Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Tulang Kering Bisa Sakit Setelah Lari?

Kenapa Tulang Kering Bisa Sakit Setelah Lari?
ilustrasi laki-laki sedang berlari (unsplash.com/Chander R)
Intinya Sih
  • Nyeri tulang kering setelah lari umumnya disebabkan oleh shin splints atau MTSS, yaitu peradangan jaringan di sekitar tulang akibat tekanan berulang dan peningkatan intensitas latihan yang terlalu cepat.
  • Faktor pemicu meliputi teknik lari yang salah, sepatu tidak sesuai, otot betis kaku atau lemah, serta kekurangan nutrisi penting seperti kalsium dan vitamin D yang melemahkan kekuatan tulang.
  • Penanganan dilakukan dengan istirahat, kompres es, peregangan otot, penggunaan sepatu tepat, serta peningkatan latihan secara bertahap untuk mencegah cedera lebih serius seperti stress fracture.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa bagian depan tulang kering terasa nyeri setelah berlari? Kondisi ini ternyata cukup umum dialami, terutama oleh pelari pemula atau mereka yang tiba-tiba meningkatkan intensitas latihan. Rasa sakit tersebut sering kali dengan shin splints atau istilah medisnya medial tibial stress syndrome (MTSS), yaitu cedera akibat penggunaan berlebihan yang menyebabkan jaringan di sekitar tulang kering (tibia) mengalami peradangan.

Meski sering dianggap sepele, tetapi nyeri pada tulang kering sebaiknya tidak diabaikan. Jika terus dipaksakan berlari, kondisi ini dapat berkembang menjadi cedera yang lebih serius.

Lantas, apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Meningkatkan intensitas latihan terlalu cepat

Salah satu penyebab utama shin splints adalah peningkatan frekuensi, durasi, atau intensitas latihan secara mendadak.

Otot dan tulang butuh waktu untuk beradaptasi terhadap beban baru. Jika peningkatannya terlalu drastis, jaringan di sekitar tulang kering akan menerima tekanan berulang yang memicu peradangan. Karena itu, pelari sebaiknya tidak menambah total beban latihan mingguan lebih dari 10 persen agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi.

2. Teknik lari yang kurang tepat

Cara berlari juga berpengaruh terhadap distribusi beban pada kaki. Misalnya, telapak kaki yang terlalu masuk ke dalam saat mendarat (overpronasi), lengkungan kaki yang terlalu tinggi, atau otot inti dan pinggul yang lemah dapat membuat tekanan lebih besar tertuju pada tulang kering. Akibatnya, jaringan di sekitar tibia bekerja lebih keras dan lebih mudah mengalami iritasi.

3. Menggunakan sepatu yang tidak sesuai

Seorang perempuan berlari di taman kota.
ilustrasi berlari (pexels.com/Hugo Polo)

Sepatu lari yang sudah aus atau tidak memberikan penyangga yang cukup dapat mengurangi kemampuan kaki meredam benturan saat berlari. Begitu pula jika kamu sering berlari di permukaan yang keras seperti beton atau aspal, tekanan yang diterima tulang kering akan makin besar.

Menggunakan sepatu yang sesuai dengan bentuk kaki dan menggantinya secara berkala dapat membantu mengurangi risiko cedera.

4. Otot betis yang kaku atau lemah

Otot betis berperan penting dalam menyerap benturan saat kaki menyentuh permukaan tanah ketika berlari. Jika otot betis terlalu kaku, kemampuan kaki untuk meredam guncangan akan berkurang. Hal yang sama juga dapat terjadi apabila otot betis lemah dan tidak cukup kuat menopang gerakan berlari. Akibatnya, tekanan yang seharusnya diserap otot justru diteruskan ke tulang kering. Kondisi inilah yang dapat memicu munculnya nyeri pada tulang kering setelah berlari.

5. Kekurangan nutrisi penting untuk tulang

Kalsium dan vitamin D merupakan nutrisi penting untuk menjaga kekuatan tulang. Jika asupan kedua nutrisi ini tidak mencukupi, kepadatan dan kekuatan tulang dapat menurun seiring waktu. Akibatnya, tulang menjadi lebih rentan mengalami cedera saat menerima tekanan berulang, seperti ketika berlari. Risiko terjadinya shin splints pun meningkat karena tulang dan jaringan di sekitarnya lebih mudah mengalami gangguan.

Dalam kasus yang lebih parah, kondisi ini juga dapat berkembang menjadi stress fracture atau retak tulang akibat stres.

Apa yang terjadi pada tulang kering

Ilustrasi seorang perempuan berlari di taman kota.
ilustrasi berlari (pexels.com/jacky xing)

Pada kasus shin splints, bagian yang mengalami peradangan bukanlah tulangnya secara langsung, melainkan periosteum, yaitu lapisan tipis yang menyelimuti tulang kering.

Benturan berulang saat berlari menyebabkan tarikan kecil terus-menerus pada tempat melekatnya otot ke tulang. Lama-kelamaan muncul cedera mikro yang memicu peradangan sehingga timbul nyeri, rasa ngilu saat ditekan, hingga pembengkakan ringan di sepanjang sisi dalam tulang kering.

Jika keluhan ini terus diabaikan dan kamu tetap memaksakan latihan, cedera dapat berkembang menjadi fraktur stres, yaitu retakan kecil pada tulang yang membutuhkan waktu pemulihan jauh lebih lama.

Cara mengatasi dan mencegah nyeri tulang kering setelah lari

Sebagian besar kasus shin splints dapat membaik dengan perawatan sederhana di rumah, antara lain:

  • Istirahat sementara dari aktivitas lari. Ini merupakan langkah terpenting agar jaringan yang meradang memiliki waktu untuk pulih. Umumnya, shin splints membaik dalam waktu 2–4 minggu dengan istirahat yang cukup.
  • Kompres es. Tempelkan kompres dingin selama sekitar 15–20 menit beberapa kali sehari untuk membantu mengurangi nyeri dan peradangan.
  • Lakukan peregangan dan latihan penguatan otot. Peregangan otot betis serta latihan untuk memperkuat tungkai bawah dapat meningkatkan fleksibilitas sekaligus mengurangi tekanan pada tulang kering.
  • Gunakan sepatu yang tepat. Pilih sepatu lari yang memberikan bantalan dan penyangga sesuai bentuk kaki. Pada beberapa orang, penggunaan insole atau ortotik juga dapat membantu memperbaiki pola pijakan.
  • Kembali berlari secara bertahap. Setelah nyeri benar-benar hilang selama setidaknya dua minggu, mulailah berlari kembali dengan jarak dan intensitas yang rendah, lalu tingkatkan secara perlahan.

Menjaga kesehatan tulang dan otot sama pentingnya dengan meningkatkan performa saat berlari. Dengan berlatih secara bertahap, menggunakan teknik dan sepatu yang tepat, serta istirahat yang cukup, risiko nyeri pada tulang kering bisa diminimalkan. Jika rasa sakit tidak kunjung membaik atau justru makin parah, sebaiknya temui dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Referensi

Runner's World. Diakses pada Juli 2026. "Why Do My Shins Hurt When Running?."

The Conversattion. Diakses pada Juli 2026. "My Shins Hurt After Running. Could It Be Shin Splints?"

The Run Experience. Diakses pada Juli 2026. "Shins Hurt After Running? How to Fix & Prevent Shin Splints."

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More