Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Awas! Ada Gejala Ginjal yang Kerap Disangka Masalah Pencernaan

Awas! Ada Gejala Ginjal yang Kerap Disangka Masalah Pencernaan
ilustrasi seseorang mengalami gejala pencernaan (magnific.com/stockking)
Intinya Sih
  • Mual, muntah, hilang nafsu makan, dan perubahan rasa makanan dapat muncul ketika fungsi ginjal sudah menurun, terutama pada penyakit ginjal kronis tahap lanjut.

  • Keluhan pencernaan saja tidak cukup untuk menyimpulkan gagal ginjal. Perhatikan apakah ada perubahan urine, pembengkakan, gatal, kelelahan, atau sesak napas.

  • Fungsi ginjal perlu diperiksa melalui tes darah dan urine, bukan hanya berdasarkan gejala yang dirasakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mual, nafsu makan hilang, dan rasa makanan yang tiba-tiba rasanya tidak enak bisa dengan mudah dianggap sebagai maag, masuk angin, keracunan makanan, atau infeksi saluran pencernaan. Seseorang mungkin mencoba mengganti menu, minum obat lambung, lalu menunggu gejala hilang.

Namun, kamu perlu curiga akan hal lain yang lebih serius jika keluhan tersebut tidak kunjung reda dan disertai kaki bengkak, perubahan jumlah urine, tubuh sangat lelah, atau sesak napas. Masalahnya, penurunan fungsi ginjal juga bisa menimbulkan gejala yang terasa seperti gangguan pencernaan.

Hal yang perlu digarisbawahi, penyakit ginjal kronis sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Keluhan seperti mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan umumnya lebih menonjol ketika penyakit sudah berkembang. Gejala serupa juga dapat muncul pada cedera ginjal akut yang cukup berat.

1. Mengapa gangguan ginjal bisa menyebabkan gangguan pencernaan?

Ginjal bertugas menyaring darah serta membuang sisa metabolisme dan kelebihan cairan melalui urine. Saat fungsinya menurun drastis, berbagai zat yang seharusnya dibuang menumpuk di dalam tubuh. Kondisi klinis akibat akumulasi zat tersebut dan gangguan fungsi tubuh lainnya dikenal sebagai uremia.

Uremia tidak hanya berdampak pada saluran kemih, bisa juga memengaruhi saraf, otak, kulit, jantung, hingga sistem pencernaan. Karena itu, seseorang dapat mengalami mual, ingin muntah, kehilangan selera makan, atau merasa rasa makanan aneh.

Sebuah penelitian terhadap 695 orang dengan penyakit ginjal kronis tahap lanjut menemukan sejumlah metabolit yang berkaitan dengan gejala berupa rasa tidak enak di mulut, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah. Penelitian tersebut menunjukkan hubungan antara penumpukan senyawa tertentu dan gejala uremia, walaupun belum bisa membuktikan bahwa satu zat tertentu menjadi penyebab tunggal.

Penelitian lain yang melibatkan 3.599 pasien penyakit ginjal kronis menemukan beban gejala pencernaan cenderung meningkat ketika estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) makin rendah. Peningkatan gejala mulai terlihat jelas pada kelompok dengan eGFR di bawah 45 ml/menit/1,73 m². Angka ini memperlihatkan bahwa keluhan pencernaan tidak hanya terjadi pada tahap gagal ginjal paling akhir.

Beberapa keluhan yang dapat muncul meliputi.

  • Mual atau muntah berulang.
  • Nafsu makan menurun.
  • Cepat kenyang atau sulit menghabiskan makanan.
  • Rasa makanan berubah atau terasa tidak enak.
  • Berat badan turun tanpa direncanakan.

Keluhan tersebut sangat tidak spesifik. Maag, infeksi, efek samping obat, kehamilan, gangguan hati, dan banyak kondisi lainnya juga dapat menimbulkan gejala yang sama. Jadi, mual saja tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan seseorang mengalami gagal ginjal.

