Mayo Clinic, "Impacted wisdom teeth," diakses Agustus 2026.
Endi Lanza Galvão et al., “Association between Mandibular Third Molar Position and the Occurrence of Pericoronitis: A Systematic Review and Meta-analysis,” Archives of Oral Biology 107 (2019): 104486, doi:10.1016/j.archoralbio.2019.104486.
Yang Yang et al., “Relationship between Presence of Third Molars and Prevalence of Periodontal Pathology of Adjacent Second Molars: A Systematic Review and Meta-analysis,” Chinese Journal of Dental Research 25, no. 1 (2022): 45–55, doi:10.3290/j.cjdr.b2752683.
María Peñarrocha-Diago et al., “Indications of the Extraction of Symptomatic Impacted Third Molars: A Systematic Review,” Journal of Clinical and Experimental Dentistry 13, no. 3 (2021): e278–e286, doi:10.4317/jced.56887.
Hossein Ghaeminia et al., “Surgical Removal versus Retention for the Management of Asymptomatic Disease-Free Impacted Wisdom Teeth,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 5 (2020): CD003879, doi:10.1002/14651858.CD003879.pub5.
Gloria Kwon and Marc Serra, “Pericoronitis,” in StatPearls (Treasure Island, FL: StatPearls Publishing, updated November 21, 2022).
Tanda Gigi Geraham Bungsu Bermasalah, Mungkin Perlu Dicabut

Gigi geraham bungsu yang impaksi tidak selalu menimbulkan gejala. Masalah biasanya muncul ketika gigi hanya tumbuh sebagian, sulit dibersihkan, mengalami infeksi, atau merusak jaringan dan gigi di sebelahnya.
Nyeri di belakang rahang, gusi bengkak atau berdarah, bau mulut, rasa tidak enak, hingga sulit membuka mulut merupakan tanda yang sering muncul.
Tidak adanya nyeri bukan jaminan gigi bungsu sehat. Karies, penyakit periodontal, kerusakan geraham kedua, dan beberapa kelainan lain dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas.
Gigi geraham bungsu adalah gigi permanen yang muncul paling akhir. Pada sebagian orang, gigi ini tumbuh lurus dan tidak pernah menimbulkan masalah. Pada orang lain, ruang di rahang tidak mencukupi sehingga gigi cuma keluar sebagian, tumbuh miring, atau tetap terperangkap di dalam gusi dan tulang rahang. Kondisi terakhir dikenal sebagai impaksi gigi geraham bungsu.
Masalahnya, gigi yang terletak paling belakang ini juga lebih sulit dibersihkan. Makanan dan bakteri dapat terperangkap di sekitarnya sehingga risiko peradangan gusi, karies, dan gangguan pada gigi di sebelahnya meningkat. Namun, impaksi itu sendiri tidak selalu terasa sakit.
Berikut tanda-tanda yang perlu diperhatikan.
Table of Content
1. Nyeri di bagian belakang rahang dan gusi membengkak
Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah nyeri di belakang gigi geraham terakhir.
Rasa sakit dapat muncul ketika gigi sedang berusaha tumbuh tetapi tidak ada cukup ruang, atau ketika jaringan di sekitarnya mengalami peradangan. Gusi di bagian belakang mulut bisa tampak merah, membengkak, terasa nyeri ketika disentuh, bahkan mudah berdarah. Rahang di sekitar area tersebut juga bisa ikut membengkak.
Keluhan seperti ini sering berhubungan dengan perikoronitis, yaitu inflamasi atau infeksi jaringan gusi yang menutupi sebagian gigi yang sedang tumbuh. Pada gigi bungsu yang hanya muncul sebagian, terbentuk celah antara mahkota gigi dan jaringan gusi. Area sempit ini sulit dibersihkan, sementara makanan dan bakteri mudah masuk ke dalamnya.
Posisi gigi ikut memengaruhi risiko. Studi yang mencakup 6.895 pasien menemukan posisi tertentu pada geraham bungsu bawah berhubungan dengan kejadian perikoronitis. Gigi dengan posisi vertikal termasuk yang paling sering dikaitkan dengan kondisi tersebut.
Jadi, nyeri berulang di lokasi yang sama setiap beberapa minggu atau bulan sebaiknya tidak dibiarkan.
2. Bau mulut atau rasa tidak enak yang terus muncul

