Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Usia Sekolah Masih Mengompol, Apakah Normal?

3 min read
Anak Usia Sekolah Masih Mengompol, Apakah Normal?
ilustrasi anak tidur (pexels.com/cottonbro studio)
  • Mengompol masih dialami sebagian anak usia sekolah dan tidak dilakukan dengan sengaja.

  • Penyebabnya dapat melibatkan perkembangan kontrol kandung kemih, faktor keturunan, sembelit, hingga gangguan tidur.

  • Pemeriksaan diperlukan terutama jika mengompol muncul kembali setelah lama berhenti, disertai keluhan lain, atau mengganggu keseharian anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat membangunkan anak untuk bersiap ke sekolah, terlihat seprai anak basah. Ini bisa membuat orang tua khawatir dan anak merasa malu. Namun, mengompol saat tidur bukan tanda anak malas atau sengaja mengabaikan keinginan buang air kecil.

Pada usia sekolah, kondisi ini masih bisa terjadi tanpa penyakit serius. Meski demikian, mengompol yang terus terjadi layak dibicarakan dengan dokter, terutama jika membuat anak tertekan atau disertai keluhan lain.

  1. Mengompol masih terjadi pada sebagian anak usia sekolah

    Mengompol saat tidur pada anak berusia 5 tahun ke atas disebut enuresis. Canadian Paediatric Society memperkirakan sekitar 5 persen anak usia 10 tahun masih mengalaminya.

    Dokter membedakan enuresis primer, ketika anak belum pernah bebas mengompol selama setidaknya enam bulan, dan enuresis sekunder, ketika mengompol kembali setelah periode tersebut. Pola kedua perlu ditelusuri untuk mencari pemicu baru.

  2. Mengapa anak yang sudah besar masih mengompol?

    Tidur tanpa mengompol sepanjang malam bergantung pada kerja kandung kemih, produksi urine, dan kemampuan terbangun. Beberapa faktor yang dapat berperan antara lain:

    • Belum terbangun saat kandung kemih penuh. Sistem yang menghubungkan sinyal kandung kemih dengan respons bangun masih berkembang.
    • Produksi urine malam hari terlalu banyak, sehingga melebihi kemampuan kandung kemih menampungnya.
    • Faktor keturunan. Mengompol lebih sering ditemukan dalam keluarga dengan riwayat serupa.
    • Sembelit atau gangguan tidur, termasuk gangguan napas saat tidur yang dapat disertai mendengkur.
    • Stres, misalnya perubahan lingkungan sekolah atau keluarga. Namun, mengompol tidak selalu berarti anak memiliki masalah psikologis.

  3. Kapan perlu diperiksa oleh dokter?

    Ilustrasi orang tua memeriksakan anak kepada dokter untuk konsultasi kesehatan di ruang pemeriksaan.
    ilustrasi memeriksakan anak ke dokter (magnific.com/jcomp)

    Buat janji dengan dokter anak jika mengompol terus berlangsung, kembali setelah enam bulan tanpa mengompol, atau disertai kebocoran urine pada siang hari. Sampaikan juga jika anak mendengkur keras atau mengalami sembelit.

    Jika ada nyeri saat berkemih, demam, atau urine berdarah, segera periksakan karena dapat menandakan infeksi saluran kemih. Dokter akan menilai riwayat keluhan dan melakukan pemeriksaan. Tes urine dapat diperlukan sesuai temuan.

  4. Dukungan di rumah

    Pastikan anak cukup minum pada siang hari, buang air kecil secara teratur dan sebelum tidur, serta mudah mencapai toilet.

    Hindari minuman berkafein seperti teh dan kola.

    Pelindung kasur dapat membantu mengurangi kerepotan keluarga.

    Berikan penghargaan untuk kebiasaan yang bisa dikendalikan anak, seperti ke toilet sebelum tidur.

    Jangan menghukum atau mempermalukannya karena ia mengompol. Rutin membangunkan atau menggendong anak ke toilet juga tidak membantu mengatasi masalah ini dalam jangka panjang.

  5. Ada pengobatan jika diperlukan

    Salah satu pilihan adalah alarm mengompol yang berbunyi ketika mendeteksi urine. Menurut sebuah tinjauan Cochrane tahun 2020 yang mencakup 74 penelitian dengan 5.983 anak, penggunaan alarm mungkin mengurangi malam mengompol dibandingkan tanpa terapi, tetapi kepastian buktinya masih rendah.

    Dokter juga dapat meresepkan desmopresin untuk mengurangi produksi urine malam hari. Penggunaannya harus disertai aturan pembatasan cairan yang jelas karena berisiko menyebabkan kadar natrium darah terlalu rendah.

    Pilihan penanganan umumnya akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak.

    Referensi

    James Harris, Alisa Lipson, dan Joana Dos Santos, “Evaluation and Management of Enuresis in the General Paediatric Setting,” Paediatrics & Child Health 28, no. 6 (2023): 362–76, https://doi.org/10.1093/pch/pxad023.

    National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Symptoms & Causes of Bladder Control Problems & Bedwetting in Children,” diakses September 2026.

    National Health Service, “Bedwetting in Children,” diakses September 2026.

    Patrina H. Y. Caldwell et al., “Alarm Interventions for Nocturnal Enuresis in Children,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 5 (2020): CD002911, https://doi.org/10.1002/14651858.CD002911.pub3.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More