Comscore Tracker

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!

Baik muda maupun tua, para atlet harus hati-hati!

Dunia olahraga cukup menyita perhatian selama tiga hari terakhir. Pada perhelatan UEFA Euro 2020, pesepak bola asal Denmark, Christian Eriksen, mengalami henti jantung saat bermain melawan Finlandia. Pujian datang untuk para pemain Denmark, wasit, dan tim medis yang bergerak cepat menyelamatkan pesepak bola berusia 29 tahun tersebut.

Sayangnya, hal yang berbeda terjadi dengan Markis Kido. Pada Kamis (14/6/2021), pebulu tangkis ganda putra yang menang medali emas di Olimpiade 2008 Beijing tersebut meninggal dunia di usia 36 tahun akibat serangan jantung saat tengah bermain di Tangerang.

Ternyata, insiden serangan jantung menimpa atlet, baik tua maupun muda, saat tengah bermain sebenarnya lebih sering dari yang dikira. Mengapa bisa begitu?

1. Insiden henti jantung dan serangan jantung yang mematikan pada atlet

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!Zeke Upshaw bermain untuk Grand Rapids Drive sebelum wafat (freep.com)

Menurut penelitian di Amerika Serikat (AS) berjudul "Sudden Cardiac Death in Athletes" dalam Methodist DeBakey Cardiovascular Journal tahun 2016, kematian akibat henti jantung pada atlet ternyata lumayan sering, yaitu 1 dari 40.000 hingga 1 dari 80.000 kasus per tahun. Sementara atlet akrab dengan olahraga kardio yang menyehatkan jantung, henti jantung dapat terjadi jika atlet tersebut memiliki riwayat gangguan jantung.

Tidak hanya yang tua, dunia olahraga pernah menjadi saksi atas kejadian henti jantung dan serangan jantung yang hampir dan telah membunuh beberapa atlet muda. Beberapa kejadian yang menghentak dunia adalah:

  • Pada 1989, pebasket Loyola Marymount Lions, Eric Wilson "Hank" Gathers Jr., kolaps saat melawan UC Santa Barbara dan didiagnosis ventricular tachycardia, aritmia akibat ventrikel jantung berdetak terlalu cepat. Sempat diberi obat dan bermain hingga Maret 1990, Hank wafat setelah kolaps saat melawan Portland Pilots karena kardiomiopati hipertrofi atau hypertrophic cardiomyopathy (HCM).

  • Pada April 1993, Reggie Lewis pemain NBA tim Boston Celtics tersebut kolaps saat tengah bermain kontra Charlotte Hornets. Sempat sadar dan bermain, Lewis kemudian didiagnosis focal cardiomyopathy, gangguan jantung yang menyebabkan aritmia dan gagal jantung. Naasnya, tiga bulan setelahnya, Lewis meninggal di usia 27 tahun saat tengah berlatih akibat serangan jantung di Massachusetts, AS.

  • Pada Maret 2012, mantan pesepak bola yang membela Bolton Wanderers, Fabrice Muamba, mengalami henti jantung saat melawan Tottenham Hotspurs di perempat final FA Cup. Tak mau ambil risiko, pelatih Rochdale U-16 ini memilih pensiun di usia 23 tahun.

  • Pada 2018, pebasket AS yang membela Grand Rapids Drive, Zeke Upshaw, mengalami henti jantung sehabis bermain melawan Long Island Nets. Bahkan, jantungnya tidak berdetak selama 40 menit meskipun sudah diresusitasi. Dua hari kemudian, Upshaw meninggal dunia di usia 26 tahun.

Kemudian, insiden Eriksen dan almarhum Markus Kido pada 2021 selang beberapa hari kembali menyibak bahayanya henti jantung dan serangan jantung pada atlet.

2. Perbedaan henti jantung dan serangan jantung

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!ilustrasi nyeri jantung (freepik.com/user5679684)

Sering dipukul rata, nyatanya henti jantung (cardiac arrest) dan serangan jantung (heart attack) adalah dua insiden berbeda yang saling bertautan.

Dilansir Baptist Health South Florida, Eli Friedman, MD, direktur medis kardiologi olahraga di Miami Cardiac & Vascular Institute, cardiac arrest adalah akibat dari serangan jantung.

Serangan jantung sendiri dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau pembekuan darah (trombosis). Jantung pun jadi kekurangan pasokan darah dan oksigen, sehingga berhenti berdetak. Friedman mengingatkan kalau tidak semua insiden henti jantung disebabkan oleh serangan jantung.

“Tapi, tidak semua henti jantung disebabkan oleh serangan jantung,” jelas Friedman.

