adalah salah satu ligamen utama yang berada di dalam sendi lutut. Ligamen ini menghubungkan tulang paha (femur) dengan tulang kering (tibia).

Fungsi ACL sangat penting karena membantu:

  • Menjaga stabilitas lutut.
  • Mencegah tulang kering bergeser terlalu jauh ke depan.
  • Mengontrol gerakan rotasi lutut.
  • Menstabilkan lutut saat berlari, melompat, dan mengubah arah.

Tanpa ACL yang berfungsi baik, lutut menjadi tidak stabil saat bergerak.

Penyebab pemain sepak bola sering mengalami cedera ACL

Menurut konsensus ilmiah dari International Olympic Committee dan berbagai penelitian, sepak bola termasuk olahraga dengan angka cedera ACL tertinggi karena kombinasi gerakan eksplosif yang terus-menerus.

1. Banyak gerakan berubah arah secara mendadak

Salah satu penyebab terbesar cedera ACL adalah gerakan cutting atau perubahan arah yang sangat cepat.

Misalnya saat mengejar bola lalu berbelok tajam, menghindari lawan, melakukan dribel, atau bergerak untuk menerima umpan.

Saat kaki menapak di tanah sementara tubuh berputar ke arah lain, tekanan besar dapat terjadi pada ACL.

Jika gaya yang diterima melebihi kemampuan ligamen, ACL bisa robek.

Penelitian biomekanik menunjukkan bahwa kombinasi gerakan memutar dan gaya valgus (lutut bergerak ke dalam) merupakan salah satu mekanisme utama robekan ACL.

2. Banyak cedera terjadi saat mendarat

Dua pemain sepak bola berebut bola di lapangan hijau, mengenakan seragam berbeda dengan sepatu sepak bola hitam.
ilustrasi pemain sepak bola (unsplash.com/Tobias Flyckt)

Bukan cuma lari, pemain sepak bola juga menyundul bola, melakukan duel udara, dan melompat untuk menghalau bola. Saat mendarat, masalah bisa muncul.

Jika lutut berada dalam posisi kurang stabil ketika kaki menyentuh tanah, gaya benturan dapat diteruskan langsung ke ACL.

Studi analisis gerakan menemukan bahwa pola mendarat dengan lutut masuk ke arah dalam (dynamic knee valgus) meningkatkan risiko cedera ACL.

3. Kecepatan tinggi

Sepak bola modern jauh lebih cepat dibanding beberapa dekade lalu. Data performa menunjukkan pemain profesional kini melakukan lebih banyak sprint berintensitas tinggi selama pertandingan.

Makin tinggi kecepatan gerakan, makin besar pula gaya yang harus ditahan lutut saat berhenti mendadak, berbelok, dan mengubah arah.

Ketika kontrol neuromuskular tidak mampu mengimbangi beban tersebut, risiko cedera meningkat.

4. Banyak cedera ACL terjadi tanpa kontak

Tidak semua cedera ACL terjadi karena kontak keras dengan pemain lain. Secara angka, diperkirakan 70 persen cedera ACL bersifat non kontak, yang artinya terjadi tanpa benturan langsung dengan pemain lain.

Situasi yang sering dilaporkan meliputi:

  • Mendarat dengan cara yang salah.
  • Berputar mendadak.
  • Berhenti secara tiba-tiba.
  • Mengubah arah saat berlari cepat.

5. Kelelahan membuat lutut lebih rentan

Dua pemain sepak bola mengenakan seragam biru sedang memasang perban atau tape biru di lutut di lapangan rumput sintetis.
ilustrasi cedera saat bermain sepak bola (pexels.com/ANH LÊ)

Menjelang akhir pertandingan, tubuh mulai mengalami kelelahan. Dampaknya bukan cuma pada otot, tetapi juga memengaruhi koordinasi, keseimbangan, waktu reaksi, dan kontrol gerakan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa kelelahan dapat mengubah pola biomekanik lutut sehingga meningkatkan risiko cedera ACL.

Inilah dapat menjelaskan kenapa banyak cedera terjadi pada babak kedua pertandingan.

Apakah perempuan lebih lebih rentan mengalami cedera ACL?

Ternyata, banyak penelitian menemukan bahwa atlet perempuan memiliki risiko cedera ACL yang lebih tinggi dibanding atlet laki-laki dalam olahraga yang sama.

Faktor yang mungkin berperan meliputi:

  • Perbedaan anatomi panggul.
  • Pola aktivasi otot.
  • Biomekanik lutut.
  • Pengaruh hormon tertentu.

