Banyak orang mencoba mengganti tidur yang kurang selama hari-hari kerja dengan tidur lebih lama di akhir pekan (sering dijuluki membayar utang tidur atau weekend catch-up sleep).
Menurut penelitian ini, strategi tersebut memiliki efek yang berbeda tergantung kondisi tidur seseorang selama hari-hari kerja.
Bagi orang yang tidur kurang dari durasi optimal, tambahan tidur sekitar 1–2 jam di akhir pekan dapat membantu meningkatkan eGDR, yang berarti sensitivitas insulin menjadi lebih baik. Namun, bagi orang yang sudah tidur cukup atau bahkan lebih dari durasi optimal, tidur lebih dari 2 jam tambahan di akhir pekan justru berkaitan dengan penurunan eGDR.
Peneliti juga menekankan bahwa hubungan antara tidur dan metabolisme bersifat dua arah. Gangguan metabolik dapat memengaruhi pola tidur, dan sebaliknya, pola tidur yang buruk dapat memperburuk kesehatan metabolik.
Jadi, menurut penelitian ini, kualitas kesehatan metabolik tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga durasi tidur. Tidur sekitar 7 jam hingga lebih sedikit setiap malamnya tampaknya menjadi titik optimal yang mendukung sensitivitas insulin. Akan tetapi, ini merupakan penelitian observasional, tidak membuktikan hubungan sebab akibat.
Namun, pesan penting temuan ini: menjaga rutinitas tidur yang konsisten—tidak terlalu sedikit dan tidak berlebihan—merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat untuk mencegah gangguan metabolisme, termasuk diabetes.
Referensi
Zhanhong Fan et al., “Association of Weekday Sleep Duration and Estimated Glucose Disposal Rate: The Role of Weekend Catch-up Sleep,” BMJ Open Diabetes Research & Care 14, no. 2 (March 1, 2026): e005692, https://doi.org/10.1136/bmjdrc-2025-005692.