Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Cuma Heatstroke, Cuaca Panas Juga Bisa Memicu Stroke
ilustrasi cuaca panas (unsplash.com/Şahin Sezer Dinçer)
  • Cuaca panas tidak otomatis menyebabkan stroke, tetapi dapat menjadi pemicu jangka pendek pada orang yang rentan.

  • Berkeringat berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi, perubahan tekanan darah, ketidakseimbangan elektrolit, dan darah menjadi lebih pekat.

  • Saat cuaca panas, kurangi aktivitas berat, cukupi cairan, cari tempat sejuk, dan jangan mengubah obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cuaca yang sangat panas biasanya dikeluhkan bikin gerah, keringat berlebih, dan cepat lelah. Setelah minum atau masuk ke ruangan ber-AC, masalah dianggap selesai.

Akan tetapi, bagi orang dengan faktor risiko tertentu, tekanan panas efeknya bisa lebih serius. Ini karena tubuh harus bekerja keras untuk melepaskan panas, sementara banyak cairan hilang melalui keringat. Kombinasi ini dapat membebani sistem jantung dan pembuluh darah serta, pada kondisi tertentu, memicu stroke.

1. Cuaca panas tidak langsung menyebabkan stroke

Stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak tersumbat atau pembuluh darah di otak pecah. Cuaca panas bukan penyebab tunggal stroke seperti hipertensi, fibrilasi atrium, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok. Namun, panas ekstrem bisa menjadi pemicu akut pada orang yang sudah rentan.

Bukti ilmiahnya belum sepenuhnya konsisten. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 23 penelitian menemukan bahwa hubungan suhu dan stroke dapat berbeda menurut usia, kondisi kesehatan, wilayah, serta jenis stroke. Beberapa penelitian menemukan peningkatan risiko pada suhu tinggi, sedangkan penelitian lain menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan suhu rendah.

Meskipun demikian, sejumlah penelitian terbaru menemukan pola yang patut diperhatikan. Studi terhadap 82.455 pasien stroke iskemik akut di China menunjukkan bahwa risiko munculnya stroke meningkat seiring kenaikan suhu. Dibandingkan suhu 12,1 derajat Celsius, paparan suhu ekstrem 33,3 derajat Celsius berkaitan dengan peluang stroke iskemik yang lebih tinggi dalam rentang waktu hingga 10 jam setelah paparan.

Penelitian lain terhadap 11.037 kasus stroke di Jerman menemukan bahwa malam yang sangat panas berkaitan dengan kenaikan risiko stroke sekitar 7 persen. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah para peneliti memperhitungkan suhu maksimum pada siang hari dan faktor cuaca lain. Risiko tampak lebih tinggi pada lansia dan perempuan, tetapi hasil ini belum tentu berlaku sama di semua wilayah dan iklim.

Artinya, cuaca panas tidak membuat orang langsung terkena stroke. Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa panas merupakan satu-satunya penyebab. Namun, hasilnya mendukung dugaan bahwa panas dapat menjadi tekanan tambahan yang memicu kejadian pada orang yang sudah memiliki kerentanan pembuluh darah.

2. Mengapa panas dapat meningkatkan risiko?

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Alina Zhabynska)

Saat suhu lingkungan meningkat, pembuluh darah di kulit melebar agar tubuh dapat melepaskan panas. Ini membuat jantung harus memompa lebih banyak darah ke permukaan kulit, sementara keringat mengeluarkan cairan dan elektrolit dari tubuh. Kondisi ini dapat meningkatkan beban pada jantung dan memengaruhi tekanan darah.

Apabila cairan yang hilang tidak segera diganti, volume darah dapat berkurang dan darah menjadi lebih pekat. Secara biologis, keadaan tersebut berpotensi mempermudah pembentukan gumpalan yang dapat menyumbat pembuluh darah otak dan menyebabkan stroke iskemik. Tekanan panas juga dapat memicu peradangan, gangguan fungsi lapisan pembuluh darah, dan ketidakseimbangan elektrolit. Namun, mekanisme ini masih terus dipelajari.

Panas juga dapat memperburuk kondisi yang sudah ada, seperti gagal jantung, gangguan irama jantung, diabetes, dan penyakit ginjal. Cuaca panas yang disertai polusi udara tinggi dapat menambah beban karena partikel polusi juga berkaitan dengan peningkatan kejadian kardiovaskular dan stroke.

