Kandungan elektrolit sering membuat air kelapa dianggap cocok untuk mengatasi dehidrasi. Namun, komposisinya tidak sama dengan larutan rehidrasi oral atau oralit.
Penelitian terhadap anak dengan gastroenteritis ringan menemukan air kelapa muda memang mengandung glukosa dan elektrolit, tetapi komposisi elektrolitnya tidak seimbang. Para peneliti juga menyatakan air kelapa tidak cocok digunakan pada anak yang sudah mengalami dehidrasi atau mengalami gangguan fungsi ginjal.
Jadi, jika bayi mengalami diare, muntah, sulit minum, buang air kecil berkurang, tampak sangat lemas, atau menunjukkan tanda dehidrasi lainnya, air kelapa bukan pengganti penanganan medis maupun cairan rehidrasi yang direkomendasikan.
Kesimpulannya, bayi di bawah 6 bulan tidak perlu diberi air kelapa. Setelah usia 6 bulan, air kelapa bukan kebutuhan dan tidak perlu dijadikan minuman rutin. Prioritas cairan bayi tetap ASI atau susu formula, ditambah air putih setelah MPASI dimulai.
Referensi
World Health Organization, “Infant and Young Child Feeding,” accessed August 11, 2026, https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infant-and-young-child-feeding.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Bayi Sehat,” Ayo Sehat, accessed August 11, 2026, https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/category/bayi.
Robert C. Bruce and Robert M. Kliegman, “Hyponatremic Seizures Secondary to Oral Water Intoxication in Infancy: Association With Commercial Bottled Drinking Water,” Pediatrics 100, no. 6 (1997): e4, https://doi.org/10.1542/peds.100.6.e4.
Centers for Disease Control and Prevention, “Foods and Drinks to Encourage,” Infant and Toddler Nutrition, April 1, 2026, https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/foods-and-drinks/foods-and-drinks-to-encourage.html.
William Adams and D. E. Bratt, “Young Coconut Water for Home Rehydration in Children with Mild Gastroenteritis,” Tropical and Geographical Medicine 44, nos. 1–2 (1992): 149–53, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/1496708/.