Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bisakah Kanker Dideteksi dari Tinja?
ilustrasi feses atau tinja (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Tes tinja berfungsi sebagai skrining awal untuk mendeteksi tanda kanker kolorektal, bukan alat diagnosis pasti dan tidak berlaku untuk semua jenis kanker.
  • Hasil positif pada tes tinja tidak selalu berarti kanker, namun tetap perlu ditindaklanjuti dengan kolonoskopi guna memastikan penyebabnya.
  • Tes FIT, stool DNA, dan stool RNA memiliki tingkat akurasi berbeda; teknologi terbaru menunjukkan sensitivitas tinggi, tetapi hasil abnormal tetap harus dikonfirmasi dokter.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada rasa takut saat melihat darah di tinja atau mendapat hasil tes tinja yang “positif”. Pikiran biasanya langsung melompat ke kemungkinan terburuk, seperti kanker.

Tes tinja memang bisa membantu mendeteksi tanda-tanda kanker kolorektal, jenis kanker yang muncul di usus besar atau rektum. Namun, tes ini bukan alat untuk memastikan kanker dan bukan pemeriksaan untuk mendeteksi semua jenis kanker.

Tes tinja bekerja sebagai skrining. Tes ini membantu menemukan sinyal awal pada orang yang tampak sehat atau belum memiliki keluhan. Jika hasilnya mencurigakan, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Bagaimana tinja bisa memberi petunjuk?

Beberapa kanker atau polip di usus besar bisa berdarah dalam jumlah sangat kecil. Darah ini sering kali tidak terlihat oleh mata, tetapi bisa terdeteksi melalui tes seperti fecal immunochemical test (FIT) dan fecal occult blood test (FOBT).

Selain darah samar, teknologi yang lebih baru dapat mencari jejak materi genetik dari sel abnormal di tinja. Tes stool DNA mencari perubahan DNA, sementara tes stool RNA mencari penanda RNA tertentu yang dapat berkaitan dengan kanker kolorektal atau lesi prakanker.

Karena sampelnya bisa diambil dari rumah, tes tinja sering terasa lebih mudah diterima dibanding kolonoskopi. Ini penting, karena tes terbaik bukan hanya yang paling canggih, tetapi juga yang benar-benar dilakukan.

Hasil positif bukan berarti pasti kanker

Hasil tes tinja yang positif tidak otomatis berarti seseorang terkena kanker. Penyebabnya bisa wasir, luka kecil di anus, radang usus, tukak, polip, atau kondisi lain.

Namun, hasil positif tidak boleh diabaikan. Rekomendasinya, hasil tes tinja yang abnormal perlu dilanjutkan dengan kolonoskopi. Melalui kolonoskopi, dokter bisa melihat langsung bagian dalam usus besar dan rektum, mengambil sampel jaringan, bahkan mengangkat polip sebelum berkembang menjadi kanker.

Seberapa akurat tes tinja?

ilustrasi tes lab (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Akurasi setiap tes berbeda.

FIT cukup baik untuk mendeteksi kanker kolorektal, tetapi kemampuannya lebih terbatas untuk menemukan lesi prakanker. Dalam salah satu metaanalisis, FIT menunjukkan akurasi tinggi untuk kanker kolorektal, tetapi hanya sedang untuk neoplasia lanjut (tumor ganas yang sudah berkembang ke tahap lanjut).

Tes stool DNA memiliki sensitivitas lebih tinggi untuk kanker kolorektal dibanding FIT dalam sebuah studi besar. Namun, sensitivitas yang lebih tinggi bisa datang dengan konsekuensi: lebih banyak hasil positif yang tetap perlu dikonfirmasi dengan kolonoskopi.

Studi terbaru juga menilai tes stool RNA. Tes multitarget stool RNA menunjukkan sensitivitas tinggi untuk kanker kolorektal dan sensitivitas sedang untuk adenoma lanjut.

Artinya, perkembangan teknologi makin menjanjikan, tetapi prinsipnya hasil abnormal harus ditindaklanjuti.

Siapa yang perlu mempertimbangkan tes ini?

Untuk orang dengan risiko rata-rata, beberapa panduan internasional merekomendasikan skrining kanker kolorektal mulai usia 45 tahun.

Pilihannya bisa berupa tes tinja berkala atau pemeriksaan visual seperti kolonoskopi, tergantung ketersediaan, kondisi kesehatan, preferensi, dan anjuran dokter.

Namun, sebagian orang mungkin perlu skrining lebih awal atau lebih sering. Misalnya, orang dengan riwayat keluarga kanker kolorektal, riwayat polip, penyakit radang usus seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif, atau sindrom genetik tertentu.

Di luar skrining rutin, jangan menunggu usia 45 tahun jika ada gejala yang mengkhawatirkan. Segera periksa apabila ada darah pada tinja, buang air besar berubah terus-menerus, tinja makin kecil seperti pensil, nyeri perut menetap, lemas tanpa sebab, anemia, atau berat badan turun tanpa direncanakan.

Tinja memang bisa menandakan kanker, terutama kanker kolorektal. Namun, tes tinja bukan vonis dan bukan pengganti pemeriksaan dokter.

Perlu diingat bahwa hasil negatif bukan jaminan bebas kanker selamanya, sementara hasil positif bukan berarti pasti kanker, tetapi keduanya harus ditempatkan dalam konteks usia, gejala, riwayat keluarga, dan risiko pribadi.

Referensi

American Cancer Society. “Colorectal Cancer Screening Tests.” Diakses Juni 2026.

U.S. Preventive Services Task Force. “Colorectal Cancer: Screening.” Diakses Juni 2026.

National Cancer Institute. “Colorectal Cancer Screening (PDQ®)–Patient Version.” Diakses Juni 2026.

Imperiale, Thomas F., David F. Ransohoff, Steven H. Itzkowitz, et al. “Multitarget Stool DNA Testing for Colorectal-Cancer Screening.” New England Journal of Medicine 370, no. 14 (2014): 1287–1297. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1311194.

Katsoula, A., P. Paschos, E. Haidich, et al. “Diagnostic Accuracy of Fecal Immunochemical Test in Patients at Increased Risk for Colorectal Cancer: A Meta-analysis.” JAMA Internal Medicine 177, no. 8 (2017): 1110–1118.

Barnell, Erica K., Elizabeth M. Wurtzler, Julie La Rocca, et al. “Multitarget Stool RNA Test for Colorectal Cancer Screening.” JAMA 330, no. 18 (2023): 1760–1768. https://doi.org/10.1001/jama.2023.22231.

American Cancer Society. “American Cancer Society Updates Colorectal Cancer Screening Guideline.” Diakses Juni 2026.

Editorial Team

Related Article