Meski demikian, risiko cedera ACL tetap tinggi pada pemain sepak bola laki-laki karena tingginya intensitas permainan.

Apa yang dirasakan saat ACL robek?

Banyak atlet menggambarkan momen cedera ACL seperti:

  • Terdengar atau terasa bunyi "pop" di lutut.
  • Nyeri mendadak.
  • Lutut terasa goyah.
  • Pembengkakan dalam beberapa jam.
  • Kesulitan melanjutkan permainan.

Namun, diagnosis tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan dokter dan MRI biasanya diperlukan untuk memastikan tingkat kerusakan.

Mengapa cedera ACL bisa sangat serius?

ACL memiliki kemampuan penyembuhan alami yang terbatas. Banyak atlet kompetitif akhirnya menjalani operasi rekonstruksi ACL.

Setelah operasi, proses rehabilitasi biasanya berlangsung sekitar 6–9 bulan untuk kembali berlatih, dan 9–12 bulan atau lebih untuk kembali bertanding.

Bahkan setelah kembali bermain, beberapa penelitian menunjukkan risiko cedera ulang masih lebih tinggi dibanding populasi umum.

Selain itu, riwayat cedera ACL juga meningkatkan risiko osteoartritis lutut di kemudian hari.

Cara mencegah cedera ACL

Dua pemain sepak bola berebut bola di udara saat pertandingan di lapangan hijau dengan latar belakang penonton.
ilustrasi pemain sepak bola (pexels.com/Omar Ramadan)

Dalam banyak kasus, cedera ACL bisa dicegah. Salah satu program yang paling terkenal adalah FIFA 11+, yang dikembangkan oleh FIFA.

Penelitian menunjukkan program pencegahan berbasis neuromuskular dapat menurunkan risiko cedera ACL secara signifikan.

Komponen pentingnya meliputi:

  • Latihan kekuatan, terutama untuk hamstring, gluteus, dan otot inti.
  • Latihan keseimbangan, untuk membantu meningkatkan kontrol posisi lutut saat bergerak.
  • Latihan teknik mendarat, untuk mengurangi gaya berlebihan pada ACL.
  • Latihan perubahan arah yang benar, untuk mengajarkan tubuh bergerak lebih efisien saat berbelok atau berhenti.

Cedera ACL umum terjadi pada pemain sepak bola karena olahraga ini menggabungkan berbagai gerakan yang memberikan tekanan besar pada lutut, mulai dari sprint, perubahan arah mendadak, lompatan, hingga pendaratan. Dan, sebagian besar kasus terjadi tanpa kontak langsung dengan lawan.

Faktor seperti biomekanik tubuh, kelelahan, kontrol neuromuskular, dan teknik gerakan berperan besar dalam terjadinya cedera. Karena itu, pencegahan melibatkan latihan yang dirancang khusus untuk meningkatkan stabilitas dan kontrol lutut.

Referensi

Letha Y. Griffin et al., “Understanding and Preventing Noncontact Anterior Cruciate Ligament Injuries,” The American Journal of Sports Medicine 34, no. 9 (August 11, 2006): 1512–32, https://doi.org/10.1177/0363546506286866.

Markus Waldén et al., “ACL Injuries in Men’s Professional Football: A 15-year Prospective Study on Time Trends and Return-to-play Rates Reveals Only 65% of Players Still Play at the Top Level 3 Years After ACL Rupture,” British Journal of Sports Medicine 50, no. 12 (March 31, 2016): 744–50, https://doi.org/10.1136/bjsports-2015-095952.

Clare L Ardern et al., “2018 International Olympic Committee Consensus Statement on Prevention, Diagnosis and Management of Paediatric Anterior Cruciate Ligament (ACL) Injuries,” British Journal of Sports Medicine 52, no. 7 (February 24, 2018): 422–38, https://doi.org/10.1136/bjsports-2018-099060.

Fabio Mancino et al., “Anterior Cruciate Ligament Injuries in Female Athletes,” The Bone & Joint Journal 105-B, no. 10 (October 1, 2023): 1033–37, https://doi.org/10.1302/0301-620x.105b10.bjj-2023-0881.r1.

Jeffrey Paszkewicz et al., “The Effectiveness of Injury-Prevention Programs in Reducing the Incidence of Anterior Cruciate Ligament Sprains in Adolescent Athletes,” Journal of Sport Rehabilitation 21, no. 4 (November 1, 2012): 371–77, https://doi.org/10.1123/jsr.21.4.371.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More