- Gairah seksual menurun
- Disfungsi ereksi
- Benjolan atau pembengkakan pada testis
- Rasa tidak nyaman di sekitar testis
- Hingga berkurangnya rambut pada wajah atau tubuh.
Apa Azoospermia pada Pria? Cara Kenali dan Penanganannya!

- Azoospermia adalah kondisi tidak ditemukannya sperma dalam air mani, meski ejakulasi tetap terjadi, dan menjadi salah satu penyebab infertilitas pria.
- Gangguan ini dapat berasal dari masalah hormon, testis, atau sumbatan saluran reproduksi; penyebabnya meliputi kelainan genetik, infeksi, operasi, obat, radiasi, kemoterapi, hingga vasektomi.
- Azoospermia dipastikan melalui analisis air mani dan pemeriksaan lanjutan; penanganan disesuaikan penyebabnya, termasuk operasi, terapi hormon, atau pengambilan sperma untuk bayi tabung.
Belum diberikan anak memang membuat sedih dan cemas. Apalagi jika kamu dan pasangan sudah lama mencoba mendapatkan momongan, tetapi belum juga berhasil.
Masalah fertilitas ternyata juga bisa datang dari pihak pria. Salah satunya adalah azoospermia. Lantas, apa sebenarnya azoospermia? Apakah kondisi ini bisa diobati? Yuk, simak penjelasan mengenai azoospermia pada pria berikut ini!
1. Apa itu azoospermia?

Infertilitas pada pria (pexels.com/Gustavo Fring ) Azoospermia merupakan istilah medis untuk kondisi ketika tidak terdapat sperma yang terdeteksi di dalam air mani. Jadi, bukan berarti seorang pria tidak bisa mengalami ejakulasi. Air mani tetap dapat keluar, tetapi tidak mengandung sperma yang terdeteksi.
Nah, kondisi ini berbeda dengan jumlah sperma yang rendah atau oligospermia. Pada oligospermia, sperma masih ditemukan dalam air mani, tetapi jumlahnya lebih sedikit dari normal. Sedangkan pada azoospermia, sperma tidak ditemukan dalam air mani.
Azoospermia dapat menjadi salah satu penyebab infertilitas pria. Kondisi ini ditemukan pada sekitar 1 persen pria secara umum dan dapat ditemukan pada sekitar 10–15 persen pria yang menjalani pemeriksaan karena masalah fertilitas.
Namun, jangan langsung berpikir bahwa azoospermia berarti testis sama sekali tidak menghasilkan sperma. Pada beberapa kasus, sperma sebenarnya masih diproduksi di dalam testis, tetapi tidak dapat masuk ke dalam air mani karena adanya gangguan pada saluran reproduksi.
2. Jenis-jenis azoospermia

ilustrasi Azoospermia (pexels.com/Nadezhda Moryak) Azoospermia tidak hanya memiliki satu penyebab. Secara umum, kondisi ini dapat dibagi berdasarkan lokasi gangguan yang menyebabkan sperma tidak ditemukan dalam air mani.
Pertama, azoospermia pretesticular. Kondisi ini terjadi ketika terdapat gangguan hormonal yang membuat tubuh tidak memberikan stimulasi yang cukup untuk memproduksi sperma. Misalnya gangguan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari dapat berperan dalam kondisi ini.
Kedua, azoospermia testicular. Pada jenis ini, masalahnya berada pada testis sehingga produksi sperma terganggu. Penyebab azoospermia tipe ini cukup beragam. Mulai dari kelainan genetik, testis yang tidak turun, kerusakan akibat penyakit atau pengobatan tertentu, hingga gangguan dalam proses pembentukan sperma.
Ketiga, azoospermia post-testicular. Nah, pada kondisi ini sebenarnya produksi sperma dapat berlangsung, tetapi sperma mengalami hambatan untuk keluar karena adanya sumbatan pada saluran reproduksi.
Sementara itu, dalam praktik medis azoospermia juga sering dikelompokkan menjadi obstructive azoospermia dan non-obstructive azoospermia. Obstructive azoospermia berkaitan dengan penyumbatan saluran reproduksi, sedangkan non-obstructive azoospermia berkaitan dengan produksi sperma yang tidak mencukupi.
Penyebabnya pun bisa bermacam-macam. Mulai dari kelainan genetik, varikokel, infeksi, operasi sebelumnya, paparan radiasi atau kemoterapi, penggunaan obat tertentu, hingga vasektomi pada kasus obstruktif.
3. Apa saja gejala azoospermia?

