Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bukan 8 Jam, Studi Temukan Durasi Tidur Ideal untuk Cegah Diabetes
ilustrasi orang tidur (pexels.com/Kampus Production)
  • Penelitian terhadap lebih dari 23.000 orang dewasa menemukan durasi tidur optimal sekitar 7 jam 18 menit untuk sensitivitas insulin.

  • Hubungan antara durasi tidur dan metabolisme berbentuk kurva U, artinya tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama sama-sama berisiko.

  • Membayar utang tidur selama hari-hari kerja di akhir pekan hanya bermanfaat bagi orang yang kurang tidur, tetapi tidur terlalu lama saat akhir pekan juga bisa berdampak negatif.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Penelitian ini memberikan pandangan positif bahwa keseimbangan tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan metabolik. Dengan menemukan durasi optimal sekitar 7 jam lebih sedikit setiap malam, studi ini membantu masyarakat memahami hubungan antara pola tidur dan sensitivitas insulin.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rutinitas sehari-hari sering bikin orang mengorbankan waktu tidurnya. Entah karena pekerjaan, layar HP, atau kebiasaan menunda istirahat. Ketika akhir pekan tiba, beberapa orang mencoba membayar "utang" tidur dengan tidur lebih lama. Namun, pola seperti ini mungkin tidak selalu baik bagi kesehatan metabolik.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa durasi tidur tertentu bisa memiliki hubungan erat dengan cara tubuh mengatur gula darah dan sensitivitas insulin.

Dipublikasikan dalam jurnal BMJ Open Diabetes Research & Care, penelitian ini menemukan bahwa tidur sekitar 7 jam 18 menit per malam mungkin adalah durasi yang paling optimal untuk menjaga metabolisme glukosa tetap sehat.

Temuan ini memberi gambaran baru bahwa tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama sama-sama dapat memengaruhi risiko diabetes.

1. Penelitian terhadap 23.000 orang temukan durasi tidur optimal

Penelitian ini menganalisis data lebih dari 23.000 orang dewasa untuk melihat hubungan antara durasi tidur pada hari kerja dengan estimated glucose disposal rate (eGDR), yaitu indikator sensitivitas insulin.

Nilai eGDR yang lebih tinggi menunjukkan tubuh lebih efektif menggunakan insulin.

Hasilnya menunjukkan pola yang cukup menarik. Hubungan antara durasi tidur dan eGDR membentuk kurva U terbalik. Artinya, ada titik optimal di tengah—sekitar 7 jam 18 menit per malam. Pada durasi ini, sensitivitas insulin cenderung paling baik.

Ketika durasi tidur lebih pendek dari titik tersebut, menambah waktu tidur justru berkaitan dengan peningkatan eGDR, yang berarti metabolisme glukosa menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika tidur lebih lama dari durasi optimal, peningkatan waktu tidur justru berkaitan dengan penurunan eGDR.

2. Kurang tidur maupun tidur terlalu lama sama-sama bermasalah

ilustrasi kurang tidur (pexels.com/cottonbro studio)

Temuan penelitian terbaru ini menegaskan bahwa hubungan antara tidur dan metabolisme tidak sesederhana “makin lama makin baik”.

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kurang tidur dapat memicu resistensi insulin. Dalam studi eksperimental, satu malam pembatasan tidur saja dapat menurunkan kemampuan tubuh memproses glukosa hingga sekitar 20 persen.

Jika kondisi ini terjadi berulang, tubuh akan makin sulit mengatur kadar gula darah. Dalam jangka panjang, ini dapat menyebabkan diabetes tipe 2.

Menariknya, tidur terlalu lama juga tidak selalu sehat. Dalam penelitian ini, efek negatif dari durasi tidur yang berlebihan terlihat lebih jelas pada perempuan serta orang usia 40–59 tahun.

3. Membayar utang tidur di akhir pekan tidak selalu efektif

Banyak orang mencoba mengganti tidur yang kurang selama hari-hari kerja dengan tidur lebih lama di akhir pekan (sering dijuluki membayar utang tidur atau weekend catch-up sleep).

Menurut penelitian ini, strategi tersebut memiliki efek yang berbeda tergantung kondisi tidur seseorang selama hari-hari kerja.

Bagi orang yang tidur kurang dari durasi optimal, tambahan tidur sekitar 1–2 jam di akhir pekan dapat membantu meningkatkan eGDR, yang berarti sensitivitas insulin menjadi lebih baik. Namun, bagi orang yang sudah tidur cukup atau bahkan lebih dari durasi optimal, tidur lebih dari 2 jam tambahan di akhir pekan justru berkaitan dengan penurunan eGDR.

Peneliti juga menekankan bahwa hubungan antara tidur dan metabolisme bersifat dua arah. Gangguan metabolik dapat memengaruhi pola tidur, dan sebaliknya, pola tidur yang buruk dapat memperburuk kesehatan metabolik.

Jadi, menurut penelitian ini, kualitas kesehatan metabolik tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga durasi tidur. Tidur sekitar 7 jam hingga lebih sedikit setiap malamnya tampaknya menjadi titik optimal yang mendukung sensitivitas insulin. Akan tetapi, ini merupakan penelitian observasional, tidak membuktikan hubungan sebab akibat.

Namun, pesan penting temuan ini: menjaga rutinitas tidur yang konsisten—tidak terlalu sedikit dan tidak berlebihan—merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat untuk mencegah gangguan metabolisme, termasuk diabetes.

Referensi

Zhanhong Fan et al., “Association of Weekday Sleep Duration and Estimated Glucose Disposal Rate: The Role of Weekend Catch-up Sleep,” BMJ Open Diabetes Research & Care 14, no. 2 (March 1, 2026): e005692, https://doi.org/10.1136/bmjdrc-2025-005692.

Editorial Team