Kelompok yang perlu lebih berhati-hati meliputi:

  • Lansia.

  • Orang yang pernah mengalami stroke atau serangan iskemik sementara.

  • Orang dengan hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau penyakit jantung.

  • Orang dengan fibrilasi atrium.

  • Orang yang bekerja atau berolahraga di luar ruangan.

  • Orang yang sulit mengakses tempat sejuk.

  • Pengguna obat yang memengaruhi tekanan darah, keringat, atau keseimbangan cairan.

Obat diuretik dan beberapa obat untuk penyakit jantung atau tekanan darah dapat meningkatkan kepekaan tubuh terhadap panas. Namun, obat tidak boleh dihentikan atau dikurangi sendiri. Konsultasikan kepada dokter mengenai kebutuhan cairan dan penggunaan obat ketika cuaca sangat panas, terutama jika kamu juga memiliki gagal jantung atau penyakit ginjal.

3. Cara melindungi diri ketika cuaca panas

Kebutuhan cairan dipengaruhi ukuran tubuh, aktivitas, suhu, kehamilan, serta kondisi jantung dan ginjal. Minumlah secara berkala dan jangan menunggu hingga sangat haus, kecuali dokter memang membatasi asupan cairanmu.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Kurangi aktivitas berat saat cuaca panas.

  • Pindahkan waktu olahraga ke pagi atau sore hari.

  • Beristirahat secara berkala di tempat teduh atau sejuk.

  • Gunakan pakaian ringan dan mudah menyerap keringat.

  • Bawa air ketika bepergian.

  • Batasi alkohol karena dapat memperburuk dehidrasi.

  • Periksa prakiraan cuaca dan kualitas udara.

  • Pastikan lansia atau orang yang tinggal sendiri tetap dapat mengakses cairan dan tempat sejuk.

Panas juga dapat menyebabkan heat exhaustion dan heatstroke, tetapi heatstroke berbeda dari stroke otak.

Heatstroke terjadi ketika suhu tubuh meningkat berbahaya dan kemampuan tubuh mengendalikan panas gagal. Tandanya dapat berupa kulit sangat panas, kebingungan, pingsan, denyut nadi cepat, dan suhu tubuh tinggi. Ini adalah kondisi kegawatdaruratan medis.

Sementara itu, gejala stroke biasanya muncul mendadak. Gunakan prinsip BE FAST:

  • B – Balance: tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

  • E – Eyes: penglihatan mendadak terganggu.

  • F – Face: salah satu sisi wajah turun.

  • A – Arm: satu lengan lemah atau mati rasa.

  • S – Speech: bicara pelo atau sulit berbicara.

  • T – Time: segera cari pertolongan darurat.

Jangan menunggu gejala hilang, mencoba tidur, atau sekadar memberikan minuman. Catat waktu gejala pertama kali terlihat dan segera bawa orang tersebut ke IGD atau hubungi layanan kegawatdaruratan. Penanganan stroke sangat bergantung pada waktu.

Cuaca panas bukan penyebab tunggal stroke. Namun, panas dapat menjadi tekanan tambahan ketika tubuh sudah menghadapi dehidrasi, gangguan irama jantung, hipertensi, atau penyakit pembuluh darah.

Perlindungan terbaik adalah mengurangi paparan, menjaga cairan sesuai kondisi tubuh, mengontrol faktor risiko, dan mengenali gejala stroke dan tahu kapan harus bertindak cepat.

Referensi

World Health Organization, “Heat and Health,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Overview of Heat and Cardiovascular Disease,” diakses Juli 2026.

Nathan Danh et al., “Association between Ambient Temperature and Stroke Risk in High-Risk Populations: A Systematic Review,” Frontiers in Neurology 14 (2024): 1323224, https://doi.org/10.3389/fneur.2023.1323224.

Xiaoyan Zhu et al., “Hourly Heat Exposure and Acute Ischemic Stroke,” JAMA Network Open 7, no. 2 (2024): e240627, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2024.0627.

Cheng He et al., “Nocturnal Heat Exposure and Stroke Risk,” European Heart Journal 45, no. 24 (2024): 2158–2167, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae277.

American Heart Association, “Protect Your Heart in the Heat,” diakses Juli 2026.

American Stroke Association, “B.E. F.A.S.T. Materials,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “About Stroke,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article