Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: Terlalu Kurus Bisa Sama Berbahayanya dengan Obesitas

Studi: Terlalu Kurus Bisa Sama Berbahayanya dengan Obesitas
ilustrasi pria berbadan kurus (pexels.com/Ron Lach)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Lemak tubuh bukan sekadar cadangan energi, tetapi organ aktif yang membantu mengatur metabolisme, hormon, dan penyimpanan lemak.

  • Kehilangan lemak terlalu banyak dapat memicu diabetes, resistensi insulin, hati berlemak, dan peradangan, bahkan pada orang yang terlihat kurus.

  • Studi baru menemukan bahwa saat sel lemak rusak, terjadi gangguan besar pada fungsi mitokondria, metabolisme lemak, dan sistem imun.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orang takut pada lemak, menganggap makin sedikit lemak di tubuh, makin sehat seseorang. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Lemak memang bisa menjadi masalah jika jumlahnya terlalu banyak, tetapi terlalu sedikit lemak dampaknya juga bisa sama serius.

Di dalam tubuh, jaringan lemak atau adiposa bukan sekadar tempat menimbun kalori. Lemak bekerja seperti organ aktif yang membantu menyimpan energi, mengatur hormon, menjaga suhu tubuh, mendukung sistem imun, dan membantu metabolisme tetap stabil. Saat jaringan lemak rusak atau hilang, tubuh kehilangan salah satu sistem penting yang menjaga keseimbangan tersebut.

Table of Content

Lemak tubuh yang sehat justru melindungi metabolisme

Lemak tubuh yang sehat justru melindungi metabolisme

Selama ini, obesitas sering dikaitkan dengan diabetes, penyakit jantung, dan penyakit hati berlemak. Hubungan itu memang nyata. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa kehilangan lemak dalam jumlah besar juga dapat memicu masalah yang hampir sama.

Hal ini terlihat pada kondisi langka bernama familial partial lipodystrophy type 2 (FPLD2). Pada kondisi ini, tubuh kehilangan lemak di beberapa area seperti lengan, kaki, dan batang tubuh, tetapi lemak justru menumpuk di bagian lain seperti wajah, leher, atau perut bagian dalam. Meski terlihat kurus di beberapa bagian tubuh, tetapi orang dengan FPLD2 justru berisiko mengalami diabetes, trigliserida tinggi, resistansi insulin, dan gangguan metabolik lain.

Para peneliti menemukan, masalah utamanya bukan hanya jumlah lemak yang berkurang, melainkan karena jaringan lemak tidak lagi mampu menyimpan dan mengolah lemak dengan baik. Akibatnya, lemak “bocor” ke organ lain seperti hati, otot, dan pankreas. Kondisi ini dapat mengganggu cara tubuh menggunakan insulin dan meningkatkan risiko penyakit metabolik.

Saat sel lemak rusak, dampaknya menyebar ke seluruh tubuh

Ilustrasi pria obesitas.
ilustrasi pria mengalami obesitas (vecteezy.com/Volodymyr Ivash)

Studi terbaru dari para peneliti di Universitas Michigan, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pada FPLD2, sel lemak mengalami kerusakan besar di tingkat molekuler. Para peneliti mempelajari delapan keluarga dengan mutasi gen LMNA, gen yang berperan dalam menjaga struktur inti sel.

Mereka menemukan bahwa sel lemak pada penderita FPLD2 tidak hanya mengecil dan hilang, tetapi juga mengalami gangguan fungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang menghasilkan energi. Jalur metabolisme lemak ikut menurun, sementara jalur peradangan justru meningkat. Dengan kata lain, jaringan lemak berubah menjadi lingkungan yang tidak sehat dan tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

Menariknya, para peneliti juga melihat bahwa sel-sel imun di sekitar jaringan lemak ikut berubah menjadi lebih proinflamasi. Ini berarti kerusakan lemak tidak hanya memengaruhi sel lemak itu sendiri, tetapi juga menciptakan reaksi berantai yang memicu peradangan di seluruh tubuh. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak, dan gangguan kardiometabolik lain.

Salah satu temuan paling penting dari studi ini adalah penurunan kadar hormon leptin dan adiponektin pada penderita FPLD2. Kedua hormon ini diproduksi oleh jaringan lemak dan memiliki peran penting dalam mengatur rasa lapar, sensitivitas insulin, dan metabolisme energi. Saat jumlahnya menurun, tubuh menjadi lebih sulit mengendalikan gula darah dan penggunaan energi.

Kurus tidak selalu berarti sehat

Banyak orang berpikir bahwa selama berat badan turun dan tubuh terlihat ramping, otomatis tubuh lebih sehat. Padahal, tubuh yang terlalu kurus atau kehilangan lemak terlalu banyak juga bisa menyimpan masalah tersembunyi.

Dalam studi tersebut, orang dengan FPLD2 yang mengalami kehilangan lemak berat memiliki kadar hemoglobin A1c yang lebih tinggi, trigliserida lebih tinggi, kadar asam lemak bebas yang meningkat, dan kontrol gula darah yang lebih buruk. Mereka juga mengalami penurunan kadar leptin dan adiponektin, dua hormon yang sangat penting untuk kesehatan metabolik.

Para peneliti bahkan menemukan bahwa beberapa orang mulai mengalami gangguan metabolik sebelum kehilangan lemak terlihat jelas secara fisik. Artinya, tubuh bisa saja sudah mengalami masalah di tingkat sel dan hormon jauh sebelum seseorang menyadarinya.

Karena itu, menilai kesehatan hanya dari angka timbangan atau ukuran tubuh bisa menyesatkan. Ada orang dengan tubuh besar tetapi metaboliknya masih relatif baik, dan ada juga orang yang terlihat sangat kurus tetapi sebenarnya mengalami resistensi insulin, hati berlemak, atau gangguan hormon.

Tubuh membutuhkan lemak dalam jumlah yang cukup, bukan berlebihan dan bukan terlalu sedikit. Lemak yang sehat membantu menyimpan energi dengan aman, memproduksi hormon, menjaga metabolisme, dan melindungi organ-organ penting.

Penelitian ini mengingatkan bahwa tujuan kesehatan bukanlah menghilangkan lemak sebanyak mungkin, melainkan menjaga jaringan lemak tetap sehat dan berfungsi dengan baik. Tubuh yang terlalu kekurangan lemak bisa sama rentannya dengan tubuh yang kelebihan lemak.

Referensi

Baris Akinci, Merve Celik Gular, and Elif A. Oral, “Lipodystrophy Syndromes: Presentation and Treatment,” Endotext - NCBI Bookshelf, August 21, 2024, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513130/.

Claudia Gonzaga-Jauregui et al., “Clinical and Molecular Prevalence of Lipodystrophy in an Unascertained Large Clinical Care Cohort,” Diabetes 69, no. 2 (December 13, 2019): 249–58, https://doi.org/10.2337/db19-0447.

Koini Lim et al., “Lipodystrophy: A Paradigm for Understanding the Consequences of ‘Overloading’ Adipose Tissue,” Physiological Reviews 101, no. 3 (December 24, 2020): 907–93, https://doi.org/10.1152/physrev.00032.2020.

Jessica N. Maung et al., “Altered Lipid Metabolism and Inflammatory Programs Associate With Adipocyte Loss in Familial Partial Lipodystrophy 2,” Journal of Clinical Investigation 136, no. 1 (November 11, 2025), https://doi.org/10.1172/jci198387.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More