Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Produk Stevia Tak Selalu Murni, Ini 6 Bahan yang Bisa Dicampurkan
ilustrasi seseorang memegang produk stevia (magnific.com/magnific)
  • Produk berlabel stevia bisa mengandung bahan lain untuk menambah volume, membantu tekstur, atau membuatnya mudah ditakar.

  • Bahan seperti eritritol, sorbitol, dekstrosa, dan maltodekstrin punya efek berbeda: sebagian dapat memicu keluhan pencernaan, sementara dekstrosa dan maltodekstrin menambah karbohidrat.

  • Nama bahan saja tidak cukup untuk menyimpulkan produk berbahaya. Perhatikan takaran, total karbohidrat, aturan BPOM, dan toleransi tubuh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam produk stevia, kamu mungkin melihat beberapa bahan lain dalam daftar komposisinya, seperti eritritol, sorbitol, dekstrosa, atau maltodekstrin. Bahan-bahan itu dapat membantu memberi volume dan tekstur, sehingga pemanis yang sangat pekat lebih mudah ditakar.

Pemanis meja bisa dijual dalam bentuk serbuk, tablet, atau cairan, dan formulasinya dapat mencakup pemanis intensitas tinggi, poliol, serta bahan pangan seperti karbohidrat.

Sebagai contoh, ada produk yang mencampur stevia dengan eritriol, ada yang memakai maltodekstrin atau dekstrosa, dan ada pula yang menambahkan inulin atau silika. Jadi, produk stevia belum tentu hanya berisi stevia.

Sebelum memahami bahan-bahan campurannya, penting untuk membedakan ekstrak stevia dengan steviol glikosida. Batas asupan harian menurut Komite Ahli Bersama FAO/WHO tentang Bahan Tambahan Pangan (JECFA) untuk steviol glikosida adalah 0–4 mg/kg berat badan per hari, dihitung sebagai ekuivalen steviol. Angka ini tidak otomatis berlaku untuk daun stevia utuh atau ekstrak kasar.

1. Eritritol

Eritritol adalah jenis pemanis rendah kalori yang termasuk kelompok gula alkohol (poliol). Dalam banyak produk pemanis stevia, eritritol sering ditambahkan agar tekstur dan volumenya lebih mirip gula sehingga lebih mudah digunakan.

Para ahli menetapkan batas asupan harian yang dianggap aman (acceptable daily intake/ADI) untuk eritritol sebesar 0,5 gram per kilogram berat badan per hari. Batas ini terutama ditetapkan untuk mengurangi risiko efek samping pada saluran cerna, seperti diare.

Beberapa penelitian juga meneliti kemungkinan pengaruh eritritol terhadap pembekuan darah. Dalam sebuah studi kecil yang melibatkan 20 orang sehat, konsumsi 30 gram eritritol diketahui meningkatkan aktivitas trombosit, yaitu sel darah yang berperan dalam proses pembekuan. Namun, penelitian tersebut tidak menilai apakah peserta kemudian mengalami serangan jantung, stroke, atau penyakit kardiovaskular lainnya. Karena itu, hasilnya belum dapat membuktikan bahwa eritritol menyebabkan penyakit kardiovaskular.

Dengan kata lain, bukti yang ada saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa eritritol berbahaya. Meski begitu, seperti bahan tambahan pangan lainnya, eritritol tetap sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang wajar dan tidak berlebihan.

2. Sorbitol

Sorbitol juga termasuk poliol dan dapat berfungsi sebagai pemanis sekaligus penambah tekstur. JECFA menetapkan ADI sorbitol sebagai “tidak ditentukan”, yang berarti tidak ditetapkan angka batas harian numerik berdasarkan penilaian penggunaannya sebagai bahan pangan.

Sorbitol yang tidak terserap sepenuhnya dapat menarik air ke usus. Konsumsi dalam jumlah tinggi bisa memicu kembung, sakit perut, atau diare. Tinjauan sistematis tentang poliol menemukan keluhan pencernaan cenderung meningkat seiring jumlah yang dikonsumsi. Sebagian orang dengan sindrom iritasi usus juga lebih sensitif.

3. Dekstrosa

ilustrasi dekstrosa (pexels.com/Tara Winstead)

Dekstrosa pada dasarnya adalah glukosa. Dalam beberapa produk, bahan ini berfungsi sebagai pembawa atau penambah volume agar stevia mudah ditakar. Dekstrosa bukan bahan yang otomatis berbahaya, tetapi tetap menambah karbohidrat dan dapat menaikkan gula darah.

Bagi orang yang menghitung karbohidrat, termasuk orang dengan diabetes, cek jumlah karbohidrat per sajian dan ukuran saji pada label. American Diabetes Association juga mengingatkan bahwa klaim “bebas gula” tidak selalu berarti suatu produk bebas karbohidrat.

4. Maltodekstrin

Maltodekstrin dibuat dari pati dan digunakan untuk memberi volume atau membantu produk lebih mudah dituang. Maltodekstrin yang dapat dicerna akan dipecah menjadi glukosa dan diserap tubuh. Karena itu, bahan ini dapat menambah asupan karbohidrat dan memengaruhi gula darah, bergantung pada jumlah yang dikonsumsi.

