Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Gejala GERD Tiap Orang Beda Padahal Pemicunya Sama?

Kenapa Gejala GERD Tiap Orang Beda Padahal Pemicunya Sama?
ilustrasi GERD (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih

  • Kondisi katup lambung memengaruhi intensitas keluhan GERD

  • Kecepatan pengosongan lambung menentukan respons tubuh

  • Sensitivitas kerongkongan berbeda pada tiap orang

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

GERD sering dianggap punya gejala yang seragam karena pemicunya terdengar mirip, mulai dari stres, konsumsi kopi, sampai makanan berlemak. Kenyataannya, keluhan GERD justru bisa sangat berbeda pada tiap orang. Ada yang langsung merasakan dada panas dan mulut pahit, sementara yang lain hanya mengalami mual atau rasa tidak nyaman di tenggorokan.

Perbedaan ini kerap membingungkan karena banyak orang merasa sudah menghindari pemicu yang sama, tetapi hasilnya tetap tidak serupa. Untuk memahami kenapa hal tersebut terjadi, berikut penjelasannya.

1. Kondisi katup lambung memengaruhi intensitas keluhan GERD

ilustrasi lambung
ilustrasi lambung (pexels.com/Kindel Media)

Katup antara kerongkongan dan lambung berperan penting dalam menentukan seberapa mudah asam lambung naik ke atas. Pada sebagian orang, katup ini menutup dengan cukup kuat sehingga asam hanya naik sedikit dan keluhannya ringan. Pada orang lain, katup lebih lemah sehingga refluks terjadi lebih sering meski pemicunya sama.

Perbedaan kekuatan katup ini bisa dipengaruhi faktor bawaan, usia, hingga kebiasaan tertentu yang berlangsung lama. Itulah sebabnya dua orang yang sama-sama minum kopi bisa merasakan dampak yang sangat berbeda. Kondisi katup lambung menjadi alasan mengapa gejala GERD tidak bisa disamakan begitu saja antarindividu.

2. Kecepatan pengosongan lambung menentukan respons tubuh

ilustrasi GERD
ilustrasi GERD (pexels.com/cottonbro studio)

Lambung setiap orang memiliki kecepatan pengosongan yang tidak selalu sama. Jika makanan bertahan lebih lama di lambung, tekanan di dalamnya meningkat dan risiko asam lambung yang naik ikut bertambah. Pada kondisi ini, pemicu kecil saja sudah cukup menimbulkan keluhan yang jelas.

Sebaliknya, lambung yang lebih cepat mengosongkan isinya cenderung menurunkan tekanan sehingga gejala terasa lebih ringan. Faktor ini jarang disadari karena tidak terlihat langsung, tetapi sangat berpengaruh pada variasi keluhan GERD. Inilah alasan mengapa respons tubuh terhadap makanan bisa sangat personal.

3. Sensitivitas kerongkongan berbeda pada tiap orang

ilustrasi kerongkongan
ilustrasi kerongkongan (pexels.com/Picas Joe)

Tidak semua kerongkongan memiliki tingkat kepekaan yang sama terhadap asam lambung. Ada orang yang langsung merasakan nyeri atau panas meski refluksnya minimal. Ada pula yang mengalami refluks cukup sering tetapi hampir tidak merasakan keluhan berarti.

Perbedaan sensitivitas ini membuat gejala GERD tampak tidak konsisten jika hanya dilihat dari pemicunya. Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa sebagian orang baru menyadari GERD setelah keluhan berlangsung lama. Sensitivitas kerongkongan menjadi faktor kunci yang sering terabaikan.

4. Respons saraf pencernaan memengaruhi gejala

ilustrasi GERD
ilustrasi GERD (pexels.com/Kindel Media)

Sistem saraf yang mengatur pencernaan bekerja dengan cara yang unik pada tiap individu. Saat asam lambung naik, sinyal yang dikirim ke otak bisa diterjemahkan berbeda-beda. Ada yang mengartikannya sebagai nyeri tajam, ada pula yang hanya merasa penuh atau tidak nyaman.

Perbedaan respons saraf ini membuat keluhan GERD tidak selalu berupa sensasi terbakar di dada. Beberapa orang justru mengeluhkan batuk kering atau suara serak. Variasi persepsi inilah yang sering membuat GERD tampak memiliki banyak pemicu.

5. Kondisi tubuh lain ikut memengaruhi gejala GERD

ilustrasi GERD
ilustrasi GERD (pexels.com/Sora Shimazaki)

Penyakit yang menyertai seperti gangguan lambung, kelebihan berat badan, atau masalah hormon dapat memperkuat atau mengubah gejala GERD. Kondisi-kondisi ini memengaruhi tekanan di area perut serta produksi asam lambung. Akibatnya, pemicu yang sama bisa menimbulkan efek yang lebih berat pada sebagian orang.

Selain itu, penggunaan obat tertentu juga dapat memengaruhi cara tubuh merespons refluks. Faktor-faktor ini membuat GERD tidak bisa dilepaskan dari kondisi kesehatan secara keseluruhan. Setiap tubuh memiliki konteks medis yang berbeda.

Perbedaan gejala GERD bukan sekadar soal pemicu, melainkan hasil dari kombinasi kondisi anatomi, fungsi pencernaan, hingga respons tubuh masing-masing. Memahami hal ini membantu melihat bahwa keluhan GERD tidak selalu bisa dibandingkan secara langsung antarindividu. Informasi ini semoga bisa menjawab rasa penasaran kamu mengenai pemicu GERD.

Referensi:

"GERD Triggers: What's Turning the Heat Up on Your Heartburn?" Loyola Medicine" Diakses pada Februari 2026

"GERD Symptoms You Shouldn’t Ignore" NM. Diakses pada Februari 2026

"GERD: Understanding the Symptoms and Causes of Acid Reflux" Gastro Florida. Diakses pada Februari 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Health

See More