- Kebersihan kulit yang kurang.
- Sistem imun yang lemah.
- Gesekan atau iritasi pada kulit.
- Kondisi seperti diabetes.
Benarkah Makan Telur Bisa Memicu Bisul?

Bisul biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada folikel rambut, bukan karena makanan tertentu.
Tidak ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa makan telur secara langsung memicu bisul.
Faktor seperti kebersihan kulit, sistem imun, dan bakteri kulit lebih berperan dalam munculnya bisul.
Saat bisul muncul, beberapa orang langsung menyalahkan telur. Kepercayaan ini cukup umum di masyarakat dan tak sedikit orang yang menghindari telur ketika sedang mengalami masalah kulit.
Namun, apakah benar telur dapat menyebabkan bisul? Baca terus penjelasan medisnya di bawah ini, ya!
Table of Content
1. Penyebab bisul
Bisul atau furunkel adalah infeksi kulit akibat bakteri masuk ke dalam folikel rambut atau kelenjar minyak. Infeksi ini paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, yang sebenarnya dapat hidup secara normal di kulit manusia. Bakteri ini dapat memicu infeksi ketika masuk ke kulit melalui luka kecil, iritasi, atau folikel rambut yang tersumbat.
Ketika infeksi terjadi, tubuh merespons dengan mengirim sel imun ke area tersebut. Proses ini menyebabkan terbentuknya benjolan merah yang terasa nyeri dan berisi nanah—yang dikenal sebagai bisul.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko bisul meliputi:
2. Apakah makan telur menyebabkan bisul muncul?

Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa telur secara langsung menyebabkan bisul.
Telur justru merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mengandung berbagai nutrisi penting seperti:
- Vitamin B12.
- Vitamin D.
- Selenium.
- Kolin.
Telur merupakan bagian dari pola makan sehat jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Sebagian orang mungkin mengaitkan telur dengan bisul karena makanan berprotein tinggi dianggap “panas” dalam konsep tradisional. Namun, konsep tersebut tidak memiliki dasar biologis dalam ilmu kedokteran modern.
Penelitian menunjukkan bahwa munculnya bisul lebih berkaitan dengan faktor bakteri, kondisi kulit, serta daya tahan tubuh.
Dengan kata lain, makan telur tidak secara langsung memicu infeksi bakteri pada kulit.
3. Mengapa bisul bisa muncul setelah makan telur?
Meski telur bukan penyebab langsung bisul, tetapi ada beberapa alasan mengapa orang merasa keduanya berkaitan. Salah satunya adalah kebetulan dalam hal waktu.
Bisul butuh waktu beberapa hari untuk berkembang setelah infeksi bakteri terjadi. Ketika kamu makan telur dan kemudian muncul bisul, keduanya sering dianggap saling berkaitan.
Kemungkinan lain adalah reaksi alergi makanan. Pada sebagian kecil orang, alergi terhadap telur dapat menyebabkan ruam kulit atau peradangan. Namun, reaksi alergi biasanya menyebabkan gejala seperti ruam, gatal, dan pembengkakan kulit, bukan bisul yang berisi nanah akibat infeksi bakteri.
Alergi makanan melibatkan reaksi sistem imun terhadap protein tertentu, tetapi mekanismenya berbeda dari infeksi bakteri pada kulit. Karena itu, jika seseorang sering mengalami bisul berulang, penyebabnya kemungkinan lebih terkait dengan faktor kesehatan kulit atau sistem imun, bukan makanan tertentu.
Sudah lama telur ditunjuk sebagai penyebab bisul oleh beberapa orang. Namun, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan tersebut.
Bisul disebabkan oleh infeksi bakteri pada folikel rambut atau kelenjar minyak di kulit. Faktor seperti kebersihan kulit, luka kecil, gesekan, serta kondisi kesehatan tertentu lebih berperan dalam memicu infeksi tersebut.
Telur merupakan makanan bergizi yang mengandung protein dan berbagai nutrisi penting. Selama dikonsumsi secara wajar dan tidak menimbulkan alergi, telur tidak terbukti menyebabkan bisul.
Referensi
American Academy of Dermatology. “Boils: Overview.” Diakses Maret 2026.
Harvard T.H. Chan School of Public Health. “Eggs and Health.” Diakses Maret 2026.
National Institute of Allergy and Infectious Diseases. “Food Allergy.” Diakses Maret 2026.
Dennis L. Stevens, “Community-acquired Staphylococcus Aureus Infections: Increasing Virulence and Emerging Methicillin Resistance in the New Millennium,” Current Opinion in Infectious Diseases 16, no. 3 (June 1, 2003): 189–91, https://doi.org/10.1097/00001432-200306000-00001.
Mayo Clinic. “Boils and Carbuncles.” Diakses Maret 2026.




![[QUIZ] Tes Singkat: Siapkah Tubuhmu untuk HYROX? Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20250504/alexandre-ricart-v1przledk2m-unsplash-b55e104fb9b73f68e2f7c4bd49f5520c.jpg)


![[QUIZ] Tes Risiko Diabetes Tipe 2: Rendah, Sedang, atau Tinggi?](https://image.idntimes.com/post/20241202/ilustrasi-diabetes-a970ff60706fe274f51b797693c4c27d.png)