Baca Juga: Selain Risiko Jantung, Ini 4 Alasan Perlunya Menjaga Kadar Kolesterol

3. Gejala-gejala henti jantung yang harus diwaspadai

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!ilustrasi penyakit jantung (pexels.com/freestocks.org)

Friedman mengatakan bahwa mengetahui gejala henti jantung pada atlet dapat menyelamatkan nyawa. Dengan begitu, penanganan bisa lebih terukur. Beberapa gejala yang bisa menyebabkan masalah potensial adalah:

  • Sesak napas atau kelelahan yang tidak sepadan dengan jenis aktivitasnya
  • Sensasi seperti tertekan, sesak, atau nyeri di dada
  • Pusing
  • Pingsan
  • Jantung berdebar atau sensasi jantung berdetak kencang

Meskipun elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiogram menunjukkan normal, gejala-gejala ini dapat menjadi pertanda dari kondisi terselubung yang menyebabkan henti jantung mendadak. Jadi, penting bagi para atlet, pelatih, dan wali atlet untuk memonitor dan berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan dalam tim.

4. Penyebab henti jantung pada atlet yang berusia lebih tua

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!ilustrasi aterosklerosis (lifespan.io)

Masih bersumber dari laporan dalam Methodist DeBakey Cardiovascular Journal tahun 2016, penyakit arteri koroner akibat aterosklerosis adalah penyebab utama dari henti jantung pada atlet usia tua. Justru, aktivitas olahraga yang terlalu berat dan aktif dapat memicu risiko henti jantung.

Insiden ini lebih rentan terjadi pada atlet pria usia lanjut yang tidak berolahraga teratur, dan memiliki riwayat penyakit jantung atau faktor risiko penyakit arteri koroner. Akan tetapi, atlet usia tua yang menderita henti jantung karena penyakit arteri koroner lebih mungkin selamat daripada pasien dengan HCM.

Baca Juga: 8 Hal Aneh Pemicu Serangan Jantung, Termasuk Tinggi Badan

5. Penyebab henti jantung pada atlet golongan muda

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!ilustrasi kesehatan jantung (everydayhealth.com)

Friedman mengatakan bahwa untuk kalangan atlet di bawah usia 35 tahun, penyebab henti jantung mendadak dapat terbagi jadi dua kategori: kelainan struktural dan elektrik. Insiden ini dapat disebabkan karena faktor genetik atau diperoleh akibat infeksi jantung atau perkembangan penyakit kardiovaskular. Sayangnya, faktor ini sering terlewat.

Salah satu kondisi yang paling fatal adalah HCM. Ini adalah situasi di mana ventrikel kiri, atau bilik bawah jantung membesar dan menghambat aliran darah keluar dari jantung untuk beredar ke seluruh tubuh.

HCM dapat memperbesar risiko terkena aritmia atau gangguan irama jantung. Tidak heran, menurut statistik pada 2020, American Heart Association menobatkan HCM sebagai penyebab utama serangan jantung mendadak di kalangan atlet muda. Faktanya, kasus kematian Hank, Upshaw, dan Lewis diakibatkan oleh HCM.

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!ilustrasi penyakit jantung koroner (healthline.com)

Selain HCM, kelainan kongenital berupa anomali arteri koroner atau coronary artery anomalies (CAA) juga dapat mengakibatkan henti jantung. CAA juga dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel hingga aritmia, sehingga merupakan penyebab henti jantung mendadak kedua tertinggi.

Lalu, kelainan sinyal elektrik pada jantung pada jantung normal juga dapat membuatnya berhenti mendadak. Dapat didiagnosis dengan ECG, kelainan ini dapat ditandai dengan gejala aritmia, dan meliputi gangguan-gangguan seperti:

  • Long QT Syndrom (LQTS)
  • Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW)

Friedman mengutip berbagai penelitian bahwa kelainan sinyal elektrik jantung lebih sering menyebabkan henti jantung. Bahkan, lebih sering daripada faktor genetik dan kongenital.

Kemudian, henti jantung mendadak juga dapat disebabkan oleh keadaan yang berkembang seiring waktu. Infeksi seperti miokarditis (peradangan atau inflamasi pada otot jantung atau miokardium) dan penyakit Kawasaki (penyakit peradangan yang dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang pada jantung) dapat membuat otot jantung dan pembuluh darah meradang.

6. Diagnosis henti jantung untuk atlet

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!screening fisik untuk atlet sebelum berlatih (houstonchronicle.com)

Sebelum memulai program latihan, biasanya para atlet akan menjalani pemeriksaan fisik atau screening. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan karena beberapa kondisi jantung tidak menimbulkan gejala hingga terlambat. Di AS, screening diulang tiap 2 tahun (usia remaja) dan 4 tahun (usia dewasa). Sementara itu, di Eropa hanya 2 tahun.

