Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gerakan Latihan untuk Menaikkan Tinggi Badan, Seberapa Efektif?

5 min read
Gerakan Latihan untuk Menaikkan Tinggi Badan, Seberapa Efektif?
ilustrasi mengukur tinggi badan anak (pexels.com/Kindel Media)
  • Setelah lempeng pertumbuhan menutup, latihan tidak dapat memanjangkan tulang dan menambah tinggi badan secara permanen.

  • Peregangan dan latihan penguatan dapat memperbaiki postur sehingga tubuh tampak lebih tegak, tetapi hasil ini berbeda dari pertumbuhan tulang.

  • Pada anak yang masih tumbuh, aktivitas fisik mendukung kesehatan tulang dan pertumbuhan normal. Belum ada gerakan tertentu yang terbukti menambah tinggi akhir saat dewasa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Video latihan penambah tinggi badan biasanya memperlihatkan gerakan menggantung, melompat, atau meregangkan tubuh. Janjinya terdengar sederhana, yang kalau lakukan secara rutin, tinggi akan bertambah beberapa sentimeter.

Namun, tinggi badan tidak cuma ditentukan oleh seberapa rajin kamu berolahraga. Pada tingkat populasi, sekitar 80 persen variasi tinggi berkaitan dengan faktor genetik. Sisanya dipengaruhi berbagai hal, termasuk nutrisi, hormon, kesehatan, dan kondisi selama masa pertumbuhan.

  1. Mengapa orang dewasa tidak dapat memanjangkan tulang?

    Tulang panjang pada lengan dan tungkai bertambah panjang melalui bagian bernama lempeng pertumbuhan. Jaringan ini masih aktif selama masa kanak-kanak dan remaja, kemudian menipis dan menyatu menjelang akhir pubertas.

    Setelah lempeng pertumbuhan menutup, tidak ada gerakan—termasuk berenang, bermain basket, melompat, atau bergelantungan—yang terbukti dapat memanjangkan tulang secara alami. Olahraga tetap bermanfaat bagi kekuatan tulang, otot, jantung, dan kebugaran, tetapi bukan untuk menambah tinggi rangka orang dewasa.

  2. Mengapa stretching kadang terasa membuat tubuh lebih tinggi?

    Tinggi manusia sedikit berubah sepanjang hari. Bantalan di antara ruas tulang belakang menerima tekanan ketika tubuh berdiri dan beraktivitas, sehingga pengukuran pada sore hari dapat lebih pendek dibanding pagi hari.

    Penelitian terhadap 53 anak menemukan penurunan tinggi rata-rata sekitar 0,31 sentimeter antara pukul 09.00 dan 11.00, disusul penurunan sekitar 0,20 sentimeter hingga pukul 13.00. Teknik meregangkan tubuh saat pengukuran juga menghasilkan angka yang sedikit lebih tinggi, tetapi tidak menghilangkan perubahan tinggi sepanjang hari.

    Karena itu, efek setelah menggantung atau meregangkan badan kemungkinan berkaitan dengan postur, berkurangnya tekanan sementara pada tulang belakang, atau cara pengukuran—bukan terbentuknya tulang baru.

  3. Bagaimana jika masih dalam masa pertumbuhan?

    Anak laki-laki mengenakan kaus putih tersenyum sambil mengukur tinggi badannya di depan latar hitam dengan gambar penggaris tinggi.
    ilustrasi tinggi badan anak (magnific.com/jcomp)

    Aktivitas fisik tetap penting bagi anak dan remaja. Sebuah studi menyimpulkan bahwa olahraga mendukung kesehatan tulang dan komposisi tubuh serta umumnya tidak menghambat pertumbuhan linear, selama kebutuhan energi dan nutrisi terpenuhi. Namun, bukti bahwa satu jenis latihan dapat menambah tinggi akhir di luar pola pertumbuhan alami masih belum memadai.

    Sebuah penelitian nonacak pada 2025 memang menemukan bahwa 15 anak bertubuh pendek yang mengikuti program latihan melompat selama 24 minggu tumbuh lebih cepat daripada 27 anak dalam kelompok observasi. Temuan ini masih awal karena jumlah pesertanya kecil, kelompok tidak dipilih secara acak, dan penelitian tidak mengikuti peserta hingga mencapai tinggi akhir saat dewasa. Program tersebut belum dapat dianggap sebagai resep penambah tinggi badan.

    Latihan beban juga tidak terbukti membuat anak menjadi pendek. American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa program latihan kekuatan yang dirancang sesuai usia, menggunakan teknik benar, dan diawasi dengan baik tidak menunjukkan dampak buruk terhadap pertumbuhan linear maupun kesehatan lempeng pertumbuhan.

  4. Gerakan yang membantu tubuh berdiri lebih tegak

    Latihan berikut tidak memanjangkan tulang, tetapi dapat memperkuat otot penyangga dan membantu memperbaiki postur. Tinjauan sistematis terhadap 22 penelitian menemukan bahwa latihan penguatan dan peregangan yang diarahkan pada gangguan postur dapat memperbaiki keselarasan tubuh.

