ilustrasi telur (pexels.com/ Estudio Gourmet)
Satu butir telur berukuran besar mengandung sekitar 186 miligram kolesterol, dan hampir seluruhnya berada di bagian kuning telur. Jumlah tersebut tetap sama, baik telur diolah menjadi telur rebus maupun omelet, karena proses memasak tidak mengubah kandungan kolesterol di dalam telur. Dengan kata lain, perbedaan utama kedua menu ini bukan berasal dari telurnya, melainkan dari bahan tambahan yang digunakan saat memasak.
Jika omelet dimasak menggunakan banyak mentega, keju, atau daging olahan seperti sosis dan bacon, kandungan lemak jenuh dalam satu porsi akan meningkat. Sebaliknya, omelet yang dimasak dengan sedikit minyak dan diisi sayuran tetap dapat menjadi pilihan yang lebih seimbang. Bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi atau sedang menjalani pola makan rendah lemak jenuh, memperhatikan bahan tambahan pada omelet sering kali lebih penting daripada memilih antara telur rebus atau omelet itu sendiri.
Telur rebus maupun omelet sama-sama bisa menjadi pilihan yang baik untuk menu diet. Telur rebus unggul karena lebih sederhana dan lebih mudah dalam pengaturan kalori, sedangkan omelet bisa menambah variasi zat gizi melalui aneka sayuran. Selama dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang, keduanya dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi tanpa menghambat tujuan diet. Jadi, mana yang lebih sering kamu pilih sebagai menu andalan sehari-hari?
Referensi
"What Is the Healthiest Way to Cook and Eat Eggs?" Healthline. Diakses pada Agustus 2026.
"Boiled Egg Vs Omelette For Weight Loss: Which Is The Healthier Protein Choice?" The Health Site. Diakses pada Agustus 2026.
"How Hard-Boiled Eggs Can Transform Your Health." VeryWell Mind. Diakses pada Agustus 2026.