2. Perhatikan gejala lain selain yang terkait pencernaan

Seseorang mengenakan jubah mandi putih memegang betis kakinya yang tampak bengkak di samping tempat tidur di kamar tidur terang.
ilustrasi kaki bengkak (magnific.com/magnific)

Kombinasi gejala bisa menjadi petunjuk. Kemungkinan gangguan ginjal perlu dipertimbangkan ketika keluhan pencernaan disertai perubahan pada urine atau tanda penumpukan cairan.

Gejala penyerta yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Jumlah urine jauh lebih sedikit atau frekuensinya berubah.
  • Urine tampak berbusa secara terus-menerus.
  • Kaki, pergelangan kaki, tangan, atau kelopak mata membengkak.
  • Tubuh sangat lelah atau sulit berkonsentrasi.
  • Kulit kering dan gatal.
  • Kram otot.
  • Sesak napas.
  • Tekanan darah meningkat.
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.

Tidak adanya nyeri di sekitar pinggang juga tidak menyingkirkan kemungkinan penyakit ginjal. Banyak orang dengan penyakit ginjal kronis tidak merasakan gejala khas pada tahap awal, yang akhirnya kondisi tersebut baru diketahui melalui pemeriksaan darah atau urine.

Kewaspadaan perlu lebih tinggi pada orang yang memiliki diabetes, hipertensi, penyakit jantung, obesitas, riwayat cedera ginjal akut, atau anggota keluarga dengan penyakit ginjal. Faktor-faktor tersebut meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit ginjal kronis.

3. Kapan perlu cek fungsi ginjal?

Mual sesekali setelah telat makan tentu tidak otomatis menandakan gagal ginjal. Namun, sebaiknya lakukan pemeriksaan jika mual atau muntah terus berulang, nafsu makan makin buruk, berat badan menyusut, atau obat lambung tidak memperbaiki gejala, terutama jika ada faktor risiko atau gejala lain yang mengarah pada ginjal.

Dokter mungkin memeriksa kreatinin darah untuk menghitung eGFR serta rasio albumin terhadap kreatinin urine atau ACR. Pemeriksaan urine lengkap, elektrolit, dan pencitraan dapat ditambahkan sesuai kondisi pasien.

Satu hasil eGFR atau ACR yang tidak normal belum tentu menandakan penyakit ginjal kronis. Pemeriksaan umumnya perlu diulang untuk memastikan kelainan tersebut menetap, kecuali dokter mencurigai cedera ginjal akut atau kondisi darurat yang harus segera ditangani.

Segera cari pertolongan medis jika muntah sampai bikin tidak bisa minum, produksi urine sangat sedikit atau berhenti, pembengkakan memburuk dengan cepat, muncul sesak napas, nyeri dada, kebingungan, sangat mengantuk, atau kejang. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan gangguan ginjal berat maupun masalah medis serius lainnya.

Kesimpulannya, gejala gagal ginjal bisa terasa seperti gangguan pencernaan, tetapi biasanya tidak berdiri sendiri. Ketika kamu mengalami gejala pencernaan yang disertai perubahan urine, pembengkakan, dan kelelahan berat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Referensi

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “What Is Chronic Kidney Disease in Adults?,” diakses Juli 2026.

Jiun-Ruey Hu et al., “A Metabolomics Approach Identified Toxins Associated with Uremic Symptoms in Advanced Chronic Kidney Disease,” Kidney International 101, no. 2 (2022): 369–378, https://doi.org/10.1016/j.kint.2021.10.035.

Xuehan Zhang et al., “Gastrointestinal Symptoms, Inflammation and Hypoalbuminemia in Chronic Kidney Disease Patients: A Cross-Sectional Study,” BMC Nephrology 16 (2015): 211, https://doi.org/10.1186/s12882-015-0209-z.

National Kidney Foundation, “CKD Risk Factors, Testing, and Prevention,” diakses Juli 2026.

Kidney Disease: Improving Global Outcomes CKD Work Group, “KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease,” Kidney International 105, no. 4S (2024): S117–S314, diakses Juli 2026.

National Kidney Foundation, “Acute Kidney Injury: Causes, Symptoms, and Treatment,” diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More