    1. Wall angel

    • Berdirilah dengan punggung menempel pada dinding.
    • Tekuk siku membentuk huruf W, lalu geser lengan perlahan ke atas dan kembali turun.
    • Lakukan 8–10 kali tanpa memaksakan bahu.

    Gerakan ini melatih punggung atas dan membantu membuka posisi dada.

    2. Tarikan resistance band

    • Ikat resistance band pada titik yang kokoh.
    • Tarik kedua ujungnya ke arah tulang rusuk sambil merapatkan tulang belikat.
    • Kembalikan perlahan dan ulangi 8–12 kali.

    Gerakan ini menguatkan otot punggung yang membantu menjaga tubuh tetap tegak.

    3. Bird-dog

    • Mulai dengan posisi merangkak.
    • Luruskan tangan kanan dan kaki kiri, tahan sebentar, lalu ganti sisi.
    • Lakukan 6–8 kali pada setiap sisi.

    Latihan ini menguatkan otot inti dan membantu menjaga kestabilan tulang belakang.

    4. Peregangan dada di pintu

    • Letakkan lengan bawah pada sisi kusen, kemudian majukan tubuh perlahan sampai dada terasa meregang.
    • Tahan 20–30 detik tanpa memantul.

    Gerakan ini membantu mengurangi kecenderungan bahu membungkuk ke depan.

    5. Melompat dan berlari untuk anak

    Lompat tali, berlari, serta permainan yang melibatkan lompatan memberikan beban mekanis yang baik bagi tulang anak. Kegiatannya perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan, dilakukan di permukaan aman, serta tidak digunakan sebagai program untuk mengejar target tinggi tertentu.

    Hentikan latihan apabila muncul nyeri tajam, kebas, pusing, atau keluhan yang makin berat.

    Orang dengan cedera tulang belakang atau sendi sebaiknya meminta panduan tenaga kesehatan sebelum mencoba program baru.

  5. Kapan pertumbuhan anak perlu diperiksa?

    Ilustrasi seorang anak berdiri di dekat pengukur tinggi badan, menggambarkan pemantauan pertumbuhan anak.
    ilustrasi tinggi badan anak (pexels.com/Kampus Production)

    Fokus utama sebaiknya pada pola pertumbuhan dari waktu ke waktu. Pemeriksaan dokter diperlukan apabila tinggi anak berada di bawah persentil ketiga, laju pertumbuhannya melambat, atau posisinya terus turun pada kurva pertumbuhan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan variasi keluarga, keterlambatan pubertas, kekurangan nutrisi, penyakit kronis, atau gangguan hormon.

    Jadi, tidak ada gerakan yang terbukti dapat menambah tinggi badan permanen setelah pertumbuhan tulang selesai. Latihan dapat membuat tubuh lebih kuat dan postur lebih tegak. Bagi anak, aktivitas fisik membantu mendukung pertumbuhan yang sehat, tetapi hasil akhirnya tetap dipengaruhi genetik, nutrisi, hormon, dan kesehatan secara keseluruhan.

    Referensi

    MedlinePlus Genetics, “Is Height Determined by Genetics?,” diakses September 2026.

    Ja Hyang Cho, Hae Woon Jung, and Kye Shik Shim, “Growth Plate Closure and Therapeutic Interventions,” Clinical and Experimental Pediatrics 67, no. 11 (2024): 553–59, https://doi.org/10.3345/cep.2023.00346.

    L. D. Voss and B. J. R. Bailey, “Diurnal Variation in Stature: Is Stretching the Answer?,” Archives of Disease in Childhood 77, no. 4 (1997): 319–22, https://doi.org/10.1136/adc.77.4.319.

    Sončka Jazbinšek and Primož Kotnik, “Influence of Physical Activity on Linear Growth in Children and Adolescents,” Annales Kinesiologiae 11, no. 1 (2020): 29–42, https://doi.org/10.35469/ak.2020.222.

    Huiming Wang et al., “24-Week Jumping Exercise Influence on Growth Speed and GH-IGF-1-IGFBP-3 Axis among Short-Stature Children,” BMC Pediatrics 25, no. 1 (2025): 476, https://doi.org/10.1186/s12887-025-05821-3.

    Paul R. Stricker, Avery D. Faigenbaum, and Teri M. McCambridge, “Resistance Training for Children and Adolescents,” Pediatrics 145, no. 6 (2020): e20201011, https://doi.org/10.1542/peds.2020-1011.

    Alessandra Beggiato Porto, Anderson Nascimento Guimarães, and Victor Hugo Alves Okazaki, “The Effect of Exercise on Postural Alignment: A Systematic Review,” Journal of Bodywork and Movement Therapies 40 (2024): 99–108, https://doi.org/10.1016/j.jbmt.2024.04.004.

    Endocrine Society, “Growth and Short Stature,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More