ilustrasi gerakan lateral raise (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Training to failure tidak boleh dilakukan sembarangan. Salah satu risiko terbesar adalah cedera, terutama ketika latihan menggunakan beban berat tanpa pengawasan.
Bayangkan melakukan squat dengan barbel berat di punggung, lalu tiba-tiba otot tidak lagi mampu mengangkat tubuh atau mengembalikan barbel ke tempatnya. Karena itu, training to failure sebaiknya dilakukan pada gerakan dan situasi yang relatif aman, misalnya bicep curl dengan beban yang sesuai.
Selain meningkatkan tuntutan pada otot, latihan hingga failure juga membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang. Setelah latihan yang sangat berat, otot bisa terasa nyeri dan tubuh mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun secara keseluruhan. Jika terus dilakukan tanpa istirahat cukup, tubuh bisa kesulitan memulihkan diri dan beradaptasi terhadap latihan.
Masalah juga dapat muncul saat kamu terlalu sering memaksakan latihan dengan intensitas tinggi. Tubuh membutuhkan waktu untuk memperbaiki jaringan dan beradaptasi dengan rangsangan yang diberikan. Jika proses pemulihan terus diabaikan, risiko kelelahan berkepanjangan, penurunan performa, hingga cedera dapat meningkat.
Beban berlebihan yang diberikan berulang kali juga dapat membuat jaringan ikat dan persendian mendapat tekanan lebih besar. Di sisi lain, rasa lelah yang terus-menerus bisa membuat seseorang kesulitan mempertahankan rutinitas olahraga. Bukannya mendapatkan hasil yang diinginkan, kamu justru mungkin perlu berhenti berolahraga lebih lama karena tubuh membutuhkan waktu untuk pulih.