Lokasi gigi bungsu yang paling belakang membuat bagian ini mudah terlewat saat kamu menyikat gigi.
Jika gigi hanya tumbuh sebagian, jaringan gusi yang masih menutup sebagian mahkota dapat membentuk semacam kantong. Plak, sisa makanan, dan bakteri kemudian menumpuk di dalamnya.
Akibatnya, selain nyeri dan pembengkakan, perikoronitis dapat menyebabkan bau mulut, rasa tidak enak di mulut, hingga keluarnya cairan bernanah dari sekitar gigi pada infeksi yang lebih berat.
Gejala tersebut bisa muncul bersamaan dengan gusi merah dan sensitif saat digunakan untuk mengunyah.
Jika sumbernya adalah posisi geraham bungsu yang membuat area tersebut terus sulit dibersihkan, dokter gigi perlu mengevaluasi apakah gigi masih berpeluang tumbuh ke posisi yang sehat atau justru berisiko menyebabkan peradangan berulang.
3. Sulit membuka mulut, menelan, atau mulai demam
Saat masalah geraham bungsu mulai mengganggu gerakan rahang, infeksinya mungkin sudah tidak hanya menimbulkan gejala lokal.
Perikoronitis yang lebih berat dapat menyebabkan trismus, yaitu kemampuan membuka mulut menjadi terbatas. Kamu mungkin merasa sulit membuka mulut lebar untuk makan atau menggosok gigi. Kesulitan menelan, pembengkakan wajah, pembesaran kelenjar getah bening, dan demam juga dapat muncul ketika infeksi memberat.
Infeksi yang berasal dari area geraham bungsu bawah dapat menyebar ke ruang jaringan di sekitar rahang dan leher. Pada kasus berat yang jarang terjadi, pembengkakan dapat mengancam jalan napas. Kesulitan bernapas, perubahan suara, pembengkakan wajah atau leher yang cepat membesar, maupun sulit menelan adalah tanda-tanda kamu perlu segera mencari pertolongan medis.
4. Tidak sakit pun belum tentu bebas masalah

Gigi geraham bungsu bisa bermasalah tanpa disertai nyeri.
Gigi yang tumbuh sebagian lebih sulit dibersihkan sehingga dapat mengalami karies. Posisi miring juga dapat menciptakan area yang sulit dijangkau sikat di antara geraham bungsu dan geraham kedua.
Selain gigi bungsunya sendiri, gigi sehat di depannya dapat ikut terkena karies atau penyakit periodontal.
Metaanalisis terhadap sembilan penelitian yang mencakup 14.749 geraham bungsu menunjukkan adanya geraham ketiga berkaitan dengan masalah periodontal pada permukaan belakang geraham kedua yang berdekatan.
Dalam analisis tersebut, sekitar 19 persen geraham kedua memiliki tanda awal kerusakan periodontal distal, meski angkanya berbeda menurut lokasi dan posisi gigi.
Studi lain terhadap geraham bungsu impaksi yang sudah menimbulkan penyakit menemukan berbagai komplikasi yang menjadi alasan klinis untuk pencabutan, termasuk karies yang tidak dapat direstorasi, infeksi, penyakit periodontal, perikoronitis berulang, kista, dan tumor.
Akan tetapi, bukan berarti setiap geraham bungsu yang impaksi harus otomatis dicabut.
Bukti yang tersedia masih tidak cukup untuk menentukan apakah geraham bungsu impaksi yang benar-benar tidak bergejala dan bebas penyakit sebaiknya dicabut atau dipertahankan.
Jika gigi dipertahankan, pemeriksaan berkala oleh dokter gigi penting untuk menemukan perubahan yang mungkin muncul kemudian.
Tanda geraham bungsu bermasalah tidak hanya berupa rasa sakit. Nyeri atau pembengkakan berulang, gusi merah, perdarahan, bau mulut, rasa tidak enak, serta kesulitan membuka mulut merupakan alasan untuk memeriksakannya ke dokter gigi. Sementara pada gigi yang tidak menimbulkan keluhan, pemeriksaan gigi dan pencitraan jika diperlukan dapat membantu melihat posisi gigi serta kemungkinan masalah yang tidak terlihat dari luar.
Referensi











![[QUIZ] Gaya Larimu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Hidup](https://image.idntimes.com/post/20241226/pexels-ketut-subiyanto-5037354-c6e430ffa2ab45408b74e54c6f8d59e3.jpg)

![[QUIZ] Dari Kepribadianmu, Ini Gerakan Gym yang Cocok Dicoba](https://image.idntimes.com/post/20250421/pexels-jonathanborba-3076516-0233b6721c13849a556a63e6e961653d-7ce8b61813567c9238c44e39711bdd8d.jpg)





![[QUIZ] Dari Cara Kamu Olahraga, Ini Tipe Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260103/1000316220_a9a91192-e18a-4d4c-8e9b-46e3a4657574.jpg)