Dokter selalu mewawancarai para atlet sebelum screening. Pengujian hanya dilakukan jika usia dan gejala dilaporkan mengkhawatirkan. Pertanyaan selalu berfokus pada tiga bidang:

  • Gejala: seperti nyeri dada atau sensasi  tidak nyaman, pingsan atau hampir pingsan, kelelahan, dan kesulitan bernapas, terutama ketika gejala ini terjadi selama olahraga berat
  • Riwayat keluarga: riwayat anggota keluarga yang pingsan atau meninggal saat berolahraga, atau yang meninggal tiba-tiba sebelum sekitar usia 50 tahun
  • Penggunaan obat-obatan

Screening fisik umumnya fokus pada mendengarkan irama jantung dengan stetoskop untuk melihat kemungkinan gangguan jantung. Selain itu, pengukuran tekanan darah saat berbaring dan berdiri pun juga dilakukan.

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!screening untuk atlet sebelum memulai program latihan (sems-journal.ch)

Untuk atlet muda, dokter biasanya tidak melakukan tes, kecuali jika diagnosis dan rekam medis menunjukkan abnormalitas. Jika ada masalah jantung, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan EKG, ekokardiogram, atau keduanya.

Untuk atlet berusia 35 tahun ke atas, dokter melaksanakan tes EKG dan tes stres sebelum menyetujui program latihan intens.

Jika ditemukan kelainan jantung, atlet terpaksa berhenti berkompetisi dan menjalani tes lebih lanjut. Akan tetapi, para atlet boleh berolahraga non-kompetitif sebagai program rehabilitasi jantung. Dengan begitu, mereka dapat tetap melatih tubuh dan mencegah penumpukan kolesterol jahat (low-density lipoprotein atau LDL), hipertensi, serta mengurangi lemak.

7. Pengobatan dini dapat menyelamatkan para atlet

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!ilustrasi seseorang mengalami henti jantung (pexels.com/RODNAE Productions)

Henti jantung mendadak pada atlet sebenarnya jarang terjadi. Namun, Friedman mengatakan dibandingkan duka mendalam, reaksi cepat tanggap seharusnya bisa menyelamatkan nyawa atlet saat mengalami henti jantung.

Faktanya, Eriksen sebenarnya sempat "lewat" untuk sesaat. Dokter timnas Denmark, dr. Morten Boesen, mengatakan kalau henti jantung yang dialami Eriksen dapat ditanggulangi dengan sekali kejut menggunakan defibrilator. Jika terlambat, kemungkinan besar nyawa Eriksen tidak akan tertolong.

Mengacu pada pedoman resusitasi jantung paru (RJP) oleh American Heart Association, Friedman mengatakan bahwa pertolongan pertama dapat menyelamatkan nyawa para atlet. Berikut adalah langkah-langkah pertolongan pertama untuk atlet saat henti jantung terjadi:

  • Cobalah menggoyang pasien tersebut untuk mengecek respons

  • Periksa denyut nadi

  • Segera hubungi nomor darurat seperti 110 atau 112

  • Minta pertolongan untuk mengambil defibrilator eksternal otomatis (AED) jika tersedia atau ada di dekatmu

  • Mulailah RJP dengan resusitasi dada pasien. Dorong dada ke bawah 2 hingga 2½ inci dengan irama 100-120 kali per menit. Agar lebih mudah, ikuti irama lagu Bee Gees, Stayin’ Alive, hingga AED atau paramedis tiba

  • Ikuti instruksi yang diberikan oleh AED, dan lanjutkan RJP bila disarankan untuk melakukannya sampai bantuan darurat tiba

Fenomena Henti Jantung pada Atlet, Ini Faktanya!ilustrasi resusitasi jantung paru (freepik.com/prostooleh)

Menurut penelitian gabungan antara Brasil, Swiss, dan Yunani yang dimuat dalam Journal of Clinical Medicine tahun 2019, cara utama untuk menyelamatkan atlet yang pingsan setelah aktivitas fisik adalah identifikasi kemungkinan henti jantung mendadak, memberikan pertolongan pertama seperti RJP, dan penggunaan AED yang tepat.

"Jika kamu menyaksikan seorang atlet atau siapa pun pingsan tanpa sebab, anggap itu insiden henti jantung dan segera bertindak," kata Friedman.

Itulah beberapa penjelasan mengenai insiden henti jantung di kalangan atlet muda dan tua. Dikarenakan jarang terjadi, sering kali insiden henti jantung mendadak dapat merenggut nyawa atau menghentikan karier cemerlang para atlet. Dengan mengetahui pertolongan dan kiat diagnosis pertama, henti jantung dapat ditangani dengan segera.

Baca Juga: Kenali 7 Jenis Penyakit Jantung yang Paling Banyak Terjadi

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya