Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Dampak Obesitas pada Kesehatan Reproduksi Perempuan
ilustrasi perempuan (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Jaringan lemak ikut menghasilkan dan memengaruhi hormon. Pada obesitas, perubahan insulin, androgen, estrogen, dan adipokin dapat mengganggu siklus menstruasi serta ovulasi.

  • Obesitas dikaitkan dengan peluang kehamilan alami yang lebih rendah, respons terhadap terapi kesuburan yang kurang optimal, serta peningkatan risiko keguguran.

  • Penanganan tidak sekadar mengejar angka timbangan. Kondisi menstruasi, usia, PCOS, metabolisme, rencana kehamilan, dan waktu yang tersedia untuk menjalani terapi kesuburan perlu dinilai bersama.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Obesitas tidak hanya berkaitan dengan diabetes dan penyakit jantung. Jaringan lemak merupakan jaringan metabolik dan endokrin aktif yang ikut memengaruhi insulin, hormon reproduksi, peradangan, serta sinyal antara otak dan ovarium. Ketika jumlah dan distribusi jaringan lemak berlebihan, sistem reproduksi juga dapat terdampak.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa mencapai 23,4 persen, meningkat dari 21,8 persen pada 2018.

Pada perempuan, berikut ini dampak dari obesitas terhadap kesehatan reproduksi.

1. Siklus menstruasi dan ovulasi bisa terganggu

Ovulasi bergantung pada komunikasi yang teratur antara otak, kelenjar pituitari, dan ovarium. Obesitas dapat mengganggu sistem ini melalui beberapa jalur sekaligus.

Obesitas abdominal sering berkaitan dengan resistansi insulin. Tubuh kemudian menghasilkan lebih banyak insulin untuk menjaga gula darah tetap terkendali. Di ovarium, insulin yang tinggi dapat mendorong produksi androgen, sementara hati menghasilkan lebih sedikit sex hormone-binding globulin (SHBG) sehingga lebih banyak androgen berada dalam bentuk bebas. Jaringan lemak juga memengaruhi estrogen, leptin, dan sejumlah mediator peradangan.

Dampaknya dapat berupa menstruasi tidak teratur, jarang menstruasi, atau tidak terjadi ovulasi pada beberapa perempuan.

American Society for Reproductive Medicine (ASRM) melaporkan bahwa berbagai penelitian menemukan gangguan siklus menstruasi pada sekitar 30–36 persen perempuan dengan obesitas, meski angkanya sangat bervariasi antarpenelitian. Sebuah studi kasus-kontrol juga menemukan risiko infertilitas akibat tidak berovulasi sekitar 2,4 kali lebih tinggi pada perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 27 kg/m² setelah memperhitungkan usia dan aktivitas fisik.

Namun, obesitas tidak selalu menyebabkan gangguan ovulasi. Banyak perempuan dengan obesitas tetap mengalami menstruasi teratur dan bisa hamil.

2. Hubungannya dengan PCOS cukup erat, tetapi keduanya tidak sama

Obesitas dan polycystic ovary syndrome (PCOS) sering muncul bersamaan sehingga keduanya mudah dianggap sebagai masalah yang sama.

Padahal, obesitas tidak identik dengan PCOS. Perempuan bertubuh kurus dapat mengalaminya, sementara banyak perempuan dengan obesitas tidak memilikinya.

PCOS merupakan gangguan hormonal dan metabolik yang dapat menyebabkan androgen berlebih, ovulasi tidak teratur, menstruasi jarang, dan infertilitas. PCOS diperkirakan terjadi pada sekitar 10–13 persen perempuan usia reproduksi.

Ketika PCOS dan obesitas terjadi bersamaan, resistansi insulin dan gangguan hormonal bisa lebih berat, bisa makin menyulitkan perkembangan folikel dan terjadinya ovulasi. Penurunan berat badan pada perempuan dengan obesitas dan gangguan ovulasi dapat membantu memperbaiki keteraturan menstruasi serta meningkatkan peluang ovulasi.

Karena itu, menstruasi yang berantakan tidak sebaiknya langsung dianggap hanya akibat berat badan. PCOS, gangguan tiroid, hiperprolaktinemia, serta penyebab lainnya perlu dipertimbangkan.

3. Peluang hamil dan respons terapi kesuburan dapat menurun

ilustrasi testpack (pexels.com/cottonbro studio)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan obesitas sebagai salah satu faktor gaya hidup yang dikaitkan dengan meningkatnya kemungkinan infertilitas.

Penelitian menunjukkan obesitas dapat memengaruhi lingkungan folikel tempat sel telur berkembang, fungsi sel telur, serta kemungkinan endometrium menerima embrio.

Meski sebagian mekanismenya masih terus dipelajari, tetapi data klinis menunjukkan bahwa peningkatan IMT berkaitan dengan menurunnya peluang kehamilan alami dan beberapa hasil terapi kesuburan.

Pada program IVF, perempuan dengan obesitas secara rata-rata juga dapat membutuhkan dosis obat stimulasi ovarium lebih tinggi, menghasilkan lebih sedikit sel telur pada stimulasi tertentu, serta memiliki tingkat implantasi dan kelahiran hidup yang lebih rendah.

Namun, ada dua catatan penting.

Pertama, sebagian besar perempuan dengan obesitas tetap subur. Obesitas merupakan faktor risiko, bukan diagnosis infertilitas.

