Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Autisme Itu Genetik? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Apakah Autisme Itu Genetik? Ini Penjelasan Ilmiahnya!
gambar seorang anak sedang mendengarkan musik (unsplash.com/Alireza Attari)
Intinya Sih
  • Autisme bukan penyakit, melainkan perbedaan cara kerja otak yang memengaruhi cara seseorang berinteraksi dan memahami dunia sekitarnya.
  • Setiap anak dengan autisme memiliki kombinasi gejala unik, mulai dari kesulitan komunikasi hingga perilaku berulang dan sensitivitas terhadap perubahan.
  • Faktor genetik terbukti meningkatkan risiko autisme, namun lingkungan seperti infeksi, obat-obatan, dan polusi juga berperan dalam perkembangannya sejak sebelum lahir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Autisme bukan istilah asing lagi di masyarakat. Kamu mungkin pernah bertemu orang-orang dengan kondisi ini beberapa kali. Autisme atau yang juga dikenal dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), merupakan kondisi beragam yang dikaitkan dengan perkembangan otak. Dilansir World Health Organization, pada tahun 2021 lalu, sekitar 1 dari 127 orang mengidap autisme.

Ciri-ciri autisme umumnya sudah terlihat sejak masih anak-anak. Namun banyak kasus di mana diagnosis baru dilakukan jauh di kemudian hari. Lalu pertanyaannya, apa yang menyebabkan autisme? Apakah autisme itu genetik? Berikut penjelasannya!

1. Autisme bukanlah penyakit

Ilustrasi otak manusia
ilustrasi otak manusia (freepik.com/Freepik)

Autisme memang bukan kondisi yang asing, tetapi informasi seputar autisme di masyarakat masih sangat terbatas. Mayoritas orang bahkan beranggapan bahwa autisme merupakan penyakit. Dilansir Cleveland Clinic, autisme nyatanya bukanlah penyakit. Sebaliknya autisme adalah perbedaan cara kerja otak pada anak yang kemudian mempengaruhi cara pandang dan bagaimana mereka berinteraksi dengan dunia sekitarnya.

Nah, karena autisme bukanlah penyakit, konsultasi dengan layanan kesehatan bukan bertujuan untuk menyembuhkan, melainkan untuk mencari cara  membantu anak memanfaatkan kekuatan mereka sebaik mungkin sambil mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Anak-anak dengan autisme seringkali tampak berkembang seperti apa yang diharapkan pada anak seusia mereka.

Namun di usia 18 dan 24 bulan, mereka mungkin kehilangan beberapa keterampilan dan mengembangkan gejala autisme. Di sisi lain, perbedaan perkembangan otak ini juga mempengaruhi berbagai aspek perilaku, minat, dan aktivitas mereka. Misalnya dengan mengulangi gerakan atau suara (stimming) untuk mengatur emosi. 

2. Setiap anak dengan autisme memiliki gejala yang unik

Seorang anak sedang bermain lego
gambar seorang anak sedang bermain lego (unsplash.com/Caleb Woods)

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, gejala utisme biasanya sudah muncul sejak masih kanak-kanak. Namun berbeda dengan penyakit yang memiliki gejala tertentu, autisme pada setiap anak memiliki kombinasi gejala yang unik tergantung pada apakah gejala tersebut ringan, sedang, atau berat. Dilansir CDC, pada anak-anak gejalanya meliputi:

  • Menghindari atau tidak melakukan kontak mata.
  • Pada usia 9 bulan, anak tidak merespon ketika namanya dipanggil.
  • Tidak menunjukkan ekspresi wajah seperti senang, sedih, marah, atau terkejut.
  • Tidak dapat memainkan permainan interaktif sederhana seperti tepuk tangan pada usia 12 bulan.
  • Menggunakan sedikit atau tidak sama sekali gerakan tubuh pada usia 12 bulan. Misalnya tidak melambaikan tangan atau menunjukkan sesuatu yang menarik minat.
  • Tidak menyadari ketika orang lain terluka atau sedih di usia 2 tahun.
  • Tidak memperhatikan atau bermain dengan anak-anak seusianya saat berusia 3 tahun.

Selain itu, anak-anak dengan autisme juga memiliki minat dan perilaku yang terbatas atau berulang, meliputi:

  • Menata mainan atau benda dalam satu baris dan merasa kesal jika ada yang mengubahnya.
  • Mengulang kata atau frasa berulang kali atau yang disebut ekolalia.
  • Memainkan permainan dengan cara yang sama sepanjang waktu.
  • Berfokus pada bagian objek-objek tertentu pada mainan.
  • Mudah tersinggung pada perubahan kecil.
  • Memiliki minat yang obsesif.
  • Memiliki reaksi yang tidak biasa terhadap suara.
  • Memiliki rutinitas tertentu dan cemas ketika ada yang berubah.

3. Apakah autisme itu genetik?

Seorang perempuan  yang sedang mengandung
gambar seorang perempuan yang sedang mengandung (unsplash.com/Suhyeon Choi)

Para ahli sepakat bahwa Autism Spectrum Disorder (ASD) berkembang sebelum bayi dilahirkan. Sayangnya sampai saat ini para ahli belum menemukan penyebab pasti mengapa bayi bisa terlahir dengan kondisi ini. Dilansir Healthline, meski begitu sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor bisa membuat risiko anak terlahir dengan autisme jadi lebih besar. Lantas apakah autisme itu genetik?

Sayangnya, genetik merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko autisme pada anak. Jika seseorang memiliki saudara kandung, kembar, pasangan, atau orangtua yang autis, maka risiko mereka untuk memiliki anak dengan kondisi serupa juga jadi lebih tinggi. Bahkan jika kedua orang tuanya tidak autis, kemungkinan akan selalu ada. Selain genetik, faktor lingkungan seperti infeksi virus, obat-obatan, komplikasi selama kehamilan, hingga polusi udara, dan paparan logam juga meningkatkan risiko autisme. 

Salah satu tantangan bagi orang autisme adalah terbatasnya akses ke pendidikan dan pekerjaan. Bahkan gak sedikit yang beranggapan bahwa orang autisme tidak kompeten. Kenyataannya tingkat intelektualitas di antara orang autis sangat beragam. Memang dalam banyak kasus, orang dengan autisme seringkali membutuhkan orang lain. Namun, ada juga di antara mereka yang memiliki tingkat intelektualitas tinggi dan dapat hidup secara mandiri. 

Referensi

“Autism Spectrum Disorders.” World Health Organization (WHO). Diakses pada April 2026.

“Is Autism Genetic?” UCLA Health. Diakses pada April 2026.

“Autism (Autism Spectrum Disorder).” Cleveland Clinic. Diakses pada April 2026.

“Signs and Symptoms of Autism Spectrum Disorder.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada April 2026.

“Autism: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment.” Healthline. Diakses pada April 2026.

“Autism Risk Factors.” Healthline. Diakses pada April 2026.

“What Causes Autism?” Autism Speaks. Diakses pada April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More