Ada juga maltodekstrin resisten, yang berbeda karena lebih sulit dicerna dan dapat berfungsi sebagai serat.

5. Inulin

Inulin adalah serat yang bisa ditambahkan untuk memberi tekstur atau menambah kandungan serat. Pada sebagian orang, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, inulin dapat menyebabkan gas dan kembung.

Tinjauan terhadap uji klinis serat pangan menunjukkan toleransi tubuh berbeda-beda menurut jenis serat dan jumlahnya. Orang yang mudah mengalami keluhan pencernaan dapat mencoba jumlah kecil terlebih dahulu dan memperhatikan reaksinya.

6. Silika, perisa, atau pemanis lain

ilustrasi pemanis (unsplash.com/Ayotunde Ikuesan)

Silika atau silikon dioksida dapat digunakan sebagai bahan antikempal agar serbuk tidak menggumpal. Penilaian EFSA pada 2024 menyimpulkan silikon dioksida tidak menimbulkan kekhawatiran keamanan pada penggunaan dan kadar yang dilaporkan, meski masih ada keterbatasan data tentang partikel berukuran nano.

Produk tertentu juga dapat memuat perisa, bahan dasar cair seperti air atau gliserin, serta pemanis lain. BPOM memasukkan pemanis meja dalam kategori pangan yang penggunaannya mengikuti ketentuan keamanan, mutu, dan pelabelan. Karena itu, baca daftar komposisi dan pilih produk dengan nomor izin edar BPOM.

Tidak ada satu daftar bahan yang otomatis “aman” atau “berbahaya” hanya dari namanya. Bahan pangan yang diizinkan dapat digunakan sesuai ketentuan, tetapi tetap bisa memiliki efek tertentu, misalnya poliol yang memicu diare atau bahan pembawa berkarbohidrat yang perlu diperhitungkan oleh orang dengan diabetes. Cek komposisi, jumlah karbohidrat per sajian, dan takaran konsumsi; kurangi atau hentikan produk jika berulang kali menimbulkan keluhan.

Referensi

Direktorat Registrasi Pangan Olahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “Pengumuman tentang Registrasi Sediaan Pemanis Cair Tetes,” diakses 30 Oktober 2026.

Splenda, “Where Do the Carbohydrates in Splenda Stevia Come From?,” diakses 30 Oktober 2026.

NOW Foods, “BetterStevia Organic Packets,” diakses 30 Oktober 2026.

Truvía, “Truvia Calorie-Free Sweetener,” diakses 30 Oktober 2026.

Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives, “Steviol Glycosides,” JECFA Database, diakses 30 Oktober 2026.

U.S. Food and Drug Administration, “High-Intensity Sweeteners,” diakses 30 Oktober 2026.

EFSA Panel on Food Additives and Flavourings, “Re-evaluation of Erythritol (E 968) as a Food Additive,” EFSA Journal 21, no. 12 (2023): e8430, https://doi.org/10.2903/j.efsa.2023.8430.

Marco Witkowski et al., “Ingestion of the Non-Nutritive Sweetener Erythritol, but Not Glucose, Enhances Platelet Reactivity and Thrombosis Potential in Healthy Volunteers—Brief Report,” Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology 44, no. 9 (2024): 2136–41, https://doi.org/10.1161/ATVBAHA.124.321019.

Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives, “Sorbitol Syrup,” JECFA Database, diakses 30 Oktober 2026.

Adrienne Lenhart and William D. Chey, “A Systematic Review of the Effects of Polyols on Gastrointestinal Health and Irritable Bowel Syndrome,” Advances in Nutrition 8, no. 4 (2017): 587–96, https://doi.org/10.3945/an.117.015560.

American Diabetes Association, “Get to Know Carbs,” diakses 30 Oktober 2026.

Denise L. Hofman, Vincent J. van Buul, and Fred J. P. H. Brouns, “Nutrition, Health, and Regulatory Aspects of Digestible Maltodextrins,” Critical Reviews in Food Science and Nutrition 56, no. 12 (2016): 2091–2100, https://doi.org/10.1080/10408398.2014.940415.

Annemarie R. Mysonhimer and Hannah D. Holscher, “Gastrointestinal Effects and Tolerance of Nondigestible Carbohydrate Consumption,” Advances in Nutrition 13, no. 6 (2022): 2237–76, https://doi.org/10.1093/advances/nmac094.

EFSA Panel on Food Additives and Nutrient Sources Added to Food, “Re-evaluation of Silicon Dioxide (E 551) as a Food Additive in Foods for Infants below 16 Weeks of Age and Follow-up of Its Re-evaluation as a Food Additive for Uses in Foods for All Population Groups,” EFSA Journal 22, no. 10 (2024): e8880, https://doi.org/10.2903/j.efsa.2024.8880.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan, https://jdih.pom.go.id/view/slide/848/11/2019/b688367d60d69eae06d9710945bf7dff.

Curated For You

Editorial Team

Related Article