Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anti-HBs Negatif, Apakah Ini Berarti Vaksin Hepatitis B Gagal?
ilustrasi vaksinasi pada orang dewasa (IDN Times/NRF)
  • SKI 2023 menemukan anti-HBs negatif pada 75,7 persen responden, tetapi angka ini tidak berarti 75,7 persen penduduk Indonesia tidak kebal terhadap hepatitis B.

  • Antibodi dapat turun hingga tidak terdeteksi bertahun-tahun setelah vaksinasi, sementara memori sistem imun masih bertahan pada orang sehat yang sebelumnya merespons vaksin.

  • Keputusan vaksinasi ulang tidak boleh berdasarkan anti-HBs saja. Hasil perlu dibaca bersama riwayat vaksinasi, HBsAg, dan total anti-HBc.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tulisan “anti-HBs negatif” dalam hasil laboratorium dapat membuat seseorang bingung akan vaksin hepatitis B yang pernah diterimanya. Apakah antibodinya sudah hilang? Apakah vaksin gagal bekerja? Haruskah mendapatkan vaksinasi lagi?

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan 75,7 persen responden memiliki anti-HBs negatif, sedangkan 24,3 persen menunjukkan hasil positif. Namun, bukan berarti 75,7 persen orang Indonesia tidak kebal. Anti-HBs hanyalah salah satu bagian dari respons imun dan harus ditafsirkan berdasarkan waktu pemeriksaan, riwayat vaksinasi, kondisi kesehatan, serta hasil penanda hepatitis B lainnya.

Apa arti anti-HBs negatif?

Anti-HBs adalah antibodi yang dibentuk tubuh terhadap protein permukaan virus hepatitis B. Antibodi ini muncul setelah seseorang berhasil merespons vaksin atau pulih dari infeksi hepatitis B.

Dalam konteks vaksinasi, kadar anti-HBs sedikitnya 10 mIU/mL yang diukur 1–2 bulan setelah rangkaian vaksin selesai dianggap menunjukkan respons perlindungan. Namun, patokan ini berlaku paling jelas ketika pemeriksaan dilakukan pada waktu yang tepat setelah vaksinasi lengkap.

SKI 2023 menggunakan definisi laboratorium anti-HBs kurang dari 9 mIU/mL dikategorikan negatif, sedangkan kadar sedikitnya 11 mIU/mL dikategorikan positif. Karena ambang dan tujuan pemeriksaan dapat berbeda, maka hasil survei populasi tidak dapat langsung digunakan untuk memutuskan bahwa setiap orang dengan hasil negatif memerlukan booster.

Secara praktis, anti-HBs negatif dapat memiliki beberapa arti:

  • Belum pernah mendapat vaksin.

  • Belum menyelesaikan rangkaian vaksin.

  • Sudah divaksinasi, tetapi tidak membentuk respons yang memadai.

  • Pernah merespons vaksin, tetapi kadar antibodinya menurun.

  • Sedang atau pernah mengalami infeksi hepatitis B, bergantung pada hasil HBsAg dan anti-HBc.

Anti-HBs saja tidak dapat membedakan semua kemungkinan tersebut.

Antibodi turun bukan berarti perlindungan hilang

Setelah vaksinasi, kadar antibodi memang dapat menurun seiring waktu. Namun, sistem imun tidak hanya mengandalkan antibodi yang sedang beredar dalam darah. Sel memori dapat mengenali virus dan meningkatkan kembali respons ketika terjadi paparan.

Sebagian besar orang yang telah menyelesaikan vaksinasi dan sebelumnya merespons dengan baik tetap memiliki perlindungan meskipun anti-HBs kemudian turun di bawah 10 mIU/mL. Mereka dapat membentuk respons kembali ketika berhadapan dengan antigen hepatitis B.

Hal ini terlihat dalam studi tindak lanjut selama 30 tahun terhadap orang yang menerima vaksin hepatitis B. Hanya 51 persen peserta yang masih memiliki anti-HBs sedikitnya 10 mIU/mL setelah tiga dekade. Namun, di antara peserta dengan kadar antibodi di bawah ambang tersebut, 88 persen membentuk kembali anti-HBs sedikitnya 10 mIU/mL setelah satu dosis penguat. Para peneliti memperkirakan sedikitnya 90 persen peserta masih mempunyai bukti perlindungan setelah 30 tahun.

