Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Stres Bisa Memicu Bisul? Ini Penjelasannya
ilustrasi stres (pexels.com/www.kaboompics.com)
  • Bisul disebabkan oleh infeksi bakteri, bukan stres secara langsung.

  • Stres dapat melemahkan sistem imun dan meningkatkan risiko infeksi.

  • Perilaku saat stres (kurang tidur, kebersihan menurun) ikut berperan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini memberikan pemahaman yang menenangkan bahwa stres bukan penyebab langsung bisul, melainkan faktor yang memengaruhi daya tahan tubuh dan kebiasaan sehari-hari. Dengan penjelasan medis yang jelas, pembaca dapat melihat hubungan antara pikiran, imun, dan kulit secara lebih rasional, sehingga membuka peluang untuk menjaga kesehatan secara lebih menyeluruh dan sadar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tekanan hidup sehari-hari sering kali tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga fisik. Kulit menjadi salah satu organ yang paling cepat bereaksi terhadap kondisi tubuh yang tidak seimbang. Saat stres datang, keluhan seperti jerawat, gatal, hingga bisul kerap muncul sehingga membuat banyak orang mengaitkan keduanya.

Meski terdengar masuk akal, tetapi hubungan antara stres dan bisul tidak sesederhana sebab-akibat langsung. Ini melibatkan sistem imun, hormon, hingga kebiasaan sehari-hari.

Agar tidak salah kaprah, berikut penjelasannya supaya pemahaman kamu lebih baik.

1. Bisul disebabkan oleh infeksi bakteri

Secara medis, bisul (furunkel) adalah infeksi pada folikel rambut yang paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Infeksi ini memicu peradangan, kemerahan, nyeri, hingga terbentuknya nanah.

Faktor utama pemicu bisul adalah bakteri, bukan kondisi emosional seperti stres. Artinya, tanpa adanya infeksi, bisul tidak akan terbentuk.

2. Stres tidak langsung menyebabkan bisul

ilustrasi bisul (© DermNet — Boil in axilla)

Stres bukan penyebab langsung bisul. Namun, banyak orang mengalami bisul saat sedang stres karena tubuh berada dalam kondisi yang lebih rentan.

Stres memicu pelepasan hormon kortisol, yang dalam jangka panjang dapat menekan sistem imun. Ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri lebih mudah menginfeksi kulit, termasuk menyebabkan bisul.

3. Sistem imun melemah saat stres kronis

Penelitian menunjukkan bahwa stres kronis dapat mengganggu keseimbangan sistem imun dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.

Dalam kondisi ini, kulit sebagai pertahanan pertama tubuh tidak bekerja optimal. Luka kecil atau iritasi ringan pun lebih mudah berkembang menjadi infeksi yang lebih serius, termasuk bisul.

4. Stres memengaruhi kesehatan kulit secara keseluruhan

ilustrasi bisul (pexels.com/wayhomestudio)

Tidak hanya sistem imun, stres juga berdampak pada fungsi barrier kulit dan mikrobioma (keseimbangan bakteri baik di kulit).

Menurut penelitian, stres dapat memperburuk kondisi kulit inflamasi dan infeksi dengan mengganggu fungsi perlindungan alami kulit. Akibatnya, kulit menjadi lebih mudah iritasi, kering, dan rentan terhadap infeksi bakteri.

5. Perilaku saat stres ikut meningkatkan risiko bisul

Saat stres, banyak kebiasaan sehari-hari berubah tanpa disadari, misalnya:

  • Kurang tidur.

  • Pola makan tidak seimbang.

  • Jarang menjaga kebersihan kulit.

  • Sering menyentuh atau menggaruk kulit.

Kondisi ini bisa membuka jalan bagi bakteri untuk masuk ke dalam folikel rambut. Kombinasi antara daya tahan tubuh yang menurun dan kebersihan kulit yang kurang optimal menjadi “kombinasi sempurna” untuk munculnya bisul.

Stres memang tidak secara langsung menyebabkan bisul, tetapi perannya tetap signifikan sebagai faktor yang memperbesar risiko.

Ketika tubuh berada dalam kondisi stres berkepanjangan, sistem imun melemah dan kulit menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri. Karena itu, menjaga kesehatan kulit tidak cukup hanya dari luar. Mengelola stres, tidur cukup, serta menjaga kebersihan diri menjadi bagian penting dalam mencegah bisul dan masalah kulit lainnya.

Referensi

Mayo Clinic. “Boils and Carbuncles - Symptoms and Causes.” Diakses Maret 2026.

American Psychological Association. “Stress Effects on the Body.” Diakses Maret 2026.

Graham A. Rook, “Regulation of the Immune System by Biodiversity From the Natural Environment: An Ecosystem Service Essential to Health,” Proceedings of the National Academy of Sciences 110, no. 46 (October 23, 2013): 18360–67, https://doi.org/10.1073/pnas.1313731110.

Petra C. Arck et al., “Neuroimmunology of Stress: Skin Takes Center Stage,” Journal of Investigative Dermatology 126, no. 8 (July 17, 2006): 1697–1704, https://doi.org/10.1038/sj.jid.5700104.

Editorial Team