- Tes HIV gratis, sukarela, dan rahasia.
- Pengobatan antiretroviral bagi orang yang terdiagnosis.
- PrEP, yaitu obat untuk menurunkan risiko tertular HIV pada orang yang belum terinfeksi.
- Program jarum dan alat suntik steril.
- Edukasi masyarakat serta upaya melawan stigma dan diskriminasi.
Fiji Deklarasi Darurat HIV: 1 dari 60 Orang Dewasa Positif

Fiji memperkirakan sekitar 9.100 orang hidup dengan HIV pada 2025.
Hanya 39 persen yang mengetahui status HIV-nya dan 22 persen yang menerima terapi antiretroviral.
Pemerintah memperluas tes gratis, pengobatan, PrEP, serta program jarum suntik steril untuk menekan penularan.
Di Fiji, negara kepulauan di Pasifik dengan penduduk kurang dari satu juta orang, pemerintah baru saja menaikkan status HIV dari wabah menjadi darurat kesehatan nasional. Keputusan ini diumumkan pada September 2026 setelah perkiraan menunjukkan sekitar 1 dari 60 orang dewasa hidup dengan HIV—meningkat dari 1 dari 167 orang lima tahun sebelumnya.
Table of Content
1. Mengapa statusnya dinaikkan menjadi darurat?
Menteri Kesehatan Fiji, Ratu Atonio Lalabalavu, menyatakan respons tingkat wabah tidak lagi cukup menghadapi peningkatan kasus. Pemerintah kemudian membentuk subkomite yang melibatkan lima kementerian agar penanganannya tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS (UNAIDS) memperkirakan infeksi baru di Fiji meningkat 12 kali lipat antara 2010 dan 2025. Pada 2025, tercatat lebih dari 2.000 diagnosis baru. Reuters juga melaporkan kenaikan diagnosis tahunan sekitar 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai catatan, "diagnosis baru" adalah kasus yang baru terdeteksi, sedangkan “orang yang hidup dengan HIV” mencakup semua orang yang telah terinfeksi, baik yang sudah mengetahui statusnya maupun belum.
2. Penularan tidak hanya terjadi melalui satu jalur
Di antara kasus yang memiliki informasi mengenai cara penularan, lebih dari separuh berkaitan dengan hubungan seksual dan lebih dari 42 persen terkait penggunaan narkoba suntik.
Peningkatan penggunaan metamfetamin suntik di kawasan Pasifik menjadi salah satu perhatian utama. Berbagi jarum dapat memindahkan darah yang mengandung HIV secara langsung dari satu orang ke orang lain. Ketika layanan pengurangan dampak buruk, seperti jarum steril dan tes rutin, sulit diakses, risiko penularan meningkat.
UNAIDS menekankan bahwa deklarasi darurat seharusnya menjadi panggilan untuk memperkuat layanan, bukan alasan untuk menyalahkan atau menjauhi orang yang hidup dengan HIV.
3. Banyak orang belum mengetahui statusnya

ilustrasi HIV/AIDS (IDN Times/NRF) Dari perkiraan 9.100 orang yang hidup dengan HIV di Fiji pada 2025, hanya sekitar 39 persen yang mengetahui statusnya. Artinya, sebagian besar belum terhubung dengan layanan pengobatan dan pencegahan. Hanya 22 persen yang tercatat menerima terapi antiretroviral (ARV).
Kesenjangan ini penting karena HIV dapat tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun. Seseorang dapat terlihat sehat, tetapi tetap menularkan virus tanpa mengetahui statusnya. Tes HIV secara sukarela, rahasia, dan mudah dijangkau menjadi langkah penting untuk menemukan infeksi lebih awal.
Fiji juga melaporkan 59 bayi lahir dengan HIV pada 2025, dan 18 di antaranya meninggal sebelum berusia satu tahun. Kondisi ini menunjukkan pentingnya tes HIV selama kehamilan, pengobatan bagi ibu, serta layanan untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi.
4. Pengobatan dapat melindungi kesehatan sekaligus mencegah penularan
Terapi ARV dapat menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi. Orang yang menjalani pengobatan secara efektif dan mempertahankan viral load tidak terdeteksi tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual.
Dengan pengobatan modern, diagnosis HIV bukanlah akhir dari kehidupan yang sehat. Tantangannya adalah memastikan orang dapat mengakses tes, obat, pemantauan viral load, dan dukungan tanpa stigma.
5. Langkah-langkah yang disiapkan pemerintah Fiji
Pemerintah Fiji mengumumkan perluasan:
Deklarasi darurat tersebut menunjukkan bahwa epidemi HIV dapat berubah cepat, bahkan di negara yang sebelumnya memiliki angka kasus relatif rendah. Namun, penularan dapat ditekan apabila tes, pengobatan, PrEP, layanan jarum steril, dan perlindungan dari diskriminasi tersedia bagi orang yang membutuhkannya.
Referensi
Reuters, “Fiji Declares HIV a National Crisis as Diagnoses Surge,” diakses September 2026.
Associated Press, “Fiji Declares an HIV Emergency and Expands Testing as Cases Surge,” diakses September 2026.
UNAIDS, “UNAIDS to Support Fiji as It Declares HIV a National Crisis and Puts in New Measures to Strengthen the Response,” diakses September 2026.










![[QUIZ] Dari Karaktermu saat Stres, Ini Tipe Stress Language Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)