Studi lain pada kohort yang sama mendeteksi respons sel T spesifik hepatitis B hingga 32 tahun setelah vaksinasi, termasuk pada peserta yang anti-HBs-nya berada di bawah 10 mIU/mL.

Temuan ini terutama berlaku pada orang dengan sistem imun normal yang diketahui pernah merespons vaksin. Hasilnya tidak otomatis berlaku pada pasien dialisis, penerima transplantasi, orang yang menjalani kemoterapi, atau orang dengan gangguan sistem imun.

SKI tidak membuktikan vaksin gagal

ilustrasi vaksinasi (unsplash.com/CDC)

Dalam SKI 2023, proporsi anti-HBs negatif mencapai 91,5 persen pada kelompok usia 15–24 tahun, sedangkan pada anak usia 0–4 tahun sebesar 36,8 persen.

Pola ini dapat dipengaruhi oleh penurunan antibodi seiring berjalannya waktu. Namun, SKI tidak memberikan cukup informasi untuk memastikan penyebabnya pada setiap responden. Tabel tersebut tidak menunjukkan secara individual:

  • Siapa yang telah menerima vaksin lengkap.

  • Kapan vaksin terakhir diberikan.

  • Siapa yang pernah membentuk antibodi setelah vaksinasi.

  • Bagaimana kombinasi anti-HBs dengan HBsAg dan anti-HBc pada masing-masing orang.

Karena itu, data tersebut tidak dapat digunakan untuk menghitung persentase kegagalan vaksin hepatitis B di Indonesia.

Kapan anti-HBs negatif menunjukkan perlunya vaksin?

Keputusan lebih jelas ketika tiga penanda diperiksa bersamaan:

HBsAg

Total anti-HBc

Anti-HBs

Makna umum

Negatif

Negatif

Negatif

Rentan bila tidak memiliki dokumentasi vaksin lengkap

Negatif

Negatif

Positif

Kebal melalui vaksinasi

Negatif

Positif

Positif

Pernah terinfeksi dan sudah pulih

Positif

Positif

Negatif

Sedang mengalami infeksi hepatitis B

Negatif

Positif

Negatif

Perlu evaluasi lebih lanjut

Para ahli merekomendasikan triple panel (HBsAg, anti-HBs, dan total anti-HBc) untuk gambaran yang lebih lengkap mengenai status infeksi dan kekebalan.

Jika ketiganya negatif dan tidak ada bukti rangkaian vaksin telah selesai, orang tersebut dianggap masih rentan dan dapat menerima vaksin hepatitis B. Orang dewasa yang belum pernah divaksinasi juga tetap dapat memulai vaksinasi.

Sebaliknya, jika HBsAg positif, masalahnya bukan kekurangan booster. Hasil tersebut mengarah pada infeksi yang sedang berlangsung dan memerlukan evaluasi medis.

Anti-HBc positif dengan anti-HBs negatif juga tidak boleh langsung ditangani hanya dengan vaksin. Pola ini dapat menunjukkan infeksi lama dengan antibodi yang sudah menurun, hasil positif palsu, infeksi tersembunyi, atau kondisi lain yang mungkin butuh pemeriksaan ulang dan HBV DNA.

Siapa yang perlu tes antibodi setelah vaksinasi?

Pemeriksaan anti-HBs rutin tidak diperlukan setelah vaksinasi biasa pada bayi, anak, remaja, maupun kebanyakan orang dewasa sehat. Jika pemeriksaan diperlukan, waktu yang tepat umumnya 1–2 bulan setelah dosis terakhir, bukan bertahun-tahun kemudian.

Tes setelah vaksin direkomendasikan atau dipertimbangkan pada kelompok yang hasilnya akan memengaruhi tindakan medis, antara lain:

  • Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif.

  • Tenaga kesehatan dan petugas keselamatan yang berisiko terpapar darah.

  • Pasien hemodialisis.

  • Orang dengan HIV atau gangguan sistem imun.

  • Penerima kemoterapi atau transplantasi.

  • Pasangan seksual orang dengan HBsAg positif.

Bagi tenaga kesehatan, hasil anti-HBs kurang dari 10 mIU/mL setelah vaksinasi lengkap dapat diikuti dosis tambahan atau vaksinasi ulang menurut algoritme paparan kerja. Tes bertahun-tahun setelah vaksinasi masa kecil tidak selalu dapat membedakan orang yang sejak awal tidak merespons dari orang yang antibodinya sekadar menurun.

