Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: 29 Penyakit dan Infeksi Bisa Meningkatkan Risiko Demensia

Studi: 29 Penyakit dan Infeksi Bisa Meningkatkan Risiko Demensia
ilustrasi demensia (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Infeksi berat seperti infeksi saluran kemih dan infeksi bakteri dikaitkan dengan risiko demensia.

  • Hubungan ini tetap ada meski sudah memperhitungkan penyakit lain.

  • Infeksi bisa mempercepat penurunan fungsi otak beberapa tahun sebelum diagnosis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tubuh biasanya pulih setelah infeksi. Demam turun, gejala berangsur hilang, dan kehidupan kembali normal. Namun, dampak infeksi mungkin bisa berlanjut, khususnya pada kesehatan otak jangka panjang.

Sebuah studi besar yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Medicine menemukan bahwa beberapa infeksi berat dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. Temuan ini menawarkan cara baru memandang penyakit infeksi, dari yang sebelumnya dianggap akut menjadi berpotensi berdampak kronis.

Para peneliti menggunakan data registri kesehatan nasional Finlandia yang melibatkan lebih dari 62.000 orang dengan demensia dan lebih dari 312.000 kelompok pembanding tanpa demensia. Mereka menelusuri riwayat penyakit hingga 20 tahun sebelumnya, mencari pola yang mungkin berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif.

Table of Content

Hubungan antara infeksi dan risiko demensia

Hubungan antara infeksi dan risiko demensia

Dari total 29 penyakit yang ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko demensia, dua di antaranya adalah infeksi: sistitis (infeksi saluran kemih) dan infeksi bakteri lainnya.

Yang menarik, hubungan ini tetap kuat bahkan setelah para peneliti memperhitungkan berbagai penyakit lain yang juga berisiko menyebabkan demensia. Artinya, infeksi bukan sekadar efek samping dari kondisi kesehatan lain, tetapi mungkin punya peran tersendiri.

Dalam studi tersebut, infeksi terjadi rata-rata 5–6 tahun sebelum diagnosis demensia. Ini memberi petunjuk bahwa infeksi bisa mempercepat proses penurunan kognitif yang sebenarnya sudah berlangsung secara perlahan.

Beberapa mekanisme yang diduga berperan antara lain:

  • Peradangan sistemik yang memengaruhi otak.
  • Respons imun berlebihan.
  • Kerusakan jaringan saraf akibat infeksi.

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa peradangan kronis dapat berkontribusi pada degenerasi saraf, yang merupakan ciri khas demensia.

Peluang baru dalam mencegah demensia

Ilustrasi kesehatan otak.
ilustrasi kesehatan otak (pixabay.com/hainguyenrp)

Temuan ini membuka peluang baru dalam pencegahan demensia. Jika infeksi memang berperan dalam mempercepat penurunan kognitif, maka pengendalian infeksi bisa menjadi salah satu strategi penting.

Akan tetapi, para peneliti menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, hubungan yang ditemukan belum bisa membuktikan sebab-akibat secara langsung. Masih perlu penelitian lanjutan untuk memastikan apakah mencegah atau mengobati infeksi dapat benar-benar menurunkan risiko demensia.

Meski begitu, pesan utamanya cukup jelas, bahwa kesehatan secara keseluruhan, termasuk pencegahan infeksi, berkontribusi pada kesehatan otak jangka panjang. Hal sederhana seperti menjaga kebersihan, mengobati infeksi dengan tepat, dan memantau kondisi kesehatan dapat menjadi bagian dari upaya melindungi fungsi kognitif.

Dalam beberapa kasus, dampak dari infeksi bisa bertahan lebih lama dan memengaruhi organ vital, seperti otak. Memahami hubungan ini membantu para ahli melihat kesehatan secara lebih menyeluruh.

Referensi

Sipilä, Pyry, et al. “Severe infections and risk of dementia.” PLOS Medicine, 2026. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1004688.

"Severe infections may raise dementia risk, study finds." EurekAlert! Diakses Maret 2026.

Share
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More