ilustrasi cowok menunggu (unsplash.com/Logan Gutierrez) Kondisi azoospermia sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Banyak pria baru mengetahui dirinya mengalami azoospermia ketika menjalani pemeriksaan karena sulit mendapatkan keturunan.
Beberapa pria mungkin mengalami gejala yang berkaitan dengan penyebab azoospermia, seperti:
Namun, gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami azoospermia.
Karena itu, azoospermia tidak bisa dipastikan hanya dengan melihat gejala. Pemeriksaan analisis air mani diperlukan untuk mengetahui apakah memang tidak terdapat sperma di dalamnya.
Diagnosis umumnya juga dapat melibatkan banyak pemeriksaan. Seperti pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, hormon, genetik, atau periksaan khusus sesuai kondisi pasien.
4. Bagaimana penanganan pada azoospermia

ilustrasi periksa ke dokter (pexels.com/Los Muertos Crew) Penanganan azoospermia tergantung pada penyebabnya. Tidak semua kasus azoospermia mendapatkan penanganan yang sama. Karena itu, dokter perlu mencari tahu terlebih dahulu apa yang menyebabkan kondisi tersebut.
Jika azoospermia disebabkan oleh penyumbatan, dokter dapat mempertimbangkan prosedur operasi. Operasi tersebut bertujuan untuk memperbaiki atau menyambungkan kembali saluran reproduksi.
Sementara itu, jika penyebabnya berkaitan dengan gangguan hormon, terapi hormonal dapat menjadi salah satu pilihan. Penanganannya tentu disesuaikan dengan jenis gangguan dan hasil pemeriksaan pasien.
Bagaimana jika produksi sperma di dalam testis sangat rendah? Pada beberapa pria dengan non-obstructive azoospermia, dokter dapat mempertimbangkan surgical sperm retrieval.
Surgical sperm retrieval juga termasuk metode microTESE untuk mencari sperma yang masih diproduksi di bagian tertentu dari testis. Sperma yang berhasil ditemukan kemudian dapat digunakan dalam bayi tabung.
Jadi, diagnosis azoospermia bukan berarti kesempatan memiliki anak biologis otomatis tertutup. Pilihan penanganan tetap bergantung pada penyebab, kondisi reproduksi pria, hasil pemeriksaan, serta faktor lain yang berkaitan dengan pasangan.
Pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter spesialis yang menangani infertilitas pria penting dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya. Jadi, jika kamu atau pasangan sedang menghadapi masalah kesuburan, jangan ragu untuk berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Referensi :
Cleveland Clinic. (2023, September 27). Azoospermia.
Cocuzza, M., Alvarenga, C., & Pagani, R. (2013). The epidemiology and etiology of azoospermia. Clinics, 68, 15–26.
Huyghe, E., & Chiu, P. K. (2025). Health risks associated with infertility and non-obstructive azoospermia. Asian Journal of Andrology, 27(3), 428–432.
Johns Hopkins University. (n.d.). Azoospermia: What is “azoospermia”?
Raza, N., Grammatis, A., Sangster, P., & Kirkman‐Brown, J. (2026). Management of Azoospermia: A Systematic approach. The Obstetrician & Gynaecologist, 28(3), 155–167.
Stanford Health Care. (n.d.). Azoospermia.
Wosnitzer, M., Goldstein, M., & Hardy, M. P. (2014). Review of azoospermia. Spermatogenesis, 4(1), e28218.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















.jpg)