Pada pasien hemodialisis, pedoman Kemenkes menganjurkan penilaian anti-HBs secara berkala dan pemberian booster jika kadarnya turun di bawah 10 mIU/mL, karena respons serta ketahanan perlindungan pada kelompok ini cenderung lebih lemah.

Apakah orang sehat membutuhkan booster?

ilustrasi vaksin (IDN Times/NRF)

WHO menyatakan belum ada bukti yang mendukung kebutuhan dosis booster dalam program imunisasi rutin hepatitis B. Orang dengan sistem imun normal yang telah menyelesaikan rangkaian vaksin umumnya tidak butuh booster hanya karena waktu telah berlalu.

Hal ini berbeda dari seseorang yang:

  • Tidak memiliki dokumentasi vaksinasi lengkap.

  • Terbukti tidak merespons setelah rangkaian pertama.

  • Menjalani dialisis.

  • Memiliki gangguan sistem imun.

  • Berada dalam kelompok pekerjaan dengan risiko paparan darah.

Kelompok tersebut memerlukan penilaian khusus.

Setelah menerima hasil anti-HBs negatif, apa yang harus dilakukan?

Pertama, periksa apakah ada catatan vaksinasi lengkap dan kapan tes dilakukan. Hasil bertahun-tahun setelah vaksin tidak dapat dinilai sama seperti tes 1–2 bulan setelah dosis terakhir.

Kedua, lihat apakah pemeriksaan juga mencakup HBsAg dan total anti-HBc. Jika belum, konsultasikan kebutuhan triple panel dengan dokter, terutama jika terdapat riwayat paparan, pasangan atau anggota keluarga dengan hepatitis B, pekerjaan yang melibatkan darah, atau kondisi penurunan sistem imun.

Ketiga, jangan membeli booster sendiri hanya berdasarkan satu hasil anti-HBs. Vaksin mungkin memang diperlukan, tetapi keputusan tersebut lebih akurat setelah status infeksi, riwayat vaksin, dan kondisi kesehatan dinilai bersama.

Anti-HBs negatif tidak otomatis berarti vaksin hepatitis B gagal. Pada orang sehat yang pernah merespons vaksin, kadar antibodi bisa menurun hingga tidak terdeteksi sementara memori imun tetap memberikan perlindungan.

Temuan SKI 2023 bahwa 75,7 persen responden memiliki anti-HBs negatif juga tidak berarti mereka tidak kebal karena survei tersebut tidak menghubungkan hasil antibodi setiap individu dengan riwayat vaksinasi lengkap dan kombinasi penanda hepatitis B lainnya.

Referensi

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Survei Kesehatan Indonesia 2023 dalam Angka," 185–91, khususnya 186 dan 190 (PDF). Diakses Juli 2026.

Erin E. Conners et al., “Screening and Testing for Hepatitis B Virus Infection: CDC Recommendations—United States, 2023,” MMWR Recommendations and Reports 72, no. 1 (2023): 1–25, https://doi.org/10.15585/mmwr.rr7201a1.

Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Testing and Diagnosis for Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Michael G. Bruce et al., “Antibody Levels and Protection after Hepatitis B Vaccine: Results of a 30-Year Follow-up Study and Response to a Booster Dose,” Journal of Infectious Diseases 214, no. 1 (2016): 16–22, https://doi.org/10.1093/infdis/jiv748.

Brenna C. Simons et al., “A Longitudinal Hepatitis B Vaccine Cohort Demonstrates Long-Lasting Hepatitis B Virus-Specific Cellular Immunity despite Loss of Antibody against Hepatitis B Surface Antigen,” Journal of Infectious Diseases 214, no. 2 (2016): 273–280, https://doi.org/10.1093/infdis/jiw142.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Sarah Schillie et al., “Prevention of Hepatitis B Virus Infection in the United States: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices,” MMWR Recommendations and Reports 67, no. 1 (2018): 1–31, https://doi.org/10.15585/mmwr.rr6701a1.

Centers for Disease Control and Prevention, “Responding to HBV Exposures in Health Care Settings,” diakses Juli 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PDF)," diakses Juli 2026

World Health Organization, "Hepatitis B Vaccines: WHO Position Paper—July 2017, Weekly Epidemiological Record 92, no. 27 (2017): 369–392", diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article