Kedua, menunda IVF hanya untuk menurunkan berat badan tidak selalu meningkatkan hasil. Metaanalisis tahun 2024 menemukan bahwa program penurunan berat badan sebelum IVF pada perempuan dengan overweight atau obesitas belum terbukti meningkatkan angka kelahiran hidup.

ASRM juga mengingatkan bahwa pada perempuan yang lebih tua, penundaan terapi dapat merugikan karena usia memiliki pengaruh lebih besar terhadap kesuburan dibandingkan IMT.

4. Risiko keguguran juga sedikit meningkat

Obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko kehilangan kehamilan, meskipun besarnya tidak ekstrem dan berbagai faktor lain ikut berperan.

Sebuah metaanalisis yang dirangkum ASRM menemukan perempuan dengan obesitas memiliki kemungkinan keguguran sekitar 1,3 kali lebih tinggi pada kehamilan alami.

Hubungan serupa juga ditemukan pada sebagian penelitian kehamilan yang diperoleh melalui teknologi reproduksi berbantu.

Mengapa? Penyebabnya kemungkinan tidak tunggal. Resistansi insulin, peradangan kronis tingkat rendah, perubahan leptin, metabolisme lemak, kualitas sel telur, serta perubahan lingkungan endometrium sedang diteliti sebagai kemungkinan mekanisme.

Keguguran mempunyai banyak penyebab, dan kelainan kromosom pada embrio merupakan salah satu penyebab terpenting pada tahap kehamilan awal.

5. Dampaknya berlanjut ketika kehamilan sudah terjadi

Perempuan yang memasuki kehamilan dengan obesitas mempunyai risiko lebih tinggi mengalami diabetes gestasional, hipertensi dan preeklamsia, persalinan sesar, serta beberapa komplikasi pada bayi.

Metaanalisis terhadap 19 studi menemukan bahwa, dibandingkan perempuan dengan berat badan normal tanpa diabetes gestasional, obesitas sendiri dikaitkan dengan odds sekitar tiga kali lebih tinggi untuk preeklamsia dan lebih dari dua kali untuk persalinan caesar. Besarnya risiko pada setiap individu tetap dipengaruhi kondisi lain seperti hipertensi, diabetes, usia, dan riwayat kehamilan.

Itulah kenapa pengelolaan obesitas idealnya dimulai dari sebelum hamil, sementara saat sudah hamil fokusnya adalah memenuhi kebutuhan gizi, tetap aktif secara aman, dan menjaga kenaikan berat badan kehamilan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Apa yang bisa dilakukan?

ilustrasi konsultasi dengan dokter (pexels.com/ MART PRODUCTION)

Tidak semua masalah reproduksi pada perempuan dengan obesitas akan membaik hanya dengan menurunkan berat badan. Pendekatan yang lebih tepat adalah mencari masalah yang benar-benar terjadi.

Jika menstruasi konsisten lebih pendek dari 21 hari, lebih panjang dari 35 hari, sering tidak datang, atau muncul perdarahan tidak biasa, pemeriksaan dapat membantu mencari gangguan ovulasi, PCOS, tiroid, atau penyebab lain.

ASRM juga menganjurkan evaluasi infertilitas tanpa menunggu 12 bulan jika siklus menstruasi sudah diketahui tidak teratur.

Bagi yang sedang merencanakan kehamilan, pemeriksaan prakonsepsi dapat mencakup tekanan darah, gula darah, obat yang sedang digunakan, pola menstruasi, dan faktor reproduksi pasangan.

Pengelolaan berat badan dapat dilakukan dengan kombinasi pola makan, aktivitas fisik, terapi perilaku, dan pada kondisi tertentu obat atau tindakan medis bersama tenaga kesehatan.

Jika tidak ada faktor risiko khusus, evaluasi infertilitas umumnya dianjurkan setelah 12 bulan mencoba hamil pada perempuan di bawah 35 tahun dan setelah 6 bulan pada usia 35 tahun atau lebih. Pada usia di atas 40 tahun atau terdapat kondisi yang diketahui memengaruhi kesuburan, evaluasi dapat dilakukan lebih cepat.

Referensi

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, “Hasil Utama SKI 2023,” Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, diakses 1 Agustus 2026.

Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine, “Obesity and Reproduction: A Committee Opinion,” Fertility and Sterility 116, no. 5 (2021): 1266–85, diakses 1 Agustus 2026.

Silvana Silvestris et al., “Obesity as Disruptor of the Female Fertility,” Reproductive Biology and Endocrinology 16 (2018): 22, https://doi.org/10.1186/s12958-018-0336-z.

World Health Organization, “Polycystic Ovary Syndrome,” diakses 1 Agustus 2026.

World Health Organization, “Infertility,” diakses 1 Agustus 2026.

Hye Gyeong Jeong et al., “Effect of Weight Loss before In Vitro Fertilization in Women with Obesity or Overweight and Infertility: A Systematic Review and Meta-analysis,” Scientific Reports 14 (2024): 6153, https://doi.org/10.1038/s41598-024-56818-4.

World Health Organization, “Pre-eclampsia,” diakses 1 Agustus 2026.

Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine, “Fertility Evaluation of Infertile Women: A Committee Opinion,” Fertility and Sterility 116, no. 5 (2021): 1255–65, diakses 1 Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article