ilustrasi lari pada pagi hari (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Meski sama-sama aman untuk kesehatan jantung, tetapi tubuh tidak berada dalam kondisi fisiologis yang sama pada pagi dan malam hari. Salah satu perbedaan utamanya adalah ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk suhu inti tubuh, metabolisme, dan performa fisik.
Pada pagi buta, suhu inti tubuh masih relatif rendah karena baru melewati fase istirahat malam. Kondisi ini membuat tubuh perlu waktu untuk beradaptasi sebelum mencapai performa optimal.
Sebaliknya, menjelang sore hingga malam, suhu tubuh cenderung lebih tinggi sehingga otot menjadi lebih lentur dan kemampuan menghasilkan tenaga mencapai puncaknya.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kekuatan puncak (peak power) lebih tinggi pada sore hingga malam (sekitar pukul 17.00–19.00) dibanding pagi hari.
Meski demikian, perbedaan tersebut lebih banyak terlihat pada aktivitas yang mengandalkan kekuatan dan tenaga eksplosif, sedangkan pada olahraga ketahanan seperti lari, perbedaannya tidak terlalu signifikan.
Perbedaan respons tubuh ini juga tercermin pada metabolisme. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lari pagi, terutama sebelum sarapan, cenderung meningkatkan oksidasi lemak sehingga lebih efektif untuk menggunakan lemak sebagai sumber energi.
Di sisi lain, latihan pada malam hari dilaporkan memberikan manfaat terhadap pengeluaran energi, kontrol gula darah, serta penurunan tekanan darah sistolik pada kelompok tertentu, seperti pria dengan obesitas.