Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Fakta Brain Rot, Ternyata Istilahnya Sudah Ada sejak Tahun 1800-an
ilustrasi brain rot (unsplash.com/Gaspar Uhas)
  • Istilah brain rot menggambarkan ketergantungan pada konten digital berkualitas rendah yang membuat otak tumpul dan menurunkan fungsi mental akibat paparan berlebihan.
  • Meskipun bukan istilah medis resmi, fenomena ini dikaitkan dengan Problematic Interactive Media Use yang memicu gangguan kognitif karena konsumsi media digital berlebihan.
  • Istilah brain rot sudah digunakan sejak tahun 1800-an dan kembali populer pada 2023–2024 seiring tren konten absurd serta penetapannya sebagai Word of the Year oleh Oxford University Press.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Brain rot secara harfiah berarti pembusukan otak. Istilah ini semakin sering terdengar seiring dengan dominasi konten media sosial yang bersifat repetitif dan absurd. Pada akhirnya brain rot menjadi sebuah fenomena. Banyak orang merasa pikiran mereka menjadi ‘tumpul’ setelah berjam-jam melakukan scrolling tanpa henti. Yuk, simak uraian fakta berikut untuk memahami lebih dalam seputar brain rot.

1. Brain rot bersifat adiktif

ilustrasi menonton konten di medsos (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Brain rot merujuk pada konten media daring berkualitas rendah yang bersifat adiktif hingga mampu menyita perhatian secara berlebihan. Menariknya, istilah brain rot ini digunakan untuk menggambarkan dua hal sekaligus, yaitu kondisi saat seseorang terlalu terpaku pada konten tersebut, serta dampak penurunan fungsi mental yang diakibatkannya. Saking kuatnya pengaruh konten tersebut, ia dipercaya dapat memengaruhi fungsi mental seseorang.

2. Bukan istilah medis resmi

ilustrasi konsumsi media digital berlebihan (unsplash.com/Austin Distel)

Meskipun terdengar mengkhawatirkan, brain rot sendiri bukanlah kondisi medis resmi. Namun, beberapa praktisi kesehatan atau ahli terkait sering menggunakan istilah ini secara kolokial atau bahasa percakapan. Biasanya, istilah ini dikaitkan dengan fenomena yang dikenal sebagai Problematic Interactive Media Use, yang melibatkan gejala gangguan kognitif akibat konsumsi media digital yang berlebihan.

3. Istilahnya sudah ada sejak tahun 1800-an

ilustrasi brain rot (unsplash.com/Gaspar Uhas)

Meski baru menonjol akhir-akhir ini, istilah brain rot sebenarnya bukan hal baru. Ternyata ia sudah ditemukan dalam beberapa kasus independen setidaknya sejak pertengahan 1800-an. Dilansir kamus Merriam-Webster, contoh tertua berasal dari tulisan Henry David Thoreau dalam bukunya yang berjudul Walden pada tahun 1854.

Dalam buku tersebut ia menulis,

"While England endeavors to cure the potato-rot, will not any endeavor to cure the brain-rot, which prevails so much more widely and fatally?".

Artinya,

"Jika Inggris sibuk mengatasi wabah pembusukan kentang, mengapa tidak ada yang berusaha menyembuhkan 'pembusukan otak' yang dampaknya jauh lebih luas dan mematikan?"

4. Mulai trending pada tahun 2023

ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/cottonbro studio)

Istilah brain rot mendapatkan perhatian luas pada tahun 2023 dan 2024. Ini berkaitan dengan beberapa tren penggunaan bahasa gaul internet yang repetitif dan tidak masuk akal, seperti sigma, skibidi, atau rizz. Sekitar waktu ini, brain rot menjadi nama populer untuk konten yang sering kali bersifat absurd, ironis, dan sengaja dibuat berkualitas rendah. Bahkan pada tahun 2024, Oxford University Press menetapkan brain rot sebagai Word of the Year.

5. Berhubungan dengan hormon dopamin

ilustrasi kelelahan otak (pexels.com/Anna Tarazevich)

Beberapa ahli berpendapat bahwa hormon dopamin berperan besar dalam fenomena ini. Dopamin adalah hormon ‘gembira’ yang dilepaskan otak saat kita melakukan aktivitas menyenangkan, termasuk saat melakukan scrolling di media sosial. Meskipun awalnya terasa menyenangkan, otak kita bisa menjadi terlalu terstimulasi dan merasa lelah. Jika kamu terus-menerus terpaku pada ponsel setiap hari, hal ini dapat memicu stres kronis pada otak.

6. Berefek buruk pada memori otak

ilustrasi sulit mengingat sesuatu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Brain rot dapat mengakibatkan rentang perhatian (attention span) yang lebih pendek. Dilansir WebMD, jika otakmu terbiasa dengan konten ‘receh’ yang singkat, otak akan lebih sulit untuk fokus pada tugas-tugas yang kompleks seperti membaca buku atau mengobrol. Selain itu, konten bernilai rendah dapat mengalihkan fokus dan mengurangi alasan bagi otak untuk mengingat sesuatu, sehingga seseorang mungkin lebih sulit mengingat hal spesifik seperti petunjuk arah maupun tanggal-tanggal penting.

7. Dapat memicu kecemasan (anxiety)

ilustrasi doomscrolling (pexels.com/Anna Tarazevich)

Terlalu banyak menatap layar dapat menipiskan korteks serebral, yaitu bagian otak yang mengendalikan memori dan pengambilan keputusan. Gary Small, MD, dari Hackensack University Medical Center, menjelaskan bahwa berkurangnya jaringan otak ini membuat seseorang kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Selain itu, kebiasaan doomscrolling terbukti meningkatkan kadar stres dan memicu kecemasan karena otak mengalami stimulasi berlebihan secara terus-menerus.

Brain rot merupakan fenomena ketergantungan pada konten berkualitas rendah yang sebenarnya sudah mulai disinggung sejak abad ke-19 oleh Henry David Thoreau. Meskipun bukan istilah medis resmi, konsumsi media digital yang berlebihan ini terbukti dapat mengganggu fungsi memori, rentang perhatian, hingga memicu kecemasan. Membatasi durasi penggunaan gawai dan lebih selektif dalam memilih tontonan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan otak dari dampak